Berita Tasikmalaya

Fenomena Spanduk di Balai Kota Tasikmalaya, Dosen UNIK Soroti Peran DPRD

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Fenomena pemasangan spanduk bernada kritik di pagar Balai Kota Tasikmalaya dalam beberapa waktu terakhir dinilai bukan sekadar ekspresi spontan warga. Lebih dari itu, spanduk-spanduk tersebut dibaca sebagai sinyal adanya persoalan dalam penyaluran aspirasi masyarakat di tingkat lokal.

Dosen Universitas Islam KH Ruhiat Cipasung (UNIK Cipasung), Syarif Hidayat, menilai bahwa keberanian warga menyampaikan kritik secara terbuka justru menunjukkan masih tingginya kepedulian publik terhadap kebijakan pemerintah daerah. Namun, di saat yang sama, kondisi ini juga menjadi tanda bahwa jalur demokrasi formal belum sepenuhnya dirasakan efektif oleh masyarakat.

“Ketika aspirasi tidak disampaikan melalui mekanisme resmi dan justru muncul dalam bentuk spanduk di ruang publik pemerintahan, itu menandakan ada jarak komunikasi yang belum terjembatani,” kata Syarif saat diwawancarai, Rabu (04/02/2026).

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: 5 Masalah Krusial dalam 1 Tahun Kepemimpinan Viman

Menurutnya, dalam sistem demokrasi perwakilan, kritik dan aspirasi masyarakat seharusnya lebih dulu mengalir melalui lembaga representatif. Karena itu, fenomena ini tak bisa dilepaskan dari peran DPRD Kota Tasikmalaya sebagai wakil rakyat.

“Paling tidak, ini mencerminkan persepsi publik bahwa DPRD belum sepenuhnya hadir sebagai saluran aspirasi yang dekat dan responsif,” ujarnya.


Spanduk sebagai Sinyal Politik Warga

Syarif menjelaskan, dalam perspektif teori politik, ekspresi simbolik seperti spanduk kerap muncul ketika masyarakat merasa suaranya tidak cukup didengar melalui prosedur formal. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap sistem demokrasi.

“Ini lebih sebagai upaya menarik perhatian agar pesan warga sampai kepada para pembuat kebijakan,” katanya.

Ia menilai, secara sistem, mekanisme penyaluran aspirasi sebenarnya telah tersedia, mulai dari forum reses anggota dewan, audiensi, hingga berbagai ruang partisipasi publik. Namun, efektivitas mekanisme tersebut sangat bergantung pada praktik di lapangan.

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: Sekum HMI: Fenomena Spanduk di Balai Kota Tasikmalaya Bisa Picu Eskalasi

“Masalahnya sering kali bukan pada ada atau tidaknya sistem, melainkan bagaimana aspirasi itu ditindaklanjuti dan dikomunikasikan kembali kepada masyarakat,” ucapnya. Ketika masyarakat tidak melihat hasil nyata dari penyampaian aspirasi, kepercayaan pun perlahan menurun.

Menurut Syarif, fenomena spanduk kritik di pagar balai kota dapat dibaca sebagai peringatan dini. Kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan mulai tergerus ketika warga merasa suaranya tidak berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan.

➡️ Lanjut ke Halaman 2: Alarm bagi Demokrasi Lokal Tasikmalaya


1 2Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button