Tasikmalaya: Sendiri di Ujung Usia, Lansia Ditemukan Meninggal di Rumah

Lintas Priangan, BERITA TASIKMALAYA – Malam itu, rumah kecil di Babakan Kertasari, Kelurahan Margabakti, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, tampak gelap dan sunyi. Tak ada suara televisi. Tak ada sapaan.
Hanya bau menyengat yang perlahan mengundang tanya. Rabu (4/3/2026) sekitar pukul 21.00 WIB, warga akhirnya mengetahui kenyataan pahit itu: seorang lansia ditemukan meninggal di rumah dalam kondisi memprihatinkan.
Ia adalah Usmanudin (71), buruh harian lepas yang selama ini hidup seorang diri.

Bau Menyengat di Balik Pintu Tertutup
Kisah pilu ini bermula ketika Ajat Sudrajat (53), warga sekitar, datang ke rumah Usmanudin untuk memijat seperti biasa. Namun langkahnya terhenti di depan pintu.Rumah gelap.
Tak ada jawaban saat dipanggil. Dan yang paling mengusik—bau tidak sedap tercium dari dalam.
Ajat segera memanggil warga dan menghubungi anak korban. Bersama-sama mereka membuka rumah yang sudah beberapa hari tertutup rapat itu.
Di dalam kamar, Usmanudin terbaring tak bernyawa.
Peristiwa lansia ditemukan meninggal di rumah Tasikmalaya ini sontak membuat warga terdiam. Tak ada yang menyangka, pria renta yang biasa terlihat menyapa tetangga itu telah pergi tanpa seorang pun mengetahui.
Sudah Beberapa Hari Tak Terlihat
Menurut warga, Usmanudin terakhir kali terlihat sekitar satu minggu sebelumnya. Sejak itu, rumahnya lebih sering tertutup. Tak ada yang benar-benar curiga. Hingga bau menyengat itu menjadi pertanda.
Petugas dari Polsek Cibeureum Kota Tasikmalaya bersama tim medis datang melakukan pemeriksaan awal. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Kapolsek Cibeureum, AKP Iwan Sujarwo, memastikan bahwa kasus lansia ditemukan meninggal di rumah ini diduga kuat karena faktor kesehatan.
“Korban memiliki riwayat penyakit. Secara medis tidak ditemukan bekas penganiayaan,” ujarnya, Kamis (5/3/2026) dini hari.
Hidup Sendiri di Masa Tua
Anak korban, Iip (35), menguatkan bahwa ayahnya memang sudah lama sakit. Namun karena kondisi dan keadaan, Usmanudin tetap memilih tinggal di rumahnya sendiri.
Di usia senja, ia menjalani hari-harinya tanpa pendamping tetap.Peristiwa lansia ditemukan meninggal di rumah Tasikmalaya ini bukan sekadar kabar duka. Ia adalah potret sunyi kehidupan sebagian warga lanjut usia yang menjalani masa tua dalam kesendirian.
Tak ada alarm darurat. Tak ada yang rutin memeriksa. Hingga waktu akhirnya mengambil perannya tanpa saksi.
“Silent Death” yang Kerap Terjadi
Fenomena seperti ini kerap disebut sebagai “silent death”—kematian yang baru diketahui setelah beberapa hari karena korban tinggal seorang diri.
Di banyak daerah, kasus lansia ditemukan meninggal di rumah semakin sering terjadi. Urbanisasi, anak merantau, serta lemahnya sistem pemantauan lansia menjadi faktor yang memperbesar risiko.
Kematian Usmanudin menjadi pengingat getir: usia senja bukan hanya tentang kesehatan fisik, tetapi juga tentang kehadiran dan perhatian.
Warga Terpukul, Keluarga Ikhlas
Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan selesai, pihak keluarga menerima peristiwa ini sebagai musibah. Tidak ada tanda pidana. Tidak ada dugaan kekerasan.
Jenazah Usmanudin kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak.
Rumah kecil di Babakan Kertasari itu kini kembali sunyi. Namun bagi warga sekitar, peristiwa lansia ditemukan meninggal di rumah ini akan lama membekas.
Karena di balik pintu yang tertutup itu, ada kisah tentang usia yang menua dalam diam—dan sebuah akhir yang datang tanpa suara. (Hs)



