Tajuk

Pengerukan Pasir Sungai: Kencang di Larangan, Sunyi di Solusi

Akar Masalah Itu di Hulu, Bukan di Hilir!

Pendangkalan sungai bukan persoalan sepele. Ia bukan hanya perubahan bentuk dasar sungai, tetapi perubahan langsung terhadap tingkat risiko hidup masyarakat di sekitarnya.

Sungai yang dangkal kehilangan kapasitasnya. Air yang seharusnya tertampung, justru meluap lebih cepat. Banjir tidak lagi menunggu waktu lama. Ia datang lebih sering, lebih tiba-tiba, dan lebih sulit diprediksi. Dalam konteks ini, pengerukan pasir sungai sering dipandang sebagai solusi cepat oleh masyarakat, meski tidak selalu tepat jika dilakukan tanpa perencanaan.

Sejumlah penelitian menunjukkan, sedimentasi yang tinggi dapat menghambat aliran sungai dan secara langsung meningkatkan risiko banjir. Di beberapa daerah aliran sungai di Indonesia, volume sedimen yang mengalir ke hilir bahkan mencapai jutaan ton per tahun akibat kerusakan di hulu, seperti penggundulan hutan dan alih fungsi lahan.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Di Jawa Barat, Sungai Citarum menjadi contoh nyata bagaimana sedimentasi akibat kerusakan di hulu berujung pada pendangkalan dan meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir. Penumpukan sedimen yang tidak terkendali membuat kapasitas sungai terus menurun. Kenaikan sediment yield rata‑rata dari 3,1 juta ton/tahun menjadi 6,7 juta ton/tahun. Dimana penyebabnya? Di hulu! Pendangkalan terjadi gara-gara urbanisasi dan deforestasi (sumber).

Lalu di Daerah Aliran Sungai Citanduy, masih di Jawa Barat. Pelepasan sedimentasi di sungai ini mencapai 2,4 juta ton per tahun. Di mana penyebabnya? Lagi-lagi di hulu. Hilir itu penerima dampak. (sumber)

Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Kendal. Pendangkalan Sungai Penut akibat sedimentasi menyebabkan banjir yang merendam area persawahan warga. Fakta ini memperkuat bahwa pengerukan pasir sungai sering muncul sebagai reaksi warga terhadap kondisi yang sudah mendesak.

Kata Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kendal: Sedimentasi sungai cukup cepat sehingga terjadi pendangkalan. Karena dangkal pada musim penghujan tidak kuasa menampung dan mengakibatkan banjir”, Minggu, 18 Januari 2026. (sumber)

Perlu ditegaskan: endapan pasir yang menumpuk di hilir bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ia adalah hasil dari proses panjang yang dimulai dari kerusakan di bagian hulu.

Jika kawasan hulu tetap terawat, tanpa penggundulan hutan dan tanpa penebangan liar—maka material seperti pasir tidak akan mudah terbawa arus hingga menyebabkan pendangkalan di hilir. Artinya, kebutuhan akan pengerukan pasir sungai sebenarnya bisa ditekan jika pengelolaan hulu dilakukan dengan baik.

Sebaliknya, ketika hulu rusak, hujan tidak lagi sekadar meresap, tetapi menyeret tanah dan pasir ke aliran sungai. Inilah yang membuat pendangkalan terus berulang, dan pengerukan pasir sungai menjadi aktivitas yang seolah tak pernah selesai.

Halaman selanjutnya: Kencang di Larangan, Sepi di Solusi


Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button