Diskominfo Ciamis Pacu Optimalisasi JIP, Apaan Tuh?
Videos Playlist
You need to install the WM Video Playlists plugin to use this feature.lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Ciamis terus tancap gas memperkuat fondasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Salah satu langkah strategisnya adalah optimalisasi Jaringan Intra Pemerintah (JIP), sebagaimana diberitakan dalam laman resmi Pemkab Ciamis.
Dalam postingan tersebut, Diskominfo Ciamis menegaskan pentingnya JIP sebagai tulang punggung infrastruktur digital pemerintahan. Kepala Diskominfo Ciamis, Enda Hidayat, menyebut bahwa penguatan JIP adalah bagian penting dari integrasi layanan publik yang lebih cepat, efisien, dan transparan antar-SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).
Langkah ini sejalan dengan upaya Pemkab Ciamis mendorong transformasi digital dan meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan berbasis data. Dengan JIP yang kuat, pelayanan publik bisa lebih gesit, data bisa saling terhubung, dan koordinasi antarinstansi lebih efisien.
Namun, di tengah semangat digitalisasi itu, muncul pertanyaan menarik di kalangan masyarakat: “Sebetulnya JIP itu apaan sih?”
Jadi, Apa Itu Jaringan Intra Pemerintah (JIP)?
Bayangkan kalau setiap kantor pemerintahan di Ciamis punya “jalan tol data” sendiri yang saling terhubung, tanpa harus numpang lewat internet publik yang rawan macet dan kebocoran, atau tiba-tiba lemot gara-gara cuaca yang tak bersahabat. Nah, itulah Jaringan Intra Pemerintah, sebuah jaringan tertutup dan aman yang memungkinkan pertukaran data antarinstansi berlangsung cepat, efisien, dan terjaga dari gangguan luar.
Menurut berbagai referensi, JIP merupakan pondasi utama ekosistem digital pemerintahan. Di dalamnya, berbagai aplikasi dan layanan antarinstansi bisa saling berkomunikasi dengan lancar, mulai dari pengelolaan data penduduk, arsip digital, hingga sistem keuangan daerah.
JIP ibarat jalur khusus yang hanya boleh dilalui oleh “kendaraan resmi pemerintahan”. Kalau selama ini koordinasi antarinstansi sering tersendat gara-gara jaringan umum yang lelet atau rawan diretas, JIP hadir untuk menambal lubang-lubang itu.
Namun tentu, membangun jalan tol data ini tidak semudah mengganti kabel LAN di sebuah kantor. Ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi.
Tak Semudah “Plug and Play”
Menurut Arief Nurahmat, ahli jaringan yang juga webmaster di Lintas Priangan, implementasi JIP bukan perkara pasang kabel dan selesai. “Banyak yang mengira bikin JIP itu gampang, padahal tantangannya kompleks. Mulai dari keamanan, keandalan, koordinasi, sampai aturan mainnya,” ujarnya saat berdiskusi di ruang redaksi Lintas Prianga, Kamis (30/10/2025).
1. Keamanan
Menurut Arief, tantangan pertama adalah keamanan jaringan dan SDM. JIP memang tertutup, tapi bukan berarti kebal dari ancaman. “Kalau SDM-nya belum siap, bisa jadi malah celah masalah muncul dari dalam. Misalnya, password dibagi-bagi atau sistem belum di-update,” katanya. Jadi, selain firewall system, yang perlu diperkuat juga adalah “humanwall.”
2. Keandalan sistem
Bayangkan kalau sistem JIP down saat jam kerja. Alih-alih mempercepat pelayanan, malah bikin antrean digital makin panjang. “Keandalan teknis jadi krusial. Kalau jaringan tidak stabil atau server sering ngadat, malah nambah beban kerja, dan tentunya malah jadi buang-buang anggaran,” jelas Arief.
3. Koordinasi lintas SKPD
JIP akan efektif jika seluruh SKPD terhubung dan punya standar yang sama. “Kalau hanya sebagian yang pakai, itu seperti punya jalan tol panjang tapi hanya punya 3 pintu yang terbuka. Misal, lintas dinas butuh data dari Disdukcapil. Sementara Disdukcapil butuh suplai data dari kecamatan. Kalau sebagian kecamatan tidak siap, sama saja bohong. Pasti akan menghambat yang lain,” Arief menambahkan.
4. Regulasi dan SOP yang jelas.
Tantangan terakhir adalah aturan main. Tanpa regulasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tegas, implementasi JIP bisa membingungkan. “Siapa yang boleh akses, bagaimana alur data, sampai tanggung jawab kalau ada insiden, semua harus tertulis dan disosialisasikan,” ujar Arief.
Dan jangan lupa juga, JIP harus berdampak pada efektivitas dan efisiensi layanan publik. “Jangan sampai JIP sudah berjalan, tapi minta informasi publik masih nunggu 14 hari, dan ujung-ujungnya data tersebut tidak ada,” Puti, redaktur Lintas Priangan, menimpali.
Meski banyak tantangan, Arief optimistis Ciamis bisa jadi contoh penerapan JIP di tingkat kabupaten. “Ciamis punya potensi besar, tinggal bagaimana komitmen lintas sektor dan investasi di sisi SDM-nya. PR besar Kominfo Ciamis adalah menyebar semangat ini ke setiap SKPD,” pungkasnya.
Dengan penguatan JIP, Pemkab Ciamis tak hanya membangun jaringan digital, tapi juga membangun kepercayaan publik terhadap layanan berbasis teknologi. Sebab, di era sekarang, pemerintahan yang cepat bukan lagi soal siapa paling sibuk, tapi siapa paling terkoneksi.



