Jelang HUT RI ke-80, Pedagang Musiman Ramaikan Sudut Kota Tasikmalaya
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, pedagang bendera kemerdekaan mulai bermunculan di berbagai titik strategis Kota Tasikmalaya. Mereka menghadirkan warna merah putih yang semarak di tengah geliat masyarakat yang bersiap menyambut momentum nasional tersebut.

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pedagang bendera kemerdekaan mulai bermunculan di berbagai titik Kota Tasikmalaya menjelang HUT RI ke-80. Mereka menjajakan bendera merah putih, umbul-umbul, dan aksesori khas Agustusan. Dari Jalan HZ Mustofa hingga Ir. H. Juanda, semangat nasionalisme mulai terasa melalui warna-warni jualan mereka. Sejumlah warga pun antusias membeli perlengkapan untuk gotong royong menghias lingkungan.
Berita ini mengulas geliat pedagang bendera kemerdekaan sebagai bagian dari denyut ekonomi musiman dan semangat kebangsaan yang terus menyala menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Warna-Warni Jualan Bendera Merah Putih Menghias Kota
Suasana peringatan HUT RI ke-80 mulai terasa di Kota Tasikmalaya. Sejak awal Juli 2025, geliat para pedagang bendera kemerdekaan tampak memadati sudut-sudut kota, terutama di kawasan padat lalu lintas seperti Jalan HZ Mustofa, KH EZ Mutaqin, hingga Ir. H. Juanda. Mereka membuka lapak dengan penuh semangat, membawa berbagai atribut khas Agustusan yang menarik perhatian warga.
Salah satunya adalah Heri (52), warga Kecamatan Purbaratu. Ia bersama anaknya, Rian Saputra (24), memilih Jalan HZ Mustofa sebagai lokasi jualan. “Saya sudah hampir 40 tahun menjadi pedagang bendera kemerdekaan, sejak 1987. Dulu sendirian, sekarang dibantu anak,” ungkap Heri saat ditemui pada Senin siang, 4 Agustus 2025.
Meski belum seramai tahun-tahun sebelumnya, Heri mencatat adanya peningkatan minat warga. “Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang mulai naik. Sekitar 30 persen peningkatannya,” tuturnya.
Ia menjajakan beragam produk, dari bendera besar seharga Rp75.000 hingga umbul-umbul berbagai ukuran, background gelombang, pita, dan ornamen merah putih berbentuk ketupat. Heri pun tak keberatan beralih dari profesinya sebagai penjual kacamata dan mainan, demi memenuhi kebutuhan musiman ini. “Sudah jadi kebiasaan, setiap Agustusan saya jadi pedagang bendera kemerdekaan,” tambahnya.
Tak hanya Heri, Yadi, pedagang lainnya, juga tampak antusias. Ia membuka lapak sejak pagi, berharap dapat memenuhi permintaan warga yang mulai berdatangan. “Alhamdulillah, mulai ramai. Banyak yang cari umbul-umbul dan bendera,” katanya singkat.
Sementara itu, warga pun menyambut baik kehadiran para pedagang ini. Nina Herlina (32), misalnya, membeli sejumlah umbul-umbul untuk menghias lingkungan tempat tinggalnya. “Kami gotong royong bersama warga lain. Perayaan tahun ini semoga lebih meriah,” ucap Nina dengan semangat.
Momentum tahunan ini tidak hanya membawa keuntungan bagi para pedagang bendera kemerdekaan, tapi juga memupuk semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Kemeriahan yang mulai terasa menjadi simbol antusiasme warga menyambut ulang tahun kemerdekaan yang ke-80.
Meskipun tantangan ekonomi masih menghantui, para pedagang tetap bertahan dan terus berinovasi. Dengan semangat merah putih, mereka menjadi bagian penting dari wajah Agustus di negeri ini. (Lintas Priangan/AB)



