9 Fakta Penting di Balik Peristiwa Penculikan Bayi di Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kasus penculikan bayi di Tasikmalaya yang terjadi di sekitar Masjid Agung Singaparna bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Di balik pengungkapan cepat aparat kepolisian, terdapat sejumlah fakta penting yang menunjukkan bahwa kejadian ini bukan peristiwa spontan, melainkan rangkaian tindakan yang memiliki pola.
Berikut 9 fakta penting yang terungkap dari berbagai laporan terkait peristiwa penculikan bayi di Tasikmalaya.
Fakta 1: Bayi Berusia Dua Bulan, Usia yang Sangat Rentan
Korban dalam peristiwa ini adalah bayi laki-laki berusia dua bulan. Pada usia tersebut, bayi belum memiliki kemampuan merespons situasi darurat, tidak bisa berteriak meminta tolong, dan sepenuhnya bergantung pada perlindungan orang dewasa di sekitarnya.
Kondisi ini membuat bayi berada pada fase paling rentan. Dalam konteks kejahatan, usia yang sangat dini kerap dipandang sebagai kondisi yang meminimalkan risiko perlawanan. Fakta usia korban ini menjadi salah satu aspek penting yang tak bisa diabaikan dalam memahami bagaimana peristiwa penculikan ini bisa terjadi.
Fakta 2: Lokasi Kejadian Berada di Area Strategis dan Terbuka
Peristiwa penculikan terjadi di sekitar Masjid Agung Singaparna, sebuah kawasan publik yang cukup ramai dan mudah diakses dari berbagai arah. Lokasi ini juga dikenal dekat dengan jalur kendaraan umum, termasuk bus antarwilayah.
Keberadaan akses transportasi di sekitar lokasi memberi peluang bagi pelaku untuk segera meninggalkan area setelah membawa korban. Situasi ini memperlihatkan bahwa lokasi kejadian memiliki nilai strategis bagi seseorang yang ingin bergerak cepat dan menghilang dari wilayah asal.
Fakta 3: Pelaku Merupakan Orang yang Sudah Dikenal Korban
Pelaku diketahui bukan orang asing bagi ibu korban. Keduanya telah saling mengenal melalui media sosial dan beberapa kali bertemu secara langsung sebelum kejadian berlangsung. Faktor kedekatan inilah yang membuat korban tidak menaruh kecurigaan saat pertemuan terjadi.
Fakta ini mempertegas bahwa ancaman terhadap keselamatan anak tidak selalu datang dari orang asing. Kedekatan sosial, bahkan yang terbangun cukup lama, tetap memerlukan batas kewaspadaan yang ketat ketika menyangkut keselamatan buah hati.
▶️ Baca halaman berikutnya
(Modus, tekanan psikologis, dan langkah awal pelaku)



