Lusa, Wapres Gibran ke Tasikmalaya: Ini Tujuannya

Ke Cipasung, Pesantren Bersejarah di Singaparna
Salah satu tujuan utama Gibran ke Tasikmalaya adalah Pondok Pesantren Cipasung, yang berlokasi di Jalan KH Ruhiat, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari Jakarta, pesantren ini berjarak sekitar 280 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih enam jam perjalanan darat.
Pesantren Cipasung didirikan oleh KH Ruhiat pada akhir tahun 1931. Pada masa awal berdirinya, jumlah santri yang menetap tercatat sekitar 40 orang. Sebagian santri tersebut merupakan murid yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat KH Ruhiat sebelumnya menimba dan mengembangkan keilmuan. Selain santri mukim, sejak awal Cipasung juga dikenal dengan keberadaan santri kalong, yakni warga sekitar yang mengaji pada malam hari dan kembali ke rumah masing-masing pada siang hari.
Dalam perjalanannya, Cipasung tumbuh menjadi salah satu pesantren paling berpengaruh di Jawa Barat, dengan jejaring alumni dan peran sosial yang kuat di tengah masyarakat. Tradisi keilmuan yang dijaga, dipadukan dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman, membuat pesantren ini tetap relevan lintas generasi.
Pendiri pesantren, KH Moh Ilyas Ruhiat, wafat pada 2007, namun warisan pemikiran dan nilai yang ditanamkannya terus hidup dalam aktivitas pendidikan dan sosial pesantren hingga hari ini. Itulah sebabnya, kunjungan Wapres ke Cipasung tidak hanya dimaknai sebagai agenda kerja, tetapi juga bentuk penghormatan negara terhadap sejarah panjang pendidikan Islam di Tasikmalaya.
Kunjungan Wapres Gibran ke Tasikmalaya, khususnya ke Pondok Pesantren Cipasung, menjadi penanda penting relasi negara dan pesantren—sebuah pertemuan antara kekuasaan formal dan akar sosial yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Singkatnya: bukan sekadar datang, tapi datang ke tempat yang punya makna. (AS)



