Berita Sukabumi

Diduga Lelah Dibully, Siswi MTs Sukabumi Nekat Mengakhiri Hidupnya

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Warga Kampung Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, digegerkan oleh penemuan jasad seorang siswi MTs Sukabumi yang tewas tergantung di rumahnya pada Senin (28/10/2025). Korban diketahui berinisial N (14), pelajar kelas VIII di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di wilayah itu.

Peristiwa tragis ini sontak mengundang duka dan keprihatinan luas. Polisi menyebut dugaan sementara korban mengakhiri hidupnya akibat tekanan psikis yang diduga berkaitan dengan kasus perundungan (bullying) yang dialaminya di lingkungan sekolah.


Ditemukan Tergantung di Rumah, Surat Tulisan Tangan Jadi Petunjuk

Menurut Dadi (44), warga tetangga korban, jasad siswi MTs Sukabumi tersebut pertama kali ditemukan oleh anggota keluarganya sekitar pukul 17.00 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi tergantung menggunakan tali di dalam kamar.

“Korban sudah tidak bernyawa saat ditemukan. Keluarga kemudian melapor ke pihak berwenang,” ungkap Dadi.

Polisi yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan selembar surat tulisan tangan yang ditemukan di dekat korban. Surat itu diduga kuat ditulis sendiri oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.

Isi surat tersebut menggambarkan rasa sakit hati dan keputusasaan korban akibat perlakuan teman-temannya di sekolah. Dalam tulisannya, korban sempat menyebut lelah menghadapi ejekan dan tekanan yang terus menerus diterimanya.


Dugaan Bullying di Sekolah Jadi Sorotan

Kasus ini memantik gelombang reaksi dari masyarakat dan warganet Sukabumi. Banyak yang menilai kasus tragis yang menimpa siswi MTs Sukabumi ini adalah alarm bahaya serius tentang perundungan di sekolah.

Dari hasil pemeriksaan awal, pihak kepolisian tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik selain bekas jeratan di leher. Namun, surat yang ditinggalkan korban menjadi petunjuk penting mengenai dugaan penyebab di balik aksi nekat tersebut.

Atas kejadian ini, banyak pihak menyoroti peran sekolah. Manajemen sekolah dan guru seharusnya memiliki deteksi dini ketika ada gejala perundungan di satuan pendidikan tempat mereka bekerja. Logika sederhananya, anak yang mengalami perundungan itu pasti menunjukkan perubahan sikap. Sekolah harusnya bisa mendeteksi ini.


Masyarakat Minta Penanganan Serius dan Edukasi Anti-Bullying

Setelah kabar kematian siswi MTs Sukabumi ini viral di media sosial, warganet ramai menyerukan kampanye anti-bullying di lingkungan pendidikan. Banyak pihak menilai bahwa kasus ini harus diusut secara serius, bukan sekadar dianggap sebagai tragedi pribadi.

Sekolah harus bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Jangan tunggu korban berikutnya,” tulis salah satu komentar di media sosial X (Twitter).

Sementara itu, pihak keluarga korban masih dalam kondisi terpukul. Mereka berharap kasus ini bisa membuka mata banyak pihak agar tidak menyepelekan perilaku merundung yang sering kali dianggap sepele.

“Dia anak baik, rajin, dan pendiam. Kami tidak menyangka bisa terjadi hal seperti ini,” ucap salah satu anggota keluarga dengan mata berkaca-kaca.

Kini, jenazah korban telah dimakamkan di pemakaman umum desa setempat dengan suasana haru.


Refleksi dan Peringatan bagi Dunia Pendidikan

Kasus tragis yang menimpa siswi MTs Sukabumi ini menjadi cermin kelam bagi dunia pendidikan. Fenomena bullying yang kerap dianggap hal biasa faktanya banyak berujung fatal.

Para pemerhati anak dan psikolog mengingatkan bahwa setiap bentuk perundungan, baik fisik maupun verbal, meninggalkan luka psikologis mendalam pada korban. Sekolah, guru, dan orang tua diminta aktif membangun komunikasi terbuka serta menumbuhkan empati di kalangan siswa.

Tragedi ini seharusnya menjadi momentum bagi Sukabumi dan seluruh Indonesia untuk memperkuat gerakan “Sekolah Tanpa Bullying”, agar tidak ada lagi generasi muda yang kehilangan harapan akibat kekerasan sosial yang terselubung di balik candaan. (GPS)

Related Articles

Back to top button