Tajuk

“Di Tengah Dunia yang Semakin Retak, Indonesia Harus Tetap Tegak”

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS.  Saat banyak negara di dunia sibuk dengan perang dan konflik yang tak kunjung reda, kita justru sering lupa pada satu hal yang paling dekat: Indonesia bukan sekadar negara, ia adalah keajaiban yang diam-diam tetap utuh di tengah dunia yang semakin retak.

Sejenak, mari kita kembali sebentar, merenungkan bangsa kita: Indonesia.

Di dunia ini, manusia sepakat bahwa garis khatulistiwa adalah jalur kehidupan paling ramah. Matahari tidak terlalu kejam, tanah tidak terlalu dingin, dan alam seperti memberi ruang bagi manusia untuk tumbuh tanpa banyak perlawanan. Namun dari hampir 200 negara di dunia, hanya segelintir yang dianugerahi garis imajiner penuh berkah itu. Dan Indonesia, adalah satu di antaranya.

Keistimewaan negeri ini tidak berhenti di sana.

Di belahan dunia lain, batas negara kadang hanya selembar garis di peta, bahkan tanpa sungai, tanpa gunung, tanpa sekadar selokan. Mereka berdempetan, namun tak bisa bersatu. Sementara di sini, lebih dari 17 ribu pulau dipisahkan oleh laut luas. Tapi justru, karena laut itulah kita dipersatukan.

Di tempat lain, kesamaan bahasa pun tak cukup untuk menyatukan. Di kita? Ada lebih dari 700 bahasa ibu yang hidup, tumbuh, dan digunakan setiap hari. Namun kita tetap memilih satu nama untuk bahasa persatuan: Bahasa Indonesia.

Ini bukan hal biasa. Ini anomali yang indah.

Sejarah dunia mencatat bagaimana bangsa-bangsa besar jatuh oleh gelombang imperialisme. Daratan Amerika direbut dari Suku Indian. Benua Australia dari Aborigin. Dan dalam waktu yang relatif singkat, penguasaan itu menjadi permanen, sampai detik ini. Tapi Nusantara berbeda. Tiga setengah abad dicoba untuk ditaklukkan, ujung-ujungnya mereka harus balik kandang.

Seolah ada sesuatu yang tak kasat mata, yang menjaga negeri ini.

Dan ketika kemerdekaan itu pun datang, bukan dengan bersimbah darah dan taruhan nyawa. Kemerdekaan itu seperti diantarkan Alloh SWT kepada kita. Tuhan memberikan kesempatan merdeka secara cuma-cuma, dan leluhur kita membuktikan bahwa negeri ini sanggup mempertahankannya.

Namun hari ini, kita mulai lupa.

Kita terlalu sibuk mengejar masa depan, sampai lupa siapa kita. Terlalu sering melihat keluar, sampai kehilangan kebanggaan ke dalam. Padahal dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik, krisis, dan ketegangan antarbangsa terus membesar.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, ancaman itu sudah sangat dekat. Terlalu naif rasanya jika hari ini kita berfikir, ledakan perang di berbagai negara itu tidak akan menghampiri halaman negeri ini.

Di titik inilah, kita perlu berhenti sejenak.

Mengingat kembali. Menyadari ulang.

Bahwa kita adalah bangsa besar. Bukan semata-mata karena jumlah penduduknya, tapi karena kemampuannya untuk tetap bersatu dalam perbedaan yang ekstrem. Bahwa kita bukan bangsa yang mudah dikalahkan—karena sejak awal, kita memang tidak pernah benar-benar bisa ditundukkan.

Dari kesadaran itulah, Lintas Priangan akan menerbitkan kembali rubrik Wawasan Kebangsaan (Wasbang).

Sebuah ruang kecil, dengan harapan besar. Ruang untuk menyalakan kembali api yang mungkin mulai redup. Untuk mengingatkan, tanpa menggurui. Untuk menguatkan, tanpa memaksakan.

Rubrik ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Albadar dan media online Lintas Priangan, sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan kembali narasi-narasi kebangsaan yang hangat, membumi, dan relevan dengan zaman.

Harapannya sederhana: ketika ancaman benar-benar datang di depan mata, kita tidak sampai lupa, bahwa kita bangsa besar.

Setiap kata dalam rubrik ini akan menjadi pengingat, bahwa kita adalah Indonesia.
Bangsa besar, yang sejak dulu—dan insha Alloh selamanya—tidak akan terkalahkan!

Related Articles

Back to top button