lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Musyawarah Daerah (Musda) XVI KNPI Tasikmalaya mulai bergulir. Tahapan demi tahapan sudah diumumkan, mulai dari penjaringan hingga pemilihan ketua baru. Namun di balik proses formal itu, muncul peringatan serius: jangan sampai momentum ini kembali ternodai praktik transaksional.
Isu tersebut mencuat seiring dimulainya proses seleksi kandidat Ketua KNPI Tasikmalaya periode 2026–2029. Sejumlah pihak menilai, pemilihan kali ini harus menjadi titik balik. Bukan lagi sekadar perebutan dukungan, melainkan adu gagasan yang benar-benar mencerminkan arah gerakan pemuda.
Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI Kabupaten Tasikmalaya, Nana Sumarna, secara tegas mengingatkan agar kandidat tidak mengedepankan praktik transaksional. Ia menekankan, kontestasi di tubuh KNPI Tasikmalaya harus bersih dari “dukungan gelap” yang berpotensi merusak marwah organisasi.
Menurutnya, yang dibutuhkan KNPI saat ini adalah pemimpin dengan visi jelas dan kapasitas kepemimpinan yang teruji. Bukan figur yang hanya kuat secara dukungan, tetapi lemah dalam gagasan. “KNPI ini rumah besar pemuda. Jangan sampai diisi oleh kepentingan sesaat,” menjadi garis tegas yang digaungkan dalam dinamika menjelang Musda.
Pelaksanaan Musda XVI sendiri dijadwalkan mencapai puncaknya pada 23 April 2026 di Singaparna. Sebelumnya, panitia telah membuka tahapan mulai awal April, termasuk pengambilan formulir pendaftaran pada 7–8 April, serta pengembalian berkas hingga 11 April 2026.
Dalam proses ini, setiap calon Ketua KNPI Tasikmalaya diwajibkan memenuhi sejumlah syarat ketat. Di antaranya dukungan minimal dari 10 organisasi kepemudaan (OKP) dan 3 DPK KNPI tingkat kecamatan. Syarat tersebut dinilai sebagai upaya memastikan kandidat memiliki basis dukungan struktural yang jelas.
Namun di sisi lain, syarat dukungan ini juga menjadi sorotan. Tidak sedikit yang menilai, potensi transaksi bisa terjadi dalam proses pengumpulan rekomendasi. Di sinilah integritas kandidat benar-benar diuji—apakah mampu membangun dukungan secara sehat, atau justru terjebak dalam pola lama.
Panitia Musda menegaskan bahwa seluruh tahapan dirancang terbuka dan profesional. Setiap kandidat diwajibkan mendaftar langsung tanpa perwakilan, sebagai bentuk komitmen personal dalam mengikuti kontestasi. Transparansi ini diharapkan mampu menutup celah praktik-praktik yang tidak diinginkan.
Secara umum, Musda XVI KNPI Tasikmalaya bukan sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, ini adalah momentum penting untuk menentukan arah gerakan pemuda di Kabupaten Tasikmalaya ke depan. Siapa yang terpilih nantinya akan memegang peran strategis dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, hingga kepemudaan di daerah.
Di tengah dinamika tersebut, publik kini menaruh perhatian lebih. Apakah Musda kali ini benar-benar menjadi ajang adu gagasan? Atau justru kembali mengulang pola lama yang sarat transaksi?
Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan. Yang pasti, harapan terhadap lahirnya kepemimpinan bersih di tubuh KNPI Kabupaten Tasikmalaya kini sedang diuji. (AS)

































