Banyak Masalah MBG di Tasikmalaya, APH Jangan Diam Saja

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tasikmalaya kembali menuai sorotan. Kali ini kritik datang dari Ketua Gerakan Mahasiswa Kota Tasikmalaya (GMKT), Asep Kustiana atau akrab disapa Aska. Ia menegaskan bahwa berbagai masalah yang terjadi di lapangan tidak boleh dianggap sepele, bahkan sebagian sudah mengarah pada indikasi pelanggaran hukum yang memerlukan perhatian aparat penegak hukum (APH).
Aska mengungkapkan, dirinya bersama rekan-rekan di GMKT banyak menerima laporan dari bawah terkait implementasi MBG di Tasikmalaya, baik di tingkat kota maupun kabupaten. Dari hasil pengumpulan informasi tersebut, sejumlah persoalan mencuat yang dinilai cukup serius.
“Banyak masalah MBG di Tasikmalaya yang kami temukan. Para guru, orang tua, bahkan siswa sendiri sering mengeluhkan pelaksanaan program ini. Jangan sampai program yang niatnya baik justru menjadi beban dan menimbulkan kekecewaan,” ujar Aska.
Keluhan Guru dan Distribusi yang Tidak Tepat Waktu
Salah satu persoalan yang menonjol adalah jadwal distribusi MBG yang kerap tidak tepat. Menurut laporan, tidak jarang makanan datang saat jam belajar berlangsung, bukan pada jam istirahat. Kondisi ini membuat jam pelajaran tersita, sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
Lebih jauh, guru yang seharusnya fokus pada tugas mengajar justru ikut repot membantu mendistribusikan makanan dari mobil MBG ke siswa. “Padahal tugas guru itu sudah sangat padat. Tidak semestinya mereka harus menambah beban dengan mengurusi distribusi MBG,” kata Aska menambahkan.
Menu Dinilai Seadanya dan di Bawah Standar
Keluhan lain datang dari kualitas menu yang dibagikan. Sejumlah pihak menilai porsi dan variasi makanan terlihat seadanya, bahkan jika dihitung nominalnya, nilainya berada di bawah standar anggaran MBG yang seharusnya.
“Ini sudah masuk ranah serius. Kalau benar menu yang dibagikan tidak sesuai dengan nilai anggaran, berarti ada indikasi masalah hukum. Hal ini harus diawasi dan ditindaklanjuti oleh APH,” tegas Aska.
Distribusi Terlambat dan Makanan Mubazir
Tidak hanya itu, ada laporan bahwa distribusi MBG di beberapa sekolah datang sangat terlambat, bahkan hingga menjelang pukul tiga sore. Akibatnya, murid sudah pulang dan makanan terpaksa terbuang percuma.
Selain keterlambatan, kualitas makanan yang dianggap kurang enak juga membuat banyak siswa enggan menghabiskan jatahnya. Hal ini menimbulkan penumpukan sisa makanan yang pada akhirnya mubazir.
GMKT Siapkan Bukti untuk Dilaporkan ke APH
Dengan berbagai temuan tersebut, GMKT menilai bahwa masalah MBG di Tasikmalaya tidak boleh dibiarkan berlarut. Menurut Aska, aparat penegak hukum harus proaktif mengawal pelaksanaan program, karena beberapa persoalan sudah berpotensi masuk ranah pidana.
“Kami tidak ingin program ini hanya menjadi proyek asal jalan, tanpa kontrol. Saat ini kami sedang menyusun bukti-bukti dari laporan yang masuk, untuk kemudian dijadikan bahan pelaporan resmi kepada pihak APH,” ujarnya.
Aska menegaskan, GMKT tidak menolak program MBG. Sebaliknya, mereka mendukung penuh niat baik pemerintah untuk meningkatkan gizi siswa. Namun ia meminta agar pelaksanaannya benar-benar sesuai aturan dan tepat sasaran, bukan justru menjadi ladang masalah baru.
“APH jangan diam saja. Kalau ada dugaan penyimpangan, harus ditindak. Ini menyangkut hak anak-anak didik kita dan uang negara,” pungkas Aska. (Lintas Priangan/AA)



