lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Cuaca di Tasikmalaya beberapa hari terakhir terasa berbeda dari biasanya. Hujan turun lebih deras, angin datang lebih kencang, dan petir sesekali menyambar tanpa jeda panjang. Dalam waktu singkat, situasi ini memicu berbagai kejadian di banyak titik kota.
Sejak awal April 2026, hujan dengan intensitas tinggi mulai mengguyur hampir seluruh wilayah. Dampaknya langsung terasa di lapangan. Sejumlah titik dilaporkan mengalami genangan, sementara di lokasi lain pohon tumbang menutup jalan dan merusak fasilitas warga. Data dari BPBD menunjukkan, kejadian tersebar dan tidak terjadi di satu wilayah saja.
Di beberapa kawasan seperti Indihiang dan sekitarnya, pohon tumbang bahkan sempat menghambat arus lalu lintas. Petugas harus turun langsung untuk mengevakuasi batang pohon yang menutup badan jalan. Aktivitas warga pun sempat terganggu, terutama pada jam-jam sibuk.
Kerusakan juga terjadi di lingkungan permukiman. Salah satunya di Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung. Sebuah rumah warga dilaporkan rusak setelah tertimpa pohon saat hujan deras disertai angin kencang pada sore hari. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun kerugian material cukup terasa bagi pemilik rumah.
Yang menarik, pola cuaca di Tasikmalaya kali ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, kejadian serupa terus berulang. Hujan deras datang, disusul angin kencang, lalu diikuti laporan pohon tumbang atau kerusakan bangunan. Di beberapa titik, petir juga dilaporkan menyambar, menambah risiko yang harus dihadapi warga.
Cuaca di Tasikmalaya memang sedang tidak baik-baik saja. Seorang warga Ciamis yang melintas di wilayah Faozan, Indihiang, dilaporkan sempat terjadi dari motor yang ia kendarai di bawah guyuran hujan.
“Ia jatuh pas tikungan ke arah Pesantren Benda karena kaget oleh kilatan dan suara petir yang keras,” ujar Fian, warga Cipedes yang kebetulan menyaksikan dan sempat menolong saat kejadian.
Jika dicermati, ada peta potensi bencana yang semakin terlihat. Pertama, hujan deras memicu genangan di sejumlah wilayah. Lalu yang kedua, angin kencang membuat pohon-pohon tua tak lagi kuat bertahan, bahkan termasuk beberapa tiang. Dan yang ketiga, petir meningkatkan potensi bahaya lain, terutama terkait instalasi listrik. Ketiganya datang hampir bersamaan, membuat dampaknya terasa lebih luas.
Penanganan masih terus dilakukan. BPBD bersama petugas gabungan bergerak dari satu titik ke titik lain untuk membersihkan material pohon, membuka akses jalan, dan mendata kerusakan. Namun, dengan kondisi cuaca yang masih belum stabil, potensi kejadian serupa masih terbuka.
Situasi ini menjadi pengingat sederhana, tapi penting. Cuaca di Tasikmalaya sekarang tidak bisa lagi dianggap rutinitas musim semata. Ada perubahan pola yang membuat dampaknya lebih cepat terasa dan lebih luas menjalar.
Pada akhirnya, warga Kota Tasikmalaya khususnya, tentu berharap hujan tidak datang dengan membaca bencana. Tapi sambil menunggu itu, satu hal yang mulai disadari banyak orang: ketika langit Tasikmalaya mulai gelap dan angin tiba-tiba berembus lebih kencang, itu bukan lagi sekadar tanda hujan akan turun, melainkan tanda untuk lebih waspada.

































