Mengingat Lagi 14 Kasus Pembunuhan Wartawan di Indonesia

lintaspriangan.com, OPINI. Berita tentang paket berisi kepala babi yang dikirim ke Kantor Redaksi Tempo menambah panjang daftar teror yang dilakukan kepada jurnalis. Menjadi jurnalis, memang kerapkali berhadapan dengan banyak risiko profesi. Dari mulai dilabeli wartawan bodrek, diculik, hingga harus kehilangan nyawa.
Tulisan ini sekedar mengingatkan kembali, bagaimana kasus-kasus pembunuhan pernah dialami para jurnalis di negeri ini. Yang menyedihkan, proses hukum kasuss-kasus pembunuhan tersebut hampir semuanya tidak tuntas. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebutkan, satu-satunya proses hukum yang tuntas adalah kasus pembunuhan yang tuntas di pengadilan adalah kasus yang dialami jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa. Sayangnya, pelaku pembunuhan AA Prabangsa justru mendapatkan remisi (keringanan hukuman) dari Jokowi semasa ia menjadi orang nomor satu di Indonesia. Meski akhirnya, remisi tersebut kemudian dibatalkan.
Berikut 14 Kasus Pembunuhan Wartawan di Indonesia:
- Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, wartawan Bernas, Yogyakarta. Ia diduga menjadi korban pembunuhan terkait pemberitaannya tentang tindak korupsi di Bantul.
- Naimullah, wartawan Harian Sinar Pagi, Pontianak. Ia diduga dibunuh terkait investigasi pembalakan liar di Kalimantan yang melibatkan oknum kepolisian.
- Agus Mulawan, wartawan Asia Press, Los Palos. Agus diduga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan milisi binaan ABRI.
- Muhamad Jamaludin, wartawan TVRI, Aceh. Ia diduga dibunuh terkait pemberintaan konflik yang terjadi di Aceh.
- Ersa Siregar, wartawan RCTI. Bersama kameramen, Ferry Santoro, Ersa melakukan tugas liputan di wilayah konflik GAM Aceh. Dalam laporannya, Kepala Staf TNI AD mengaku peluru yang membuat Ersa meregang nyawa adalah peluru milik TNI.
- Herliyanto, wartawan Tabloid Delta Pos, Probolinggo. Diduga, ia dibunuh karena liputannya tentang kasus korupsi di Desa Tulupari, Probolinggo, Jawa Timur.
- Anak Agung Narendra Prabangsa alias AA Prabangsa, Radar Bali, Bali. AA dibunuh karena memberitakan penyimpangan proyek pembangunan di Kabupaten Bangli. Dalang pembunuhan adalah Nyoman Susrama, adik Bupati Bangli Nengah Arnawa. AJI menyebut, kasus pembunuhan AA Prabangsa adalah satu-satunya kasus pembunuhan wartawan di Indonesia yang tuntas di pengadilan. Anehnya, pelaku justru sempat mendapat remisi dari Jokowi saat dirinya menjadi Presiden RI. Lantaran dikritisi oleh banyak media, remisi tersebut akhirnya dibatalkan.
- Ardiansyah Matra’is Wibisono, wartawan Tabloid Jubi, Merauke. Ia diduga dibunuh karena membongkar persaingan politik para pejabat daerah yang memperbutkan proyek agrobisnis.
- Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Pelangi, Maluku Tenggara Barat. Ia menjadi korban pembunuhan saat sedang melakukan investigasi kelangkaan minyak di Pulau Kisar.
- Ridwan Salamun, wartawan Sun TV, Tual. Ia tewas dikeroyok saat meliput aksi massa di Tual.
- Maraden Sianipar
- Martua Siregar, bersama Maraden Sianipar, keduanya adalah wartawan Pindo Merdeka, Labuhan Ratu. Keduanya tewas di areal perkebunan sawit saat meliput sengketa lahan perkebunan. Menurut keterangan Kapolda Sumut yang ketika itu dijabat Irjenpol Agus Andrianto, kedua wartawan tersebut dibunuh oleh 8 orang yang merupakan suruhan pemilik perkebunan.
- Firdaus Pangaribuan, wartawan Raja Ampat Pos. Ia menjadi korban pengeroyokan.
- Marsal Harapa, wartawan Raja Ampoat Pos, Siimalungun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah dikeroyok oleh empat oknum TNI.
Pers Indonesia, lahir dari rahim perjuangan, ketika melawan arogansi imperialisme di negeri ini. Karena itu, jurnalis Indonesia adalah jurnalis pejuang, yang tidak akan pernah berhenti menyuarakan kebenaran!
Penulis adalah Redaktur Lintas Priangan.



