Berita Tasikmalaya

Ketua KNPI Kota Tasikmalaya Soroti Indikasi Ketidakharmonisan Wali Kota dan Wakilnya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tasikmalaya, Dhany Tardiwan Noor, menyampaikan kritik tajam terhadap ketidakharmonisan antara Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, dan Wakil Wali Kota, Dicky Candra. Menurutnya, indikasi ketidakharmonisan kinerja wali kota dan wakilnya cukup kuat.

“Antara wali kota dan wakilnya, memang tidak diam, tapi indikasinya mereka sekadar sama-sama bekerja, bukan bekerja sama. Mereka terlihat lebih sering bergerak sendiri-sendiri, seolah-olah masing-masing ingin menunjukkan eksistensinya tanpa memperhatikan pentingnya kolaborasi,” ujar Dhany dalam wawancara eksklusif dengan Lintas Priangan, Minggu (08/06/2025).

Dhany menilai, salah satu indikasi yang ia maksud misalnya tentang peran yang dijalankan oleh keduanya. Banyak hal strategis justru diurus wakil, sementara wali kota dicitrakan untuk hal remeh-temeh.

“Aneh, hal-hal yang sangat strategis justru keluar dari pihak wakil wali kota, sementara hal-hal yang remeh temeh justru dari wali kota. Contohnya, komunikasi ke lembaga-lembaga vertikal seperti kementerian. Atau misalnya ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tentang pendopo lama yang akan dijadikan museum. Hemat kami, hal strategis seperti ini seharusnya menjadi porsi wali kota. Tapi kenyataannya, wali kotanya hanya sibuk mengisi event lari dan minum susu bersama anak-anak SD,” paparnya dengan nada kecewa.

Lebih lanjut, Dhany mengutip Pasal 52 dan 66 dari UU No. 23 Tahun 2024, yang secara tegas memosisikan wakil wali kota itu sebagai pembantu kepala daerah. Artinya, seharusnya untuk isu-isu strategis, wali kota yang tampil.

“Padahal, menurut regulasi, wakil kepala daerah itu hanya pembantu, semua keputusan harus sesuai dengan perintah dan arahan wali kota. Ini seperti hal sepele, dan bukan berarti tidak mengapresiasi sepak terjang wakil wali kota, tapi ini panggung politik. Kalau tidak dikemas dengan baik, bukan mustahil malah menciptakan ketidakharmonisan. Atau memang disengaja demikian?” tanya Dhany.

Indikasi lainnya tentang ketidakharmonisan wali kota dan wakilnya adalah komunikasi publik yang belum efektif. Misal tentang isu kosongnya jabatan beberapa kepala SKPD. Jawaban wali kota dan wakil wali kota ternyata tidak sama.

“Viman menyatakan proses tersebut masih tertahan di pusat, sementara Dicky mengatakan pengisian formasi kosong akan dimulai dari bawah. Komunikasi publik seperti ini harusnya seragam. Jangan ada interpretasi yang berbeda,” tegasnya.

Terakhir, dan ini yang paling membuat Dhany khawatir, adanya indikasi kubu-kubuan antara wali kota dan wakil wali kota. Dan ini sangat kasat mata terlihat oleh publik.

“Telanjang banget. Ada pejabat-pejabat ASN yang mulai manuver, melakukan pendekatan, baik ke wali kota maupun ke wakil. Lalu ada juga media yang getol sekali memberitakan kegiatan wakil wali kota misalnya. Bagus semua beritanya. Tapi media tersebut tak ragu mengkritisi wali kota. Kami bukan anak kecil tentunya, kami faham ini arahnya kemana,” tegas Dhany.

Masih menurut Dhany, sekarang ini saatnya bekerja bersama, bukan pencitraan pribadi.

“Ini sudah waktunya bagi wali kota dan wakil wali kota untuk fokus pada kolaborasi dan sinergi. Jangan lagi sibuk mencari panggung dan pencitraan seperti masa kampanye. Kalau terus begini, akan sangat berbahaya bagi stabilitas pemerintahan di Tasikmalaya,” katanya.

Kekhawatiran yang diungkapkan Dhany bukan tanpa alasan, karena faktanya, belum lama ini mulai muncul fenomena provokasi di ruang terbuka dalam bentuk spanduk. Pesan tersebut intinya berbunyi, “Lebih percaya Dicky Candra jadi wali kota.”

“Ini akibat dari ketidakharmonisan di antara keduanya. Mudah-mudahan Sekda tidak ikut-ikutan juga. Dan ketika situasi seperti ini muncul, KNPI sebagai wadah pemuda di Kota Tasikmalaya, tidak akan tinggal diam. Kami akan mengambil peran, agar situasi ini tidak semakin memburuk,” pungkas Dhany. (Lintas Priangan/AA)

Related Articles

Back to top button