Muncul Lagi Spanduk Provokatif di Kota Tasikmalaya, Ketua KNPI Angkat Bicara

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Warga Kota Tasikmalaya kembali disuguhi kemunculan spanduk bernada provokatif. Pagi tadi, Redaksi Lintas Priangan menerima informasi tentang adanya spanduk misterius yang terpasang di salah satu titik strategis kota. Tulisan dalam spanduk itu berbunyi: “Asep Goparulloh Out, Hendra Budiman In.”
Spanduk tersebut langsung menuai sorotan. Pasalnya, pesan di dalamnya dinilai provokatif dan menyasar jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Nama Asep Goparulloh, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda), dan Hendra Budiman, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), jelas disebut tanpa ada keterangan atau penjelasan lebih lanjut. Tidak ada informasi siapa yang membuat, apalagi yang memasangnya.
Ini bukan kali pertama Kota Tasikmalaya disuguhi spanduk bernada provokatif. Sekitar satu hingga dua pekan lalu, spanduk lain juga sempat muncul di beberapa titik. Pesannya saat itu berbunyi kurang lebih: “Sekda dan Wakil Wali Kota lebih mampu memimpin Kota Tasikmalaya.” Kemunculan berulang spanduk-spanduk tanpa identitas ini memicu pertanyaan publik, sekaligus kekhawatiran akan polarisasi yang tidak sehat.
Ketua KNPI Kota Tasikmalaya, Dhany Tardiwan Noor, turut angkat bicara soal fenomena ini. Ia juga mengaku mendapat informasi serupa dari jajarannya sejak pagi hari.
“Saya juga menerima laporan dari kawan-kawan di lapangan soal spanduk itu,” ujarnya saat dikonfirmasi via sambungan telepon, Senin pagi (16/6).
Meski begitu, Dhany memilih tidak ingin larut dalam polemik siapa aktor di balik pemasangan spanduk tersebut. Ia menyatakan, tidak ingin membuang energi untuk menelusuri dalang dari aksi-aksi seperti ini.
“Saya tidak tertarik untuk mencari tahu siapa di balik spanduk itu. Itu bukan bagian yang penting,” katanya tegas.
Menurut Dhany, yang lebih penting adalah menjaga suasana Kota Tasikmalaya agar tetap kondusif, sehat, dan dewasa dalam menyikapi dinamika politik. Ia menekankan, masyarakat Tasikmalaya saat ini sudah jauh lebih bijak.
“Saya yakin masyarakat Kota Tasikmalaya sudah sangat dewasa dan terdidik dalam menyikapi hal-hal seperti ini,” ucapnya.
Dhany menegaskan bahwa jabatan Sekda adalah jabatan struktural dan bersifat karier, bukan jabatan politik yang bisa diperebutkan secara terbuka melalui dukung-mendukung. Ada prosedur yang harus dilalui secara administratif dan sesuai aturan perundang-undangan.
“Posisi Sekda itu bukan jabatan publik yang dipilih lewat pemilu. Itu jabatan karier. Cukup ikuti prosedur yang berlaku. Jangan dibumbui opini yang memperkeruh suasana,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dhany mengingatkan bahwa sudah ada regulasi yang mengatur pengangkatan dan pengisian jabatan sekda. Termasuk seleksi, penilaian kinerja, dan tahapan administrasi lainnya yang menjadi ranah pejabat pembina kepegawaian.
“Semua sudah diatur, tinggal ikuti. Tidak perlu aksi-aksi seperti ini. Kita harus dewasa,” tambahnya.
Dalam konteks ini, Dhany juga mengajak para pemuda di Kota Tasikmalaya untuk menjadi agen literasi informasi. Ia menilai, pemuda memiliki peran strategis dalam menjaga suasana kota tetap sehat dan tidak terprovokasi oleh informasi-informasi simpang siur.
“Kalau ada warga yang butuh penjelasan, pemuda harus hadir. Jangan ikut-ikutan bias. Sampaikan informasi yang objektif,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab sosial di era digital. Media sosial yang begitu cepat menyebarkan informasi, menurut Dhany, bisa menjadi ladang subur bagi provokasi jika tidak diimbangi dengan literasi informasi yang kuat.
“Saya minta pemuda tidak ikut menyebarkan spekulasi. Peran kita adalah menjaga agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar, bukan ikut memanaskan suasana,” tandasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya terkait kemunculan spanduk tersebut. Aparat keamanan juga belum memberikan pernyataan apakah spanduk tersebut sudah ditertibkan atau masih terpasang. (Lintas Priangan/AA)



