Magrib Mengaji di Tasikmalaya Hidupkan Tradisi Religius Anak

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Magrib Mengaji di Tasikmalaya kembali hidup sebagai upaya warga mengalihkan anak-anak dari gadget menuju kegiatan Islami. Program ini melibatkan anak-anak dari berbagai usia, didukung guru tahfiz dan masyarakat. Selain menumbuhkan kecintaan pada Al-Qur’an, kegiatan ini juga meningkatkan rasa percaya diri anak.
Tradisi Magrib Mengaji di Tasikmalaya dinilai sejalan dengan julukan Kota Santri sekaligus mendukung lahirnya generasi penerus yang religius dan berakhlak mulia. Antusiasme warga pun terus meningkat, membuat program ini berkembang pesat dan semakin diminati.
Warga RW 03 Jalan Lewidahu, Kelurahan Parakanyadag, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, sukses menghidupkan kembali tradisi Magrib Mengaji. Kegiatan ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Anak-anak tampil di panggung dengan hafalan surat-surat pendek, pembacaan nadom Islami, hingga tabligh akbar yang menutup rangkaian acara.
Arjena Nugraha, salah seorang pengajar, menjelaskan bahwa program Magrib Mengaji pernah digalakkan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya sebelumnya. Kini, warga menghidupkannya kembali dengan semangat baru. “Anak-anak diajak ke masjid untuk membaca Iqro, Al-Qur’an, serta mempelajari ilmu agama seperti aqidah dan hadis,” ujarnya. Menurut Arjena, kegiatan ini penting agar generasi muda tidak hanya menghabiskan waktu dengan televisi atau ponsel, melainkan terbiasa dekat dengan masjid dan ilmu agama.
Dukungan Guru dan Masyarakat
Ketua DKM Masjid Al-Hikmah, Ustaz Ipin Aripin, menuturkan bahwa program Magrib Mengaji di Tasikmalaya sudah berjalan cukup lama dengan dukungan banyak guru ngaji. “Kami punya sekitar lima guru tahfiz Qur’an ditambah pengajar lain. Pesertanya mulai dari anak TK, SD, hingga SMP. Selain di Masjid Al-Hikmah, kegiatan juga aktif di Masjid Al-Barokah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peserta tidak hanya dari RW 03, melainkan juga datang dari perumahan sekitar, seperti Perum Bumi Sari. Hal ini membuktikan bahwa Magrib Mengaji di Tasikmalaya terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut serta.
Ketua RW 03, Dedi Sunarya, mengapresiasi keberlangsungan kegiatan yang kini menjadi tradisi anak-anak di lingkungannya. “Program ini mencetak generasi penerus yang religius, berakhlakul karimah, dan Islami. Hal ini sejalan dengan julukan Tasikmalaya sebagai Kota Santri sekaligus mendukung cita-cita menuju Indonesia Emas,” ungkapnya.
Harapan Orang Tua
Dukungan juga datang dari para orang tua. Mereka bangga melihat anak-anak tampil di panggung, membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan percaya diri. Noneng Nurjanah, salah satu orang tua, mengaku terharu. “Alhamdulillah, anak saya tampil membaca surat pendek pada puncak peringatan HUT RI. Saya sangat bangga dan berterima kasih kepada para guru. Semoga kegiatan Magrib Mengaji di Tasikmalaya terus berlanjut,” katanya.
Program Magrib Mengaji di Tasikmalaya bukan hanya menghidupkan tradisi Islami, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Dengan semakin banyak anak yang ikut serta, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang kuat dalam iman dan berakhlak mulia. (Lintas Priangan/AB)



