Ada yang Tak Biasa dengan Hujan di Tasikmalaya Sabtu Lalu

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sabtu, 17 Januari 2026, hujan turun tanpa basa-basi di Kota Tasikmalaya. Intensitasnya tinggi, areanya merata, dan angin ikut menyertai. Dalam ingatan kolektif warga, kombinasi seperti ini biasanya punya satu akhir: air meluap ke jalan, laporan berdatangan, media sosial riuh oleh keluhan, lengkap dengan sorotan tajam puluhan media online.
Di ruang redaksi, kewaspadaan pun terpasang penuh. Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan, hujan deras 20–30 menit saja kerap cukup untuk memicu genangan di banyak titik. Namun sore itu berjalan di luar kebiasaan. Hujan reda, waktu berlalu, dan yang ditunggu justru tak muncul. Nyaris tidak ada laporan banjir.
Keheningan ini terasa janggal—sekaligus menarik. Apakah ini pertanda intensitas genangan air berkurang meski kota ini diguyur hujan deras? Kalau tidak percaya, silahkan bukan mesin pencarian google, lalu ketik kata kunci: “Tasikmalaya Banjir”, patok waktu pencarian ke tanggal 17 – 20 Januari 2026. Hasilnya? Hampir nihil!
Kok Bisa Tiba-Tiba Hening?
Mungkin, genangan air terjadi dimana-mana, tapi masyarakat sudah bosan bikin konten atau ngasih kabar wartawan? Sepertinya tidak. Rasanya itu bukan karakter kita, apalagi kalau tiba-tiba kompak sekota.
Penelusuran redaksi mengarah pada aktivitas yang berlangsung sepekan sebelum hujan deras tersebut. Dinas PUTR dan Bidang Pengelolaan Sampah di Dinas LH Kota Tasikmalaya melakukan langkah yang relatif berbeda dari praktik lazim penanganan banjir.
Mereka tidak hanya membersihkan titik-titik yang sudah tersumbat, petugas menyusuri aliran air secara utuh—dari ujung hilir hingga ke hulu. Logikanya sederhana: banjir di hilir sering kali bukan lahir di sana, melainkan dikirim dari atas.
Dalam penyisiran itu, petugas menemukan sejumlah titik pembuangan sampah sembarangan yang selama ini luput dari perhatian. Setiap menemukan tumpukan sampah, langkah yang diambil tidak berhenti pada pengerukan. Dialog langsung dilakukan dengan warga sekitar. Edukasi diberikan di tempat, di lokasi yang sama di mana sampah itu berulang kali muncul.
Pendekatan ini membuat penanganan tidak lagi bersifat reaktif. Bukan sekadar membersihkan akibat, tetapi mencoba memutus sebab.
Upaya ini menegaskan satu hal yang kerap diabaikan dalam diskusi banjir: persoalan air tidak hanya soal beton, saluran, dan alat berat. Ia juga soal kebiasaan. Saluran irigasi yang rapi hari ini bisa kembali bermasalah esok hari jika perilaku buang sampah sembarangan tetap dibiarkan.
Hujan deras Sabtu lalu mungkin belum cukup untuk menjadi kesimpulan akhir. Namun setidaknya, ia memberi isyarat awal bahwa ketika aliran air dipahami sebagai satu sistem utuh—dan masyarakat diajak terlibat—dampaknya bisa terasa nyata.
Takdir yang Terlanjur Dikunci Beton
Namun tidak semua titik punya perubahan yang sama. Pada kawasan tertentu, seperti irigasi yang tertutup bangunan permanen di area Asia Plasa, persoalannya sudah melampaui soal sampah atau perilaku. Di sana, jalur air sejak awal ditutup oleh keputusan tata ruang.
Saluran yang dikubur di bawah bangunan bukan sekadar menyimpan potensi genangan, tetapi seperti mengunci takdir banjir permanen sejak awal. Seberapa rajin pun penyisiran dilakukan, seberapa sadar pun masyarakat diajak berubah, air tetap akan mencari ruang, dan ketika ruang itu tak tersedia, jalanlah yang menjadi korban.
Di titik inilah Kota Tasikmalaya diingatkan: banjir bukan hanya soal hari ini dan hujan kemarin, tetapi juga tentang keputusan lama yang masih harus ditanggung hingga sekarang. (AS)



