Nasional

Profil Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI Korban Serangan Israel

lintaspriangan.comBERITA NASIONAL. Kabar duka dari Lebanon Selatan membuka perhatian publik pada satu nama: Farizal Rhomadhon. Di balik headline besar “TNI diserang Israel”, ada sosok prajurit muda yang gugur dalam sunyi—menjalankan tugas yang bahkan jauh dari tanah airnya sendiri.

Dalam penelusuran profil Farizal Rhomadhon, ia merupakan prajurit TNI berpangkat Praka yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda di bawah misi perdamaian PBB, UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Ia bertugas di wilayah Adchit Al-Qusayr, Lebanon Selatan—sebuah kawasan yang dikenal sebagai zona panas konflik antara Israel dan Hizbullah.

Farizal Rhomadhon lahir pada 3 Januari 1998 di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Usianya baru 28 tahun. Usia yang bagi banyak orang adalah fase membangun masa depan, tapi bagi Farizal justru menjadi puncak pengabdian—dan akhirnya, pengorbanan.

Dalam struktur militer, Farizal bukan prajurit biasa di garis depan. Ia bertugas sebagai bagian dari provost di Kompi Markas. Peran ini krusial: menjaga disiplin, keamanan internal, dan penegakan aturan di lingkungan pasukan. Singkatnya, ia adalah penjaga ketertiban di tengah situasi yang sering kali jauh dari kata tertib.

Namun ironinya, justru di tengah tugas menjaga keteraturan itulah, ia gugur.

Insiden yang merenggut nyawanya terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026. Saat itu, wilayah penugasan UNIFIL tengah berada dalam eskalasi konflik. Saling serang artileri antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon membuat situasi semakin tidak terkendali. Sebuah proyektil menghantam area sekitar markas pasukan perdamaian, termasuk posisi yang ditempati kontingen Indonesia.

Farizal menjadi korban paling fatal dalam peristiwa yang kemudian dikenal luas sebagai bagian dari tragedi profil TNI yang gugur diserang Israel. Ia sempat dievakuasi ke fasilitas medis UNIFIL, namun nyawanya tidak tertolong. Selain dirinya, tiga prajurit TNI lainnya mengalami luka, satu di antaranya dalam kondisi berat.

Di balik seragam dan pangkatnya, profil Farizal Rhomadhon juga menyimpan cerita yang jauh lebih personal. Ia adalah seorang suami dan ayah muda. Ia menikah pada Juli 2023, dan kini meninggalkan seorang istri serta anak yang masih berusia sekitar dua tahun.

Fakta ini membuat kisahnya bukan sekadar laporan militer, melainkan potret kehilangan yang nyata. Seorang anak kehilangan ayahnya, seorang istri kehilangan pasangan hidupnya—semua terjadi bukan karena perang di negeri sendiri, tetapi di medan konflik global yang kompleks.

Dalam kesehariannya, Farizal dikenal sebagai pribadi yang disiplin, tegas, namun tetap rendah hati. Karakter yang mungkin terbentuk dari tugasnya sebagai provost—di mana aturan bukan hanya dijaga, tapi harus ditegakkan tanpa kompromi.

Gugurnya Farizal Rhomadhon juga kembali membuka mata publik bahwa misi perdamaian bukan berarti tanpa risiko. Justru sebaliknya, pasukan perdamaian sering berada di titik paling rawan—di antara dua pihak yang sama-sama bersenjata.

Kata “damai” di atas kertas, sering kali berbeda dengan realitas di lapangan.

Peristiwa ini sekaligus mempertegas bahwa dalam konflik modern, tidak selalu ada garis tegas antara target dan korban. Bahkan pasukan yang datang membawa mandat perdamaian pun bisa menjadi bagian dari dampak perang.

Kini, nama Farizal Rhomadhon tidak hanya tercatat sebagai prajurit TNI. Ia menjadi simbol dari pengabdian yang melampaui batas negara—dan juga pengingat bahwa harga perdamaian kadang dibayar dengan nyawa.

Dan di balik semua itu, satu hal yang sulit dibantah:

Dunia mungkin melihatnya sebagai angka dalam laporan konflik.
Tapi bagi keluarganya, ia adalah seluruh dunia yang hilang.

Related Articles

Back to top button