Jadilah Aisyah, Meski Suamimu Bukan Muhammad

lintaspriangan.com, OPINI. Di banyak pengajian, kita cukup sering mendengar penceramah memaparkan topik sebagaimana di bawah ini:
“Bapak-bapak ingin istrinya seperti Aisyah?
Maka bapak-bapaknya juga harus seperti Nabi Muhammad.
Ibu-ibu ingin suaminya seperti Nabi Muhammad?
Maka ibu-ibunya juga harus seperti Aisyah.”
Sepintas, kalimat ini terdengar bijak. Maksudnya tentu baik: agar suami dan istri sama-sama memperbaiki diri. Agar rumah tangga tidak dipenuhi tuntutan sepihak.
Namun dalam kenyataannya, kalimat ini tak jarang juga dipahami secara keliru.
Alih-alih menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, kalimat itu justru kadang berubah menjadi alasan untuk menunda kebaikan.
Seorang istri berkata dalam hatinya, “Wajar saja aku belum seperti Aisyah. Suamiku juga belum seperti Nabi Muhammad.”
Seorang suami pun bisa berkata hal yang sama: “Bagaimana aku bisa seperti Nabi, kalau istriku juga bukan Aisyah?”
Akhirnya rumah tangga berubah menjadi arena saling menunggu. Menunggu pasangan menjadi baik terlebih dahulu.
Padahal kesalehan tidak pernah lahir dari menunggu orang lain berubah. Kesalehan lahir dari hati yang memilih taat kepada Allah, bahkan ketika keadaan tidak sempurna.
Teladan yang Sering Terlupakan
Al-Qur’an justru memberi contoh yang sangat mengejutkan.
Allah berfirman:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman: istri Fir’aun.”
(QS. At-Tahrim: 11)
Wanita ini adalah Asiyah, istri Fir’aun.
Suaminya bukan sekadar lelaki yang kurang saleh. Firaun membantai secara sadis ribuan bayi kaumnya. Menindas dan memperdaya rakyatnya. Bahkan menjadi contoh kesombongan terbesar dalam sejarah manusia, ketika dirinya mengaku sebagai Tuhan.
Kurang gila gimana Firaun. Namun Allah tetap menjadikan istrinya sebagai teladan bagi orang-orang beriman.
Asiyah tidak berkata:
“Aku akan saleh jika suamiku saleh.”
Tidak.
Ia memilih tetap beriman meski hidup bersama seorang tiran. Dari sini kita belajar satu hal: kesalehan seseorang tidak bergantung pada kesalehan pasangannya.
Ibadah Bukan Hanya Ritual, Ia Harus Berdampak
Kadang kita mengukur kesalehan hanya dari ibadah ritual.
Berapa banyak shalat sunnah yang dilakukan.
Berapa lama dzikir dilantunkan.
Berapa sering Al-Qur’an dibaca.
Semua itu tentu sangat mulia.
Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah ritual.
Beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Sunan At-Tirmidzi)
Dan akhlak pertama yang diuji justru di dalam rumah sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Sunan At-Tirmidzi)
Artinya, ukuran kesalehan tidak berhenti pada sajadah. Ia terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang yang hidup bersamanya setiap hari.
Kedudukan Suami dalam Rumah Tangga
Islam juga menempatkan suami pada posisi yang sangat penting dalam rumah tangga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ
لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.”
(HR. Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi)
Tentu Islam tidak membolehkan sujud kepada manusia. Namun hadis ini menunjukkan betapa besar hak suami dalam rumah tangga.
Bukan karena semua suami sempurna. Tetapi karena rumah tangga membutuhkan penghormatan terhadap peran masing-masing.
Satu kesalahan yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah menjadikannya sebagai ajang perbandingan.
Siapa yang lebih rajin ibadah.
Siapa yang lebih saleh.
Siapa yang lebih dekat dengan Allah.
Padahal rumah tangga bukan tempat saling mengungguli.
Rumah tangga adalah tempat saling menyempurnakan.
Jika seorang istri lebih kuat dalam amal, ia bisa menguatkan suaminya.
Jika seorang suami lebih kuat dalam pemahaman, ia bisa membimbing keluarganya.
Keduanya tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menopang.
Jadilah Aisyah
Karena itu, pesan sebenarnya sederhana.
Seorang istri tidak perlu menunggu suaminya menjadi seperti Nabi Muhammad untuk menjadi wanita yang mulia.
Ia tetap bisa menjadi seperti Aisyah dalam kesetiaan, kecerdasan, dan kelembutan.
Bahkan ketika suaminya hanyalah lelaki biasa dengan banyak kekurangan.
Sebaliknya, seorang suami juga tidak boleh berhenti berusaha memperbaiki dirinya hanya karena istrinya belum sempurna.
Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang lebih baik.
Rumah tangga adalah tentang dua orang yang sama-sama berjalan menuju Allah, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Maka jadilah Aisyah.
Meski suamimu bukan Muhammad.
Penulis:
Abu Ayyub



