Ketua KNPI Kota Tasikmalaya: Tanpa Peran Pemuda, Proklamasi Tak Akan Terjadi

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tasikmalaya, Dhani Tardiwan Noor, menegaskan bahwa keberanian pemuda pada 16 Agustus 1945 menjadi faktor kunci terjadinya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia keesokan harinya. Menurutnya, aksi yang dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok itu membuktikan peran vital generasi muda dalam menentukan arah sejarah bangsa.
“Pemuda saat itu tidak hanya memikirkan ide, tapi berani mengambil risiko. Mereka menjamin siap mempertahankan kemerdekaan yang akan diproklamasikan. Tanpa keberanian itu, sejarah Indonesia bisa sangat berbeda,” ujar Dhani saat diwawancarai di Tasikmalaya, Kamis (14/8).
Latar Situasi Menjelang Proklamasi
Dhani menjelaskan, sehari sebelum peristiwa Rengasdengklok, Jepang telah menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Informasi ini cepat sampai ke Jakarta melalui jalur komunikasi para pejuang dan tokoh politik.
Namun, Presiden pertama RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta saat itu masih memilih melakukan komunikasi dan menunggu arahan dari Jepang. Mereka khawatir proklamasi yang dilakukan sepihak dapat memicu bentrokan bersenjata dan jatuhnya korban rakyat sipil.
“Pemuda menilai menunda proklamasi sama saja menggadaikan momentum. Mereka tahu bahwa keadaan Jepang di Indonesia sudah goyah. Kesempatan itu tidak boleh hilang,” kata Dhani.
Penculikan dan Pemisahan dari Pengaruh Jepang
Pada dini hari 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda —di antaranya Sukarni Kartodiwirjo, Chaerul Saleh, Wikana, Darwis, Adam Malik dan Yusuf Kunto, bergerak cepat. Mereka mendatangi kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur dan membawanya bersama Hatta ke sebuah rumah milik Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang.
Langkah ini, jelas Dhani, bertujuan menjauhkan kedua tokoh bangsa tersebut dari pengaruh Jepang maupun tokoh tua yang cenderung mengikuti prosedur resmi melalui PPKI. “Pemuda saat itu sangat tegas. Mereka memaksa para pemimpin untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang. Pada momentum ini pemuda hadir, menegaskan janji setianya pada tanah air. Merdekakan Indonesia, dan pemuda siap menghadapi apapun resikonya. Jaminan dari pemuda ini membuat para tokoh lebih siap,” tegasnya.
Negosiasi dan Jalan Tengah
Sementara Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok, Achmad Soebardjo di Jakarta melakukan perundingan dengan perwakilan pemuda. Ia memberikan jaminan bahwa proklamasi akan dilakukan tanpa menunggu sidang PPKI. Kesepakatan tercapai, dan pada malam 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta.
Malam itu, rumah Laksamana Tadashi Maeda menjadi tempat perumusan teks proklamasi. Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo menulis naskahnya, kemudian Sayuti Melik mengetik dengan beberapa perubahan redaksional.
Puncak Perjuangan
Keesokan paginya, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan di halaman rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, disaksikan sejumlah tokoh pergerakan, rakyat, dan para pemuda yang telah mendorong lahirnya momentum tersebut.
Bendera Merah Putih yang dijahit Fatmawati untuk pertama kalinya berkibar di langit kemerdekaan. “Itulah hasil dari keberanian pemuda, yang tidak sekadar bicara, tapi berani bertindak untuk masa depan bangsanya,” kata Dhani.
Pesan untuk Generasi Sekarang
Dhani menegaskan bahwa medan perjuangan pemuda masa kini memang berbeda, namun esensi perjuangannya tetap sama. “Dulu kita berhadapan dengan penjajah asing. Sekarang, tantangannya adalah mempertahankan kedaulatan, membangun kemajuan, dan mengawal persatuan bangsa. Pemuda harus menjadi penggerak, bukan penonton,” ujarnya.
Ia berharap, semangat Rengasdengklok tetap hidup di dada generasi muda. “Kemerdekaan itu hasil keberanian mengambil keputusan di saat genting. Jangan biarkan semangat itu padam,” tutup Dhani. (Lintas Priangan/AA)




