Andai Kalian Jadi Kami, Renungan di Penghujung Akhir Pekan

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Negara ini masih menggantungkan diri pada pajak rakyat. Data rasio pajak Indonesia hanya berkisar 10–12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)—salah satu yang terendah di Asia Pasifik, yang rata-ratanya mencapai hampir 19 persen. Artinya, lebih dari separuh nafas negara ini bertumpu pada keringat rakyat yang membayar pajak, baik secara langsung maupun tak langsung.
Dari pajak itulah seluruh roda pemerintahan berputar. Gaji pejabat dibayar, tunjangan dicairkan, fasilitas disediakan, rumah dinas, mobil dinas, perjalanan dinas, hingga program-program pembangunan. Semua itu lahir dari tetes demi tetes keringat rakyat kecil yang bekerja sejak fajar hingga larut malam.
Hidup Negara dari Keringat Rakyat
Negara ini hidup dari pedagang kecil yang harus bangun pukul tiga pagi untuk ke pasar. Dengan mata yang masih berat, mereka berdesakan di lorong pasar tradisional, mencari sayuran, beras, dan sembako yang harus dijual kembali dengan keuntungan yang tak seberapa. Mereka harus bergerak cepat, karena jika terlambat sedikit saja, barang dagangan habis dan modal pun melayang.
Negara ini hidup dari buruh bangunan yang berangkat berjalan kaki atau naik sepeda usang ke lokasi proyek. Perut mereka hanya terisi kopi sachet atau nasi sisa semalam, tapi tubuh mereka harus memanggul semen, batu, dan besi di bawah terik yang membakar kulit. Upah harian yang diterima sering kali hanya cukup untuk makan hari itu juga.
Negara ini hidup dari buruh tani yang bergegas ke sawah sebelum matahari tinggi. Mereka memanggul pupuk yang harganya makin mahal, menanam padi, menyemprot hama, dan berharap panen tak gagal karena cuaca. Ketika hasil panen dijual, harga yang diterima sering tak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan.
Negara ini juga hidup dari tukang ojek yang selepas subuh sudah menyusuri jalanan kota. Mereka menjemput penumpang, mengantar paket, berdesakan dengan asap kendaraan, dan menahan rasa lelah demi mengejar target order harian. Dari setiap liter bensin yang mereka beli, ada pajak yang masuk ke kas negara. Dari setiap rokok yang mereka hisap untuk mengusir kantuk, ada cukai yang ikut disetorkan.
Mereka semua, dengan cara masing-masing, menjadi penyumbang utama kelangsungan negara ini. Pajak yang mereka bayarkan—langsung maupun tak langsung—adalah darah yang mengalir di nadi republik.
Bayangkan Jika Kita Bertukar Tempat?
Sekarang, mari kita berimajinasi. Bagaimana jika kita bertukar posisi?
Kami yang rakyat kecil ini menjadi pejabat. Kami duduk di kursi empuk, bekerja di kantor berpendingin ruangan, dengan staf yang selalu siap melayani. Kami pulang ke rumah yang nyaman, berpagar tinggi, dengan dapur yang selalu terisi penuh oleh stok makanan terbaik. Anak-anak kami belajar di sekolah dengan biaya yang mungkin tidak bisa kalian bayangkan. Saat liburan, kami tidak hanya sekadar ke taman kota, tapi bisa berwisata ke tempat-tempat yang jauh dan indah, menginap di hotel berbintang, menikmati fasilitas yang mewah.
Kami memiliki mobil dinas dengan sopir pribadi yang siap mengantar ke mana saja. Tangki bahan bakar kami selalu penuh, tagihan perawatan kendaraan tidak pernah kami pikirkan. Kami bisa menyantap makanan di restoran terbaik, menghadiri acara-acara eksklusif, tanpa memikirkan biaya yang keluar dari kantong pribadi.
Tapi kami sebagai pejabat, hanya bisa menunjukkan bahwa kami berseragam rapi dan rajin hadir di kantor. Kami duduk di balik meja, mengikuti rapat-rapat rutin, menandatangani berkas-berkas, dan pulang sesuai jam kerja. Tanpa inovasi yang berarti. Tanpa akselerasi pembangunan yang terasa. Bahkan seringkali tanpa solusi untuk masalah yang kalian hadapi sehari-hari.
Dalam posisi sebagai rakyat kecil yang membiayai kami, apakah kalian puas jika kami hanya bisa melakukan itu?
Seperti Apa Harapan Kalian Jika Jadi Rakyat Penyumbang Pajak Negara?
Jika kalian berada di posisi kami, apakah kalian puas hanya melihat pejabat yang hidup dari uang kalian sekadar hadir di kantor?
Apakah kalian tidak kecewa jika pejabat yang kalian biayai justru menghindar ketika kalian bertanya tentang anggaran?
Apakah kalian tidak sakit hati ketika kebijakan yang dihasilkan jauh dari kebutuhan kalian, hanya jadi janji solusi yang entah kapan terealisasi?
Kami yakin, jika posisi benar-benar bertukar, kalian ingin pejabat yang kalian biayai hadir dengan hati. Kalian ingin mereka bekerja dengan inovasi, mencari solusi nyata, mempercepat pembangunan, dan terbuka pada rakyat yang membiayai hidup mereka.
Bukan Ingin Bertukar Tempat
Tulisan ini bukan tuduhan, bukan pula iri hati. Kami sama sekali tak ingin bertukar tempat. Ini hanyalah pengingat. Bahwa kenyamanan yang kalian nikmati hari ini lahir dari peluh rakyat kecil. Dari pedagang yang bangun dini hari, buruh yang sarapan kopi sachet, buruh tani yang berkejaran dengan matahari, dan pengemudi ojek yang menghirup polusi sejak pagi.
Silahkan nikmati semua fasilitas dan kenyamanan itu. Karena itu memang hak kalian. Tapi tolong, jangan ada rumah sakit yang selama satu abad dibiayai rakyat lalu kemudian terancam bubar. Jangan ada lagi janji-janji manis yang faktanya tidak bisa direalisasikan ketika kalian menjabat. Jangan kalian curi sebagian anggaran pengadaan, perjalanan dinas, belana makanan dan minuman, uang duduk peserta pelatihan, apalagi anggaran pokok pikiran dewan.
Kami, butuh transparansi, akselerasi, inovasi dan solusi. Ini hak kami, sebagaimana kalian mendapatkan hak atas semua fasilitas dan kenyamanan.
Karena jika suatu hari kita benar-benar bertukar posisi, mungkin kalian akan tahu rasanya jadi rakyat kecil yang menggantungkan harapan pada pejabatnya. Dan saat itu terjadi, kalian pun pasti ingin diperlakukan dengan adil, didengar suaranya, dan dihargai setiap tetes peluhnya.



