Memotret Citra Pemkot Tasikmalaya di Minggu Pertama 2026

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Di era ketika percakapan publik tak lagi hanya berlangsung di balai kota atau ruang rapat resmi, jejak digital menjadi cermin yang jujur—kadang terlalu jujur—tentang suasana sebuah daerah. Berangkat dari kesadaran itu, Redaksi Lintas Priangan saat ini tengah melakukan analisis konten media online dan media sosial untuk memotret gambaran sentimen tentang Tasikmalaya.
Analisis ini mencakup periode 1 hingga 7 Januari, dengan fokus pada tiga kata kunci utama: wali kota tasikmalaya, pemkot tasikmalaya, dan pemerintah kota tasikmalaya. Tujuannya sederhana namun penting: memahami bagaimana kota ini dibicarakan, dinilai, dan dirasakan publik di ruang digital—tanpa prasangka, tanpa kesimpulan dini.
Dalam proses ini, media yang dilibatkan sangat beragam. Untuk media sosial, analisis mencakup Facebook, Instagram, TikTok, X (Twitter), dan YouTube. Sementara untuk media online, cakupannya meliputi seluruh portal pemberitaan, baik yang berdomisili di Tasikmalaya, Priangan Timur, regional, nasional, hingga internasional. Selama sebuah konten menyebut (mention) kata kunci yang telah ditetapkan, maka konten tersebut akan ikut terdeteksi dan masuk dalam korpus analisis. Tidak ada seleksi berdasarkan afiliasi media, jarak geografis, atau kecenderungan redaksional—semuanya diperlakukan setara sebagai bagian dari percakapan publik.
Mengapa Analisis Sentimen Perlu Dilakukan?
Editorial ini perlu menyampaikan satu hal sejak awal: analisis media bukan alat untuk menghakimi, melainkan instrumen membaca realitas. Setiap hari, ribuan konten lahir dari media online, unggahan media sosial, hingga komentar warganet. Sebagian bernada apresiatif, sebagian kritis, dan tak sedikit yang netral—sekadar menyampaikan informasi.
Dengan menganalisis sentimen positif, negatif, dan netral, redaksi berupaya menyusun peta percakapan publik secara proporsional. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar atau paling salah, melainkan untuk melihat pola: isu apa yang paling sering muncul, nada apa yang dominan, serta bagaimana posisi Pemkot Tasikmalaya dalam narasi publik selama periode pengamatan.
Pendekatan ini penting, terlebih di awal tahun, ketika ekspektasi masyarakat biasanya sedang tinggi. Tahun baru sering kali datang bersama harapan baru—dan tentu saja, dengan catatan lama yang belum sepenuhnya selesai.
Bagaimana Analisis Ini Dilakukan?
Agar tidak jatuh pada kesan “opini redaksi”, analisis ini dilakukan dengan kerangka metodologis yang jelas. Redaksi mengumpulkan konten yang memuat tiga kata kunci tersebut dari media online dan media sosial dalam rentang waktu yang sama. Setiap konten kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori sentimen:
- Positif, bila memuat apresiasi, dukungan, atau optimisme terhadap kebijakan dan kinerja.
- Negatif, bila berisi kritik, keluhan, atau kekecewaan.
- Netral, bila bersifat informatif tanpa penilaian emosional.
Dalam tahap akuisisi atau pengumpulan data, Lintas Priangan memanfaatkan sejumlah aplikasi dan perangkat digital yang selama ini memang lazim digunakan dalam kebutuhan riset sentimen dan pemantauan media. Pemanfaatan teknologi ini membantu memastikan jangkauan data yang luas dan konsisten, sekaligus memudahkan proses penelusuran konten berbasis kata kunci. Meski demikian, redaksi tetap menempatkan pembacaan konteks sebagai kunci utama, agar hasil klasifikasi tidak lepas dari makna utuh sebuah konten.
Yang perlu ditekankan, hasil analisis ini bersifat deskriptif, bukan normatif. Redaksi tidak sedang menyimpulkan “masyarakat puas” atau “masyarakat marah”, melainkan menyajikan bagaimana konten digital memotret Pemkot Tasikmalaya selama periode tersebut.
Untuk Apa Semua Ini?
Pertanyaan ini wajar muncul. Jawabannya: untuk transparansi, refleksi, dan literasi publik.
Bagi pemerintah Kota Tasikmalaya, gambaran sentimen bisa menjadi bahan refleksi—cermin tentang bagaimana kebijakan dipersepsikan di ruang publik. Bagi masyarakat, ini menjadi upaya meningkatkan literasi media: bahwa opini publik bukan sekadar suara paling keras, melainkan akumulasi banyak percakapan dengan nada yang beragam. Sementara bagi redaksi, ini adalah bagian dari tanggung jawab jurnalistik untuk menyajikan konteks, bukan hanya peristiwa.
Redaksi Lintas Priangan meyakini bahwa kota yang sehat adalah kota yang berani bercermin. Analisis ini bukan akhir, melainkan awal dari percakapan yang lebih dewasa: tentang apa yang sudah berjalan, apa yang perlu dibenahi, dan bagaimana semua pihak—pemerintah, media, dan warga—bisa berada di posisi yang sama-sama konstruktif.
Pada akhirnya, Tasikmalaya bukan hanya kumpulan kebijakan dan program, melainkan ruang hidup bersama. Membaca sentimennya secara jujur adalah salah satu cara untuk merawat ruang itu—agar kritik tidak menjadi bising, apresiasi tidak menguap, dan informasi tetap berdiri di tengah sebagai pijakan bersama.
Redaksi akan menyampaikan hasil analisis ini secara terbuka. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak semua pihak mendengar dengan lebih saksama apa yang sedang dikatakan kota ini tentang dirinya sendiri.



