Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan penghormatan santri kepada kiai atau ajengan sebagai bentuk adab, bukan feodalisme.
Cinta yang Bukan Asmara: Makna Ketundukan Santri yang Salah Dimengerti
lintaspriangan.com, OPINI – Di tengah derasnya arus kritik terhadap lembaga pendidikan tradisional, sebagian orang menilai pesantren sebagai ruang konservatif yang memelihara budaya feodal. Santri yang mencium tangan kiai disebut tidak setara. Murid yang menunduk di hadapan gurunya dianggap kehilangan daya kritis. Padahal, bagi para santri, sikap itu adalah bentuk Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut—sebuah adab, bukan penaklukan.
Tradisi penghormatan kepada guru sudah berakar dalam warisan keilmuan Islam klasik. Dalam khazanah pesantren, kiai bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing spiritual dan penjaga moral masyarakat. Relasi santri dan kiai bukan hierarki kekuasaan, melainkan hubungan murid dan mursyid yang dilandasi cinta, keikhlasan, dan tanggung jawab moral.
Di banyak pesantren besar seperti Lirboyo, Tebuireng, atau Sarang, para santri tumbuh dengan tradisi mencium tangan guru. Gestur ini bukan simbol tunduk pada manusia, tetapi ekspresi penghormatan terhadap ilmu. Sebab, sebagaimana ungkapan para ulama, “Barang siapa menghormati guru, maka ia akan diberi keberkahan ilmu.”
Antara Adab dan Tuduhan Feodalisme
Pandangan bahwa pesantren mempraktikkan feodalisme lahir dari kacamata modern yang menilai segala relasi secara politis. Dalam paradigma itu, ketundukan dianggap sebagai bentuk penindasan. Namun, dalam konteks pesantren, tunduk adalah wujud kerendahan hati untuk menerima ilmu.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” menegaskan bahwa ketundukan santri kepada kiai bukan hasil paksaan, melainkan buah dari kesadaran spiritual. Santri menghormati kiai karena menyadari betapa sulitnya menjaga ilmu agar tetap hidup. Di pesantren, penghormatan adalah jalan pembentukan karakter.
Fenomena santri yang patuh kepada guru sering kali disalahartikan oleh pihak luar. Padahal, justru karena kedekatan spiritual itulah pesantren mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus beradab. Sebagaimana diungkapkan oleh KH. Maimoen Zubair semasa hidupnya, “Santri itu tidak hanya mencari ilmu, tapi mencari ridha.”
Dalam pandangan itu, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ruang pembentukan watak manusia yang menghargai pengetahuan dan kemanusiaan. Tidak ada jarak sosial yang menindas. Justru hubungan itu dibangun atas dasar kasih sayang dan tanggung jawab moral.
Tradisi yang Melahirkan Karakter
Budaya mencium tangan, duduk bersila, atau menunduk saat berbicara dengan kiai adalah bagian dari pelatihan diri. Santri dididik untuk rendah hati dan sabar. Dalam dunia modern yang serba instan, nilai-nilai itu kian langka. Pesantren menjadi benteng terakhir adab di tengah derasnya banjir informasi yang sering kali melunturkan etika.
Kritik terhadap gaya feodal di pesantren sebetulnya bisa menjadi ruang refleksi bersama. Namun menuduh seluruh tradisi pesantren sebagai bentuk penindasan jelas keliru. Karena di balik semua ritual sederhana itu tersimpan filosofi pendidikan moral yang mendalam: menunduk bukan karena takut, tetapi karena hormat; mencintai bukan karena asmara, tetapi karena mencari keberkahan ilmu.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” menjadi penanda bahwa tradisi pesantren masih relevan di tengah modernitas. Ia mengajarkan keseimbangan antara nalar dan adab, antara kebebasan berpikir dan ketulusan beretika.
Sebagaimana para ulama menulis dalam kitab klasik, ilmu tak akan menetap di hati yang sombong. Maka, penghormatan kepada guru bukan sekadar simbol, melainkan jalan menuju kebijaksanaan.
Pesantren: Benteng Adab di Tengah Zaman
Dalam banyak kasus, lulusan pesantren justru menjadi penggerak perubahan sosial yang progresif. Mereka menjadi guru, aktivis kemanusiaan, penulis, dan pemimpin masyarakat. Hal ini membantah anggapan bahwa sistem pendidikan pesantren menghambat daya kritis.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dari tradisi bahtsul masail—forum diskusi terbuka yang melatih santri berpikir logis, sistematis, dan kritis terhadap masalah sosial-keagamaan. Di forum ini, para santri berdialog dan berdebat dengan sopan. Adab dan argumentasi berjalan beriringan, menunjukkan bahwa penghormatan tidak berarti kehilangan kebebasan berpikir.
Dengan demikian, tradisi yang sering dianggap feodal justru membentuk mental disiplin, rendah hati, dan terbuka terhadap perbedaan. Di sinilah letak keunikan pesantren, sebuah lembaga yang memadukan spiritualitas dan intelektualitas, diikat oleh Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut.
Kesimpulan: Adab adalah Akar Ilmu
Menghormati guru adalah bagian dari cinta, bukan ketakutan. Menunduk di hadapan kiai bukan tanda tunduk pada kuasa manusia, melainkan bentuk kerendahan hati di hadapan ilmu. Pesantren mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang menuntun moral dan nurani.
Tradisi yang dituduh feodal itu sesungguhnya adalah sistem nilai yang menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah kumpulan kata tanpa ruh.
Dalam pesantren, cinta tidak berwujud asmara, dan ketundukan tidak lahir dari takut. Ia lahir dari kesadaran spiritual bahwa guru adalah perantara cahaya ilmu yang menuntun menuju kebaikan.
Penutup
Tradisi pesantren bukan feodalisme, tetapi warisan adab yang akan menumbuhkan cinta, kerendahan hati, tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i’tidal (adil).
Wallohu A’alam Bishowab
(Penulis: Diki Albadar. Alumni Ponpes Riyadlul Alfiyah Sadang, Garut dan Ponpes Riyadlul Ushuliyah Panembong, Rajapolah, Tasikmalaya).



