lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Keberanian dan pengabdian para pendahulu menjadi warisan penting yang perlu diteruskan santri Tasikmalaya. Menjelang Hari Santri Nasional 2026, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., mengajak generasi santri memaknai perjuangan melalui keterlibatan dalam menjaga persatuan dan membantu kehidupan masyarakat.
Sejarah perjuangan ulama dan santri memberi pelajaran tentang kesediaan mengambil tanggung jawab ketika bangsa menghadapi ancaman. Nilai tersebut tetap relevan untuk menghadapi persoalan hari ini, termasuk merawat kerukunan dan menjaga kepercayaan di antara sesama warga.
Santri Tasikmalaya Meneruskan Keberanian Para Pendahulu
“Para pendahulu kita menunjukkan keberanian ketika kemerdekaan harus dipertahankan. Santri hari ini perlu mewarisi keteguhan itu: berani membela kebenaran, menjaga persaudaraan, dan mengambil tanggung jawab ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Ade.
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober merujuk pada Resolusi Jihad 1945. Peristiwa tersebut memperlihatkan hubungan erat antara keyakinan agama dan tanggung jawab mempertahankan tanah air. Kepentingan bangsa menjadi bagian dari pengabdian yang diperjuangkan ulama dan santri.
“Ketika memperingati Hari Santri, kita mengenang KH Hasyim Asy’ari dengan seruan jihadnya untuk mempertahankan kemerdekaan. Di Tasikmalaya, kita juga memiliki teladan KH Zainal Mustafa yang bersama para santrinya melakukan perlawanan terhadap pendudukan Jepang di Sukamanah pada 1944. Keduanya mengajarkan keteguhan memegang prinsip dan keberanian mengambil tanggung jawab. Semangat itulah yang perlu diteruskan santri hari ini melalui ilmu dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Ade.
Dalam kehidupan sekarang, keberanian dapat tumbuh melalui sikap yang dekat dengan keseharian. Menolak menyebarkan informasi yang belum jelas, mengingatkan teman agar tidak terpancing provokasi, serta tetap menghormati orang yang berbeda pandangan membutuhkan keteguhan yang perlu terus dilatih.
Santri memiliki ruang untuk mengambil peran tersebut melalui pergaulan, kegiatan pendidikan, organisasi, maupun keterlibatan di lingkungan tempat tinggalnya. Pengetahuan yang dipelajari mendapat kesempatan untuk diuji dalam cara memperlakukan sesama.
“Ilmu dan adab yang dipelajari santri akan terasa manfaatnya ketika hadir dalam kehidupan masyarakat. Saat ada perselisihan, ikut menenangkan. Ketika ada warga kesulitan, ikut membantu. Dari tindakan seperti itulah kepercayaan tumbuh dan persatuan kita terpelihara,” tuturnya.
Pengabdian Santri Tasikmalaya dalam Menjaga Kebangsaan
Bagi Kesbangpol, penguatan wawasan kebangsaan berkaitan dengan kemampuan masyarakat hidup bersama dalam perbedaan. Persatuan memerlukan hubungan yang terus dirawat, ruang untuk saling mendengar, dan kesediaan menyelesaikan persoalan tanpa memperlebar permusuhan.
Tradisi belajar di pesantren dapat menjadi bekal bagi santri untuk terlibat dalam pekerjaan tersebut. Kebiasaan hidup bersama, menghormati guru, serta menjalankan tanggung jawab sehari-hari memberi pengalaman yang dapat dikembangkan dalam pengabdian yang lebih luas.
Tantangan juga hadir di ruang digital. Informasi bergerak cepat, sementara kesempatan memeriksa kebenarannya sering dilewatkan. Dalam keadaan seperti itu, kehati-hatian berbicara dan menyebarkan kabar menjadi bagian penting dari tanggung jawab kebangsaan.
“Kita ingin santri tumbuh dengan pengetahuan yang luas dan pendirian yang kuat, sekaligus mampu merangkul. Kota Tasikmalaya membutuhkan generasi yang dapat menjaga keyakinannya, menghormati sesamanya, dan bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Hari Santri memberi kesempatan untuk membawa kembali kisah perjuangan ke dalam percakapan generasi muda. Dari sana, keberanian dan pengabdian dapat menemukan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Warisan perjuangan itu diteruskan ketika seorang santri bersedia hadir: menjaga tetangganya tetap rukun, membantu warga yang membutuhkan, dan menggunakan ilmunya agar kehidupan bersama menjadi lebih baik.
