Berita Tasikmalaya

Banjir Paseh Tasikmalaya, Kalau Dibiarkan Bisa Jadi Petaka

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Senin (16/12), hujan lebat yang mengguyur Kota Tasikmalaya sepanjang hari seperti biasa mengakibatkan beberapa ruas jalan tertutup genangan air. Misalnya yang terjadi di Lingkungan Paseh, Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Ketinggian air mencapai sekitar 50 cm.

“Tinggi air ada yang setinggi betis orang dewasa, sekitar 50 cm, lokasi tepatnya di RT 07, RW 01, Kelurahan Tuguraja,” terang Dicky Rizki (26), warga sekitar yang ditemui Lintas Priangan di lokasi kejadian.

Menurut Dicky, banjir yang kerap terjadi di lingkungannya disebabkan drainase yang tidak bisa menampung dan menyalurkan air saat hujan. Karena tidak tertampung, akhirnya meluap dan menutupi ruas jalan.

“Ini karena drainase tidak berfungsi dengan baik. Para pengendara motor juga harus ekstra hati-hati, karena air yang meluap ke jalan itu membawa sampah,” tambah Dicky.

Masih menurut Dicky, banjir ini bisa dikatakan peristiwa rutin. Setiap musim hujan di wilayah ini pasti terjadi seperti hari ini. Dicky mengaku heran, kenapa dari pihak pemerintah seperti tidak ada perhatian. Padahal peristiwa serupa sudah terjadi berulang dalam rentang empat tahun. Terlebih, lokasi terjadinya banjir terbilang dekat dengan Kantor Kelurahan Tuguraja.

“Sebagai warga tentu saya berharap bisa tinggal di lingkungan yang nyaman. Ini sudah sering terjadi. Seingat saya, empat tahun terakhir ini selalu begini. Mohon pemerintah bisa memberi solusi. Saya khawatir, jika dibiarkan skalanya bisa membesar. Sekarang memang relatif tidak bahaya, masih dijadikan mainan anak-anak. Tapi kalau terus dibiarkan, bukan mustahil jadi petaka,” ujar Dicky.

Sementara itu, menyikapi begitu banyak lokasi rentan banjir di Kota Tasikmalaya, salah seorang aktivis lingkungan dari Sangga Buana Garda (SABUGA), Helmi Razu Novriansyah menyatakan, hal tersebut jadi PR untuk pemerintah baru di Kota Tasikmalaya. Helmi menambahkan, Pemkot Tasikmalaya butuh ide-ide baru yang fresh dan solutif.

“Kalau perilaku masyarakat itu sebetulnya bisa di-direct, bisa disetir oleh pemerintah. Tapi, pemerintahnya harus cerdas. Buat regulasi yang tepat guna. Contoh di beberapa daerah di Indonesia sudah ada Perda Jentik dan Perda Biopori. Efektif itu. Warga mengikuti, mereka menjaga kebersihan rumahnya. Karena kalau ada kasus, yang akan diberi sanksi adalah rumah yang di lingkungannya ada jentik nyamuk. Nggak susah lah, asal bener mau beres, Tasik bisa bebas sampah dan banjir!” pungkas Helmi. (Rep: Deni Heryanto)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button