Sriwijaya FC Terancam Degradasi, Alarm Nyaring di Jakabaring

lintaspriangan.com, SPORT. Situasi makin genting bagi Sriwijaya FC. Memasuki pekan ke-19 Indonesia Championship, tim berjuluk Laskar Wong Kito itu terpuruk di dasar klasemen dengan hanya 2 poin dari 18 pertandingan. Lebih dari sekadar posisi, angka-angka yang menyertai perjalanan mereka musim ini menjadi sorotan serius.
Dari total laga yang dijalani, Sriwijaya baru mencetak 13 gol dan sudah kebobolan 69 kali. Selisih gol minus 56 bukan sekadar statistik—itu cerminan krisis struktural. Rata-rata hampir empat gol bersarang di gawang mereka setiap pertandingan. Dalam lima laga terakhir, Sriwijaya selalu kalah.
Bermain di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring yang berkapasitas 23 ribu penonton seharusnya menjadi keuntungan. Namun tekanan publik justru bisa menjadi beban tambahan jika hasil buruk terus berlanjut. Dalam beberapa pertandingan kandang terakhir, pertahanan terlihat mudah ditembus, terutama saat menghadapi tim dengan transisi cepat.
Rentetan Kekalahan dan Dampaknya
Kekalahan demi kekalahan bukan hanya memengaruhi klasemen, tetapi juga psikologi tim. Ketika gol cepat bersarang, ritme permainan sering runtuh. Koordinasi lini belakang goyah, lini tengah kehilangan kontrol, dan serangan kerap tumpul sebelum masuk kotak penalti.
Masalah Sriwijaya bukan hanya pada satu sektor. Minimnya produktivitas di lini depan membuat tekanan kepada lini belakang semakin besar. Tanpa gol, harapan meraih poin menjadi sangat tipis. Sepak bola memang permainan kolektif, tapi ketika pertahanan rapuh dan serangan tak efektif, kombinasi itu menjadi resep krisis.
HALAMAN BERIKUTNYA ➜ Sriwijaya FC Terancam Degradasi, Masih Adakah Jalan Keluar?



