Berita Pangandaran

Banjir Pangandaran Rendam Tiga Kecamatan, Ratusan Warga Terdampak dan Jalan Nasional Lumpuh

Banjir Pangandaran melumpuhkan jalan nasional dan merendam ratusan rumah warga di tiga kecamatan.

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sejak Senin (13/10/2025) sore, menyebabkan banjir Pangandaran di tiga kecamatan. Selain merendam ratusan rumah, luapan air juga melumpuhkan akses jalan nasional Cijulang–Parigi, memaksa kendaraan melintas bergantian dan menimbulkan kemacetan panjang.


Banjir Pangandaran Rendam Permukiman dan Jalan Nasional

Intensitas hujan tinggi sejak awal pekan membuat debit air di beberapa sungai kecil di Pangandaran tak mampu menampung limpasan air. Akibatnya, banjir Pangandaran meluas ke sejumlah titik padat penduduk.

Daerah yang terdampak paling parah tercatat di Kecamatan Cijulang, Cimerak, dan Parigi. Di Desa Cijulang dan Desa Kondangjajar, air setinggi 30–40 sentimeter menutup sebagian jalan nasional. Kendaraan yang melintas terpaksa bergiliran karena sebagian jalur tidak bisa dilalui akibat genangan yang cukup dalam.

Seorang warga Desa Cijulang, Maman Suryaman, menuturkan bahwa kondisi banjir kali ini bukan yang pertama. Hampir setiap musim hujan, wilayahnya selalu menjadi langganan genangan karena luapan Sungai Kalangsari.

“Tadi malam hujan turun deras sejak magrib. Sekitar pukul 03.00 dini hari, air mulai masuk ke rumah. Tingginya sampai lutut orang dewasa,” ujarnya kepada wartawan, Senin pagi.

Menurut Maman, banjir kali ini membuat akses warga terhambat. Anak-anak tak bisa berangkat ke sekolah, dan sebagian warga terpaksa mengevakuasi barang-barang ke tempat lebih tinggi. Beberapa rumah warga di daerah rendah bahkan sempat terendam hingga 60 sentimeter.


BPBD dan Basarnas Siaga, Ratusan Warga Terdampak

Data sementara Pos SAR Pangandaran mencatat sedikitnya 310 kepala keluarga atau lebih dari 330 jiwa terdampak banjir Pangandaran. Wilayah terdampak tersebar di tiga kecamatan, yakni Parigi, Cijulang, dan Cimerak. Meskipun sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing, tim gabungan tetap melakukan pemantauan di titik-titik rawan banjir.

Koordinator Pos Basarnas Pangandaran, Edwin Purnama, menyebutkan bahwa ketinggian air bervariasi di setiap lokasi.

“Di beberapa titik mencapai satu meter. Kami bersama BPBD, TNI, dan Polri masih bersiaga di lapangan untuk membantu warga,” ujarnya.

Hingga Senin malam, air mulai surut di sejumlah wilayah. Namun aparat meminta warga tetap waspada terhadap potensi hujan susulan yang bisa kembali memicu banjir, terutama di daerah yang berada di hilir sungai.

BPBD Pangandaran juga menyiagakan perahu karet dan dapur umum darurat untuk membantu warga yang terdampak paling parah. Petugas gabungan terus memantau debit air dan cuaca di wilayah hulu sungai guna mencegah kemungkinan banjir susulan.


Warga Harap Solusi Permanen dari Pemerintah Daerah

Selain menyebabkan kerugian material, banjir Pangandaran juga memperlihatkan persoalan klasik soal tata kelola drainase di kawasan selatan Jawa Barat itu. Banyak warga menilai bahwa solusi sementara, seperti pengerukan sungai dan tanggul darurat, belum cukup untuk mengatasi banjir tahunan.

Maman dan beberapa warga lainnya berharap pemerintah daerah segera mencari solusi jangka panjang.

“Setiap tahun begini terus. Kalau tidak ada perbaikan saluran air dan penataan lahan di sekitar sungai, banjir akan terus datang,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak pemerintah daerah berjanji akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan evaluasi dan normalisasi aliran sungai di titik-titik rawan. Upaya itu diharapkan bisa mengurangi risiko banjir di masa mendatang.


Kesimpulan

Banjir Pangandaran mengungkap perlunya solusi permanen. Pemerintah diminta bertindak cepat agar banjir tahunan tak terus berulang. (Lintas Priangan/Arrian)


Related Articles

Back to top button