Spanduk Ini Muncul di Balai Kota, Ada Apa dengan Wali Kota Tasikmalaya?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pagar Balai Kota Tasikmalaya biasanya hanya menjadi batas administratif. Senin siang ini, (02/02/2026), ia berubah fungsi menjadi medium pesan. Sebuah spanduk terbentang menghadap ke halaman kantor wali kota, menarik perhatian siapa pun yang melintas.
Tulisan pada spanduk itu singkat, bernada sindiran. Ukurannya tidak besar, tidak pula berteriak. Namun maknanya mudah ditangkap: ada keinginan bertemu pemimpin daerah yang belum pernah benar-benar terjawab. Spanduk itu seakan mewakili suara yang merasa sudah datang, tapi tak kunjung ditemui.
“Wapres datang wali kota terdepan. Giliran masyarakat datang, wali kota menghilang.” Harusnya, ini sudah sangat pedas dan patut jadi bahan evaluasi serius.
Spanduk tersebut berkaitan dengan aksi mahasiswa yang beberapa hari lalu berlangsung. Dalam aksi itu, mahasiswa meminta audiensi langsung dengan Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan. Permintaan tersebut kembali berakhir tanpa pertemuan tatap muka.
Berita Tasikmalaya lainnya: Ada PNS Tasikmalaya Ngaku Suka Main Proyek?
Peristiwa ini pun bukan kali pertama. Sejumlah pihak menilai, pola ketidakhadiran wali kota dalam menghadapi massa aksi sudah terjadi berulang. Dalam beberapa momentum sebelumnya, situasi serupa kembali terulang: aksi digelar, tuntutan disampaikan, namun dialog langsung tak pernah terjadi.
Di sinilah spanduk itu menjadi penting. Ia bukan sekadar ekspresi visual, melainkan simbol dari relasi yang dinilai belum terbangun. Pertanyaannya kemudian bergeser: apa dampak dari pola kepemimpinan yang berulang kali menghindari pertemuan langsung dengan warganya?
➡️ Lanjut ke halaman 2
Lima Risiko Jika Kepala Daerah Menghindari Dialog



