Siskamling Siaga Bencana Jadi Fokus Pemkot Bandung Jaga Lingkungan

Program siskamling siaga bencana digalakkan Pemkot Bandung untuk menjaga kebersihan dan kesiapsiagaan warga.
lintaspriangan.com, Berita Bandung – Pemerintah Kota Bandung tengah mendorong penerapan siskamling siaga bencana sebagai langkah kolaboratif menjaga kebersihan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana di wilayah perkotaan. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut program tersebut tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi harus tumbuh sebagai gerakan bersama warga untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat, aman, dan berdaya tahan.
Farhan menilai, kondisi geografis dan kepadatan penduduk Bandung menuntut model mitigasi kebencanaan yang berbasis komunitas. Karena itu, siskamling siaga bencana diharapkan menjadi ruang partisipasi sosial yang efektif dalam mendeteksi dini potensi bencana, sekaligus memperkuat kepedulian antarwarga. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat ditentukan oleh kesadaran dan keterlibatan masyarakat di setiap tingkat wilayah, mulai dari RT, RW, hingga kelurahan.
Lebih lanjut, Farhan menjelaskan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi fondasi utama dari pencegahan bencana. Masih ditemukannya tumpukan sampah di berbagai titik kota, aliran drainase yang tersumbat, hingga lemahnya pengelolaan limbah rumah tangga, merupakan faktor pemicu banjir dan gangguan sanitasi yang perlu segera ditangani. Oleh karena itu, upaya menciptakan Bandung yang bersih harus berangkat dari kebiasaan warga dalam memilah, mengurangi, dan menangani sampah secara mandiri.
Upaya Pengelolaan Sampah Berbasis Warga
Farhan menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada layanan Dinas Lingkungan Hidup atau pihak pemerintah semata. Ia berharap, setiap wilayah di Kota Bandung memiliki sistem pemilahan sampah rumah tangga yang berjalan secara konsisten. Dengan demikian, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat dikurangi, sementara kualitas sanitasi lingkungan bisa meningkat.
“Bandung hanya bisa bersih apabila setiap rumah, setiap gang, dan setiap wilayah mau mengelola sampahnya sendiri. Pemilahan sampah berbasis warga adalah kunci utamanya,” ujarnya dalam unggahan resmi di akun Instagram pribadinya pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Ia juga menyoroti bahwa budaya gotong royong dalam membersihkan lingkungan perlu kembali dihidupkan. Kegiatan kerja bakti, edukasi pengurangan sampah plastik, serta penyediaan fasilitas pengomposan di tingkat RW menjadi langkah yang dinilai strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kesadaran kolektif masyarakat terhadap penanganan sampah, menurut Farhan, berbanding lurus dengan keberhasilan siskamling siaga bencana. Lingkungan yang bersih dan drainase yang berjalan baik dapat mengurangi risiko banjir, genangan, dan penyebaran penyakit.
Revitalisasi Drainase untuk Mitigasi Banjir
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung juga melakukan revitalisasi jaringan drainase di sejumlah wilayah sebagai langkah mitigasi banjir yang kerap melanda kota saat musim hujan. Farhan menyebut bahwa rehabilitasi ini dilakukan secara bertahap, dengan prioritas pada kawasan padat penduduk dan daerah yang rawan genangan air.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari strategi penataan infrastruktur perkotaan yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana. Sistem drainase yang berfungsi baik dianggap mampu meminimalkan kerusakan lingkungan sekaligus melindungi warga dari kerugian material maupun risiko kesehatan.
Farhan menambahkan, pihaknya siap terjun langsung ke masyarakat untuk memantau jalannya program tersebut. Menurutnya, keberhasilan upaya pengurangan risiko bencana memerlukan sinergi aktif antara warga, perangkat desa, dan dinas-dinas teknis.
“Prinsipnya, program ini bukan hanya dari pemerintah. Warga bantu warga. Kepedulian lingkungan harus lahir dari diri masyarakat itu sendiri,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan agar warga menguatkan solidaritas dan memperkuat ikatan sosial sebagai dasar dari siskamling siaga bencana. Bagi Farhan, tanggap bencana tidak cukup hanya dengan pengetahuan teknis, melainkan juga empati antar-sesama.
Siskamling siaga bencana memperkuat gotong royong warga Bandung untuk menjaga kebersihan dan kesiapsiagaan terhadap risiko bencana. (MD)



