Hujan, Doa dan Titik Putih yang Membawa PSGC Kembali

Adu Penalti, Air Mata, dan Pulang dengan Kepala Tegak
Adu penalti selalu kejam. Ia tak peduli siapa yang dominan, siapa yang paling lelah, siapa yang paling ingin menang. Yang diuji hanya satu: ketenangan.
Di titik itu, PSGC Ciamis berdiri tegak.
Satu demi satu penendang melangkah. Dua algojo Persiba gagal. Empat penendang PSGC menuntaskan tugasnya. Tanpa selebrasi berlebihan. Tanpa drama berlebih. Seperti orang-orang yang sudah terlalu lama menunggu, lalu akhirnya menemukan jalan pulang.
Skor 4-2. PSGC menang. PSGC promosi.
Di atas kertas, ini hanya hasil pertandingan. Tapi bagi Ciamis, ini lebih dari itu. Ini tentang klub yang lahir dari tanah sendiri, tumbuh bersama warganya, jatuh, lalu bangkit dengan cara yang pelan tapi pasti.
PSGC terakhir kali tampil di Liga 2 pada musim 2017. Saat itu, mereka terdegradasi setelah kalah di play-off. Tidak ada gemuruh besar. Tidak ada drama nasional. Hanya kekecewaan yang disimpan rapi, lalu dibawa pulang.
Delapan tahun berselang, kini mereka kembali. Bukan dengan janji besar. Bukan dengan sorotan berlebihan. Tapi dengan kerja panjang, disiplin, dan satu keyakinan: bahwa klub ini tak pernah benar-benar sendirian.
Di Ciamis, PSGC bukan sekadar tim. Ia adalah cerita bersama. Tentang lapangan-lapangan kecil. Tentang obrolan warung kopi. Tentang doa-doa yang tak pernah masuk statistik pertandingan.
Maka ketika peluit akhir berbunyi di Solo, yang pulang ke Ciamis bukan hanya tim yang promosi. Tapi juga harapan yang akhirnya menemukan jalannya.
PSGC Ciamis kini kembali ke Liga 2.
Dengan kepala tegak.
Dengan harapan yang tak pernah padam.
Dan dengan satu kabupaten yang berdiri di belakangnya, tanpa perlu diminta. (AS)



