Hujan, Doa dan Titik Putih yang Membawa PSGC Kembali

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Hujan turun pelan di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (7/2/2026) petang. Bagi sebagian orang, itu hanya cuaca.
Bagi PSGC Ciamis, hujan itu seperti pengingat: tak ada perjalanan pulang yang benar-benar mudah.
Di lapangan, 22 pemain berlari dengan napas berat. Di luar garis putih, ribuan pasang mata—entah hadir langsung atau berdoa dari jauh—menunggu satu kabar yang sama: PSGC kembali ke Liga 2.
Play-off promosi Liga Nusantara bukan sekadar pertandingan perebutan juara ketiga. Ini laga hidup-mati. Satu tiket. Satu kesempatan. Satu langkah menuju Liga 2, tempat yang pernah ditinggalkan PSGC delapan tahun lalu.
PSGC memukul lebih dulu. Menit ke-23, Shahih Elang Rishandy menyundul bola hasil sepak pojok. Gol itu bukan sekadar angka di papan skor. Ia seperti teriakan panjang dari sebuah kabupaten kecil di Priangan Timur yang tak pernah berhenti berjuang.
Namun bukanlah perjuangan jika tak bertemu ujian dan tantangan. Persiba Bantul membalas. Menit ke-40, Fachrizal Maulana menyamakan skor. Bola mati kembali berbicara. Seketika, stadion menegang.
Menjelang jeda, Sidang Iskus mengubah sunyi menjadi riuh. Gol menit ke-45 membawa PSGC unggul 2-1. Babak pertama ditutup, tapi tentus aja, cerita belum berakhir, baru setengah perjalanan.
Bagi PSGC, babak kedua adalah tentang bertahan, tentang menahan, tentang sabar. Persiba terus menekan, dan pada menit ke-73, Sandi Samosir menyamakan skor 2-2. Lagi-lagi sundulan. Lagi-lagi dari sepak pojok. Seolah pertandingan ini memang ditulis untuk berakhir dramatis.
Waktu normal habis. Perpanjangan waktu lewat tanpa gol. Dan seperti banyak kisah besar lain, semuanya harus diputuskan di titik putih.
➡️ Halaman selanjutnya: Ketika Titik Putih Membawa PSGC Kembali ▶



