Berita Tasikmalaya

Sepi padahal Berisi: Unggahan Akun Medsos RSUD dr. Soekardjo

Hari Ini, Topiknya Ramai di Media Nasional

Langkah RSUD dr. Soekardjo ini tidak berdiri sendiri. Beberapa hari sebelum dan sesudah unggahan tersebut, isu child grooming menguat di tingkat nasional. Pemantiknya adalah buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang viral di media sosial dan kemudian diangkat luas oleh media nasional. Kisah personal itu membuka kembali kesadaran publik tentang manipulasi relasi yang kerap menyasar anak dan remaja, sering kali tanpa disadari lingkungan terdekat.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kemudian menegaskan bahwa child grooming merupakan bagian dari kekerasan seksual terhadap anak dan tidak boleh dinormalisasi. Data yang dirilis KPAI memperlihatkan betapa isu ini bukan sekadar wacana. Sepanjang tahun 2025, KPAI mencatat 2.063 anak menjadi korban kekerasan, dengan komposisi 51,5 persen anak perempuan dan 47,6 persen anak laki-laki. Kelompok usia paling rentan berada di rentang 15–17 tahun, mencapai 20,6 persen dari total korban. Berita KPAI ini mengemuka di media tanggal 17-18 Januari 2026. Unggahan medsos RSUD dr. Soekardjo lebih cepat 2 hari.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa isu perlindungan anak masih menjadi pekerjaan besar. Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata; ia bisa muncul lewat manipulasi emosional yang perlahan, rapi, dan sulit dikenali. Karena itu, KPAI juga menekankan bahwa penanganan tidak cukup berhenti pada proses hukum. Pemulihan psikologis dan pendampingan berkelanjutan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Di titik inilah peran RSUD menjadi relevan. Saat fenomena yang berkaitan dengan kesehatan mengemuka, layanan kesehatan harus sudah siap. RSUD dr. Soekardjo membaca momentum itu dengan tepat. Tanpa menunggu kasus lokal mencuat, tanpa menanti laporan viral, rumah sakit ini memilih bergerak lebih awal. Langkah tersebut mencerminkan fungsi layanan kesehatan daerah dalam upaya pencegahan, edukasi, dan pemulihan, bukan sekadar respons saat masalah sudah terjadi.

Langkah itu memang tidak ramai. Tapi dalam isu seperti ini, keramaian bukan tujuan. Yang dibutuhkan adalah kesiapan dan keberanian untuk hadir lebih awal. Karena sering kali, bantuan paling penting datang bukan saat semua orang berteriak, melainkan saat seseorang akhirnya berani berdiri lebih depan.

Unggahan yang sepi itu justru menjadi penanda sikap. Di tengah budaya viral dan kejar atensi, RSUD dr. Soekardjo menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu diukur dari angka. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sunyi, tapi tepat waktu. (AS)


Catatan Redaksi:
Berita ini bukan advertorial (berita berbayar). Bahkan redaksi sama sekali tidak berkomunikasi dengan pihak RSUD dr. Soekardjo. Berita ini kami angkat, sebagai apresiasi terhadap langkah kecil tapi strategis yang sudah dilakukan RSUD dr. Soekardjo untuk kepentingan masyarakat.

Laman sebelumnya 1 2 3

Related Articles

Back to top button