Beranda blog Halaman 23

Kodim 0613/Ciamis dan Gandara Grup Gelar Buka Puasa Bersama

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Dalam rangka menyemarakkan Ramadan 1447 Hijriah, Kodim 0613/Ciamis dan Gandara Grup menggelar kegiatan silaturahmi yang diisi dengan buka puasa bersama para tokoh agama, tokoh masyarakat, insan media, dan anak yatim.

Kegiatan yang digelar di Halaman Makodim 0613/Ciamis ini menjadi bagian dari rangkaian agenda Semarak Ramadan 1447 Hijriah. Adapun tujuannya untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat sinergi lintas elemen di wilayah Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar.

Sebelum buka bersama, Kodim 0613/Ciamis juga membagikan takjil kepada masyarakat sekitar dan pengguna jalan yang melintas di depan Makodim, memberikan santunan kepada anak yatim. Selain itu diserahkan juga bantuan sembako kepada para awak media yang hadir, hal ini sebagai bentuk kepedulian dan apresiasi.

Komandan Kodim (Dandim) 0613/Ciamis, Letkol Inf Antonius Ari Widiono, S.Sos., M.Hum mengatakan, kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi merupakan sarana membangun komunikasi sosial yang harmonis antara TNI, pengusaha dan masyarakat.

“Ramadan adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat kebersamaan. Kami ingin memastikan, Kodim 0613/Ciamis selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam tugas kewilayahan, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan,” katanya, Rabu (25/02/2026).

Menurutnya, dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan insan media memiliki peran strategis dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Sinergi yang terjalin dengan baik akan mempermudah pelaksanaan berbagai program teritorial yang bermuara pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap silaturahmi dapat terus terjaga dengan baik.

“Dengan komunikasi yang baik, kita bisa bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, serta memperkuat persatuan di Ciamis dan Kota Banjar,” jelasnya.

Presiden Gandara Grup, H. Cahya Gandara, mengungkapkan, pihaknya selalu siap mendukung kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Baginya, kesuksesan sebuah usaha harus berbanding lurus dengan kontribusi sosial.

​”Alhamdulillah, cuaca mendukung dan acara meriah. Ini adalah komitmen kami di Gandara Grup untuk terus berbagi kebaikan, khususnya bagi warga Ciamis dan Banjar. Kami percaya hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

BACA JUGA: Ciamis Raih Predikat Kabupaten Terbaik Pengelolaan Sampah

Kegiatan kolaborasi antara Dandim 0613/Ciamis dan Gandara Grup ini menjadi bukti nyata sinergitas antara TNI, pengusaha, dan masyarakat adalah kunci keharmonisan wilayah.

Acara yang dihadiri ribuan masyarakat lintas sektor itu berlangsung khidmat dan penuh keakraban, mencerminkan komitmen Kodim 0613/Ciamis untuk terus membangun kebersamaan dan harmoni bersama seluruh lapisan masyarakat.

Sebelumnya, Kodim 0613/Ciamis juga telah menggelar Lomba Marawis tingkat Kabupaten yang diikuti 30 grup marawis dari Ciamis dan Kota Banjar pada, Senin (23/02/2026).

Banyaknya jumlah peserta menjadi indikator kuat, seni marawis masih diminati dan terus berkembang di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan kalau marawis tetap menjadi media ekspresi religius yang relevan bagi generasi muda.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, berikut para juara Lomba Marawis
Juara Utama:
Al Hidayah – Cimari
Shoutu Hood – Kawali
Ektinazia – Cijeungjing

Juara Harapan:
Al Barkah Bani Pathun – Panawangan
Marawis Al Falah – Kota Banjar
El Firdaus – Panawangan

Para juara menerima hadiah langsung dari Dandim 0613/Ciamis, Letkol Inf Antonius Ari Widiono, S.Sos., M.Hum, dan Presiden Gandara Grup, H. Cahya Gandara. (FSL)

Ciamis Raih Predikat Kabupaten Terbaik Pengelolaan Sampah

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Kabupaten Ciamis meraih penghargaan sebagai Kabupaten Terbaik Nasional dalam Pengelolaan Sampah pada ajang Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah 2026.

Kegiatan yang bertemakan “Kolaborasi Untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah)” diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Balai Kartini, Jakarta, pada tanggal 25 hingga 26 Februari 2026.

Penghargaan diberikan dengan nilai kinerja 74,68 dalam kategori “Menuju Kota/Kabupaten Bersih Tahun 2025”, yang diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq kepada perwakilan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Capaian ini menjadi bukti konkret upaya pengelolaan sampah berbasis kolaborasi dan partisipasi masyarakat di Ciamis telah dinilai efektif dan berkelanjutan oleh pemerintah pusat.

Rakornas Sebagai Tindak Lanjut Arahan Presiden

Rakornas Pengelolaan Sampah 2026 merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam percepatan penanganan darurat sampah nasional. Dalam sambutannya, Menteri Hanif Faisol Nurofiq menyoroti kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia yang semakin kritis.

“Rata-rata usia TPA nasional telah mencapai 17 tahun dengan batas teknis maksimal 20 tahun. Bapak Presiden mengingatkan, kita hanya memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikan persoalan sampah secara serius dan terintegrasi dari hulu ke hilir,” katanya.

Menurut Menteri Hanif, baru sekitar 34 persen TPA di Indonesia yang telah meninggalkan praktik open dumping, sementara 66 persen lainnya masih perlu bertransformasi ke sistem controlled landfill dan sanitary landfill yang lebih ramah lingkungan. Transformasi tersebut krusial untuk menekan pencemaran tanah, air, dan udara, serta mengendalikan lindi dan gas metana secara lebih aman.

Program Kolaboratif Jadi Kunci Keberhasilan

Di tengah tantangan nasional, Kabupaten Ciamis mampu menunjukkan konsistensi dalam pengelolaan sampah meskipun dengan anggaran terbatas. Beberapa program unggulan yang menjadi indikator kuat dalam penilaian nasional antara lain:

  • Pilah sampah dari rumah tangga
  • Penguatan bank sampah induk dan unit
  • Pemberdayaan kelompok maggot
  • Pengembangan komposter
  • Gerakan menabung sampah

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, Dr. Giyatno, menyampaikan penghargaan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen masyarakat.

“Alhamdulillah, penghargaan ini adalah buah gotong royong dari semua pihak mulai dari Bupati, pasukan ungu, bank sampah induk dan unit, kelompok maggot dan komposter, hingga masyarakat yang menjadikan kebersihan bukan sekadar program, tetapi sudah menjadi budaya dan tradisi,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari komitmen dan konsistensi Bupati Ciamis, Dr. H Herdiat Sunarya yang terus mendorong gerakan kebersihan secara berkelanjutan, dan selalu mengingatkan kebersihan adalah tanggung jawab bersama.

“Pak Bupati konsisten tidak hanya dalam kebijakan, tetapi juga hadir langsung di lapangan untuk memberikan solusi nyata dan memastikan program berjalan dengan baik,” jelasnya.

Penghargaan Sebagai Motivasi untuk Perbaikan Berkelanjutan

Giyatno menjelaskan, penghargaan yang diraih bukanlah titik akhir, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah agar Ciamis semakin bersih, sehat, dan berkelanjutan.

“Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mempertegas kalau pendekatan kolaboratif antara pimpinan daerah, masyarakat, dan sistem pengelolaan yang terstruktur mampu menjadi jawaban atas krisis TPA yang tengah dihadapi secara nasional,” ungkapnya.

Pada Rakornas tersebut juga diumumkan perubahan kategori penilaian Kota/Kabupaten Bersih atau Kotor Tahun 2026 sebagai langkah persiapan menuju sistem evaluasi setara Adipura pada tahun berikutnya. (FSL)

Titik Terang Masalah Padel di Kota Tasikmalaya: Case Closed!

0
Titik Terang Masalah Padel di Kota Tasikmalaya: Case Closed!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Polemik lapangan padel yang sempat menyeret isu perizinan, sidak DPRD, hingga keresahan pekerja, akhirnya menemukan titik terang. Rabu, 25 Februari 2026, seluruh perwakilan pengelola lapangan padel di Kota Tasikmalaya duduk satu meja dengan Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya. Forum itu menjadi titik temu bab panjang yang beberapa pekan terakhir menyita energi banyak pihak.

Dari pertemuan tersebut terungkap data resmi yang selama ini hanya beredar setengah-setengah. Total lapangan padel di Kota Tasikmalaya berjumlah 20 lokasi. Empat di antaranya telah mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Empat lainnya baru memiliki PBG dan masih menunggu SLF. Sementara 12 lokasi sisanya tengah berproses. Dari keseluruhan itu, delapan lapangan sudah beroperasi.

Angka-angka itu menjelaskan satu hal: persoalan ini bukan hitam-putih. Ada yang sudah patuh, ada yang setengah jalan, dan ada yang masih menuntaskan administrasi. Dalam posisi itulah Komisi III mengambil sikap yang lebih bijak. DPRD tidak meminta penghentian total operasional. Sebaliknya, pengelola diminta segera menyelesaikan seluruh perizinan, sementara lembaga perizinan diingatkan agar tidak mempersulit proses.

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: Ranking 2 di Sekolah, Nisa Mengemis Tiap Malam di Pusat Kota Tasikmalaya

Keputusan itu sekaligus menjawab kekhawatiran yang sempat muncul, terutama dari para pekerja. Sebelumnya, pemberitaan di Lintas Priangan menyoroti suara pekerja lapangan yang menggantungkan hidup pada proyek padel. Bagi mereka, polemik izin bukan sekadar urusan dokumen, melainkan soal keberlanjutan pekerjaan. Ketika pembangunan tersendat, penghasilan pun ikut terancam. Di tengah sulitnya mencari kerja, proyek seperti ini menjadi harapan nyata, bukan sekadar tren olahraga kelas menengah.

Situasi itulah yang membuat polemik padel berkembang menjadi isu sensitif. Di satu sisi, ada kewajiban hukum yang tak bisa diabaikan. PBG dan SLF bukan formalitas; keduanya menyangkut standar bangunan dan kelayakan fungsi. Di sisi lain, ada perputaran ekonomi yang sudah berjalan, dari pengelola, pekerja konstruksi, hingga tenaga operasional.

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: Ada Indikasi Korupsi di SDN Ternama di Kota Tasikmalaya, tapi Menguap!

Melalui pertemuan tadi, DPRD menyebut persoalan ini selesai di tingkat dewan. Tidak perlu lagi audiensi lanjutan. Tahap berikutnya adalah komunikasi teknis dan koordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan seluruh proses izin benar-benar dituntaskan.

Namun “case closed” dalam konteks ini bukan berarti pekerjaan selesai. Justru sebaliknya, ini menjadi ujian konsistensi. Apakah proses SLF bisa dipercepat tanpa menurunkan standar? Apakah semua pengelola benar-benar menepati komitmen? dan Apakah lembaga yang mengeluarkan izin tidak mbalelo?

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: Gerakan Pangan Murah Pemkot Tasikmalaya Dimulai Besok, Catat Lokasinya!

Padel di Kota Tasikmalaya kini berada di fase penataan. Euforia tetap ada, lapangan tetap ramai, usaha tetap berjalan. Tapi setelah riuh perdebatan, pesan yang tersisa sederhana: olahraga boleh berkembang, investasi boleh tumbuh, namun administrasi tidak boleh tertinggal, dan ujung-ujungnya tetap harus memberikan maslahat untuk masyarakat.

Baca Berita Tasikmalaya lainnya: Ade Hendar: SEABlings dan Status WNI Memicu Patriotisme Indonesia

Jika semua pihak konsisten, polemik ini akan dikenang sebagai fase transisi. Jika tidak, ia bisa kembali menjadi bola panas yang memantul lebih keras dari sebelumnya. (AS)


Berita terkait Padel Tasikmalaya:

Ranking 2 di Sekolah, Nisa Mengemis Tiap Malam di Pusat Kota Tasikmalaya

0
Pengemis Anak di Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan Publik

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di bawah cahaya lampu salah satu rumah makan di pusat Kota Tasikmalaya, seorang anak perempuan berdiri pelan. Hijab merah marun menutupi kepalanya. Di sampingnya, adiknya yang lebih kecil memilih diam saat ditanya namanya.

Namanya Nisa. Siswa kelas IV SD.
“Saya ranking 2,” katanya singkat.

Kalimat itu terdengar biasa. Tapi menjadi luar biasa ketika diketahui bahwa hampir setiap malam Nisa mengemis.

Ia tidak bernyanyi seperti pengamen. Tidak menjual apa pun. Tidak beratraksi. Ia benar-benar meminta-minta kepada pengunjung rumah makan.

Dari rumahnya di Bojong, Kota Tasikmalaya, Nisa berjalan kaki sejauh 3–5 kilometer menuju pusat kota. Bersama adiknya, ia menempuh jarak itu hampir setiap malam.

Perjalanan pulang-pergi yang bagi orang dewasa mungkin hanya 10 menit naik motor, bagi Nisa adalah langkah demi langkah di bawah lampu jalan.


Mengemis Sejak Ayahnya Meninggal

Nisa mulai turun ke jalan sekitar 3–4 tahun lalu, setelah ayahnya meninggal dunia. Sejak itu, ia membantu ibunya mencari uang.

“Untuk beli beras,” ucapnya pelan.

Tak ada drama dalam kalimat itu. Tak ada keluhan panjang. Hanya fakta sederhana: ia ingin membantu ibunya agar dapur tetap mengepul.

Siang hari, ia tetap sekolah.
Ia belajar.
Ia berprestasi.

Malam hari, ia berdiri di sudut rumah makan.

Kontras itu seperti dua dunia yang saling bertabrakan dalam tubuh seorang anak kelas IV.

Di sekolah, ia bersaing nilai.
Di jalan, ia bersaing dengan rasa malu.


Bojong dan Ironi Kota

Nisa tinggal di Bojong, Kota Tasikmalaya. Wilayah yang juga dikenal sebagai lokasi tempat tinggal mantan Wali Kota Tasikmalaya, H. Budi Budiman. Ia bahkan mengaku mengenalnya.

Detail kecil yang terasa simbolik.

Seorang anak yang tahu nama mantan wali kota.
Namun tetap berjalan 5 kilometer setiap malam untuk mengemis.

Mungkin ketika sang wali kota masih menjabat, Nisa belum turun ke jalan.
Mungkin ia masih sekadar anak kecil yang bermain di sore hari.

Kini, ia berjalan bukan untuk bermain.
Ia berjalan untuk beras.


Pertanyaan untuk Tasikmalaya

Fenomena anak mengemis di pusat Kota Tasikmalaya bukan hal baru. Namun ketika yang berdiri di sudut itu adalah siswa SD berprestasi, ceritanya menjadi berbeda.

Apakah Dinas Sosial Kota Tasikmalaya mengetahui kondisi ini?
Apakah ada program khusus bagi anak yatim dari keluarga rentan?
Apakah intervensi sosial sudah benar-benar menyentuh yang paling kecil dan paling sunyi?

Seorang anak ranking 2 yang tetap berprestasi meski malamnya mengemis adalah potret ketangguhan. Tapi juga potret celah.

Karena kota yang baik bukan hanya yang membangun jalan dan gedung.
Melainkan yang memastikan anak-anaknya tidak perlu berjalan jauh di malam hari untuk membeli beras.

Dan mungkin yang paling menyentuh bukan fakta bahwa Nisa mengemis.

Melainkan fakta bahwa ia tetap datang ke sekolah esok paginya — membawa buku, bukan menyerah. (AS)

Prediksi Persebaya vs PSM Makassar | Rabu, 25 Feb 2027

0
Prediksi Persebaya vs PSM Makassar | Rabu, 25 Feb 2027

lintaspriangan.com, SPORT.  Pertandingan pekan ke-23 Super League Indonesia akan menghadirkan duel klasik penuh tensi antara Persebaya Surabaya dan PSM Makassar di Gelora Bung Tomo Stadium, Rabu (25/02/2026) pukul 20.30 WIB.

Di atas kertas, ini adalah pertemuan tim peringkat enam melawan tim posisi 13. Tetapi dalam realitas kompetisi yang ketat, jarak itu tidak selalu berarti aman. Persebaya mengoleksi 35 poin dari 22 laga, sedangkan PSM mengantongi 23 poin. Namun satu kemenangan bisa mengubah peta psikologis kedua tim secara drastis.

Jika laga ini hanya dilihat dari klasemen, analisisnya akan dangkal. Pertarungan ini lebih dalam: soal momentum, kestabilan emosi, dan kemampuan mengelola tekanan.


Persebaya: Produktif, tapi Belum Stabil

Persebaya mencetak 33 gol dan kebobolan 23. Secara statistik, ini tim dengan selisih gol positif yang cukup sehat. Namun performa lima laga terakhir menunjukkan grafik yang tidak linear: dua kemenangan, satu seri, dua kekalahan.

Masalah utama mereka bukan pada daya serang, melainkan ritme konsistensi. Saat mesin menyala, mereka mampu mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. Namun ketika transisi bertahan terlambat, ruang di lini belakang menjadi terlalu mudah dieksploitasi.

Kekalahan dari Persijap dan Bhayangkara menjadi bukti bahwa Persebaya masih rentan ketika menghadapi tim yang bermain direct dan disiplin menunggu kesalahan. Dalam dua laga itu, mereka terlihat agresif, tetapi kurang efektif dalam membaca momentum defensif.

Namun bermain di kandang memberi variabel tambahan. Gelora Bung Tomo bukan sekadar stadion berkapasitas 45 ribu penonton. Itu adalah ruang tekanan kolektif. Persebaya sering kali tampil lebih berani dan agresif ketika didorong atmosfer tribun.

Pertanyaannya: apakah tekanan itu menjadi energi, atau justru beban?

Dalam beberapa pertandingan musim ini, Persebaya tampak kesulitan mengontrol tempo ketika unggul cepat. Mereka cenderung terburu-buru menggandakan skor dan kehilangan keseimbangan struktur.

Jika menghadapi PSM yang dikenal sabar menunggu celah, situasi ini bisa menjadi bumerang.

Halaman selanjutnya… PSM: Tertekan Klasemen, Berbahaya dalam Situasi Terpojok


Kultum Aparatur 07: “Mengelola Ego demi Organisasi”

0
Kultum Aparatur 07: “Mengelola Ego demi Organisasi”

lintaspriangan.com, KULTUR. Madinah pernah menjadi saksi peristiwa luar biasa dalam sejarah kemanusiaan. Kaum Muhajirin datang dari Makkah tanpa harta, tanpa rumah, bahkan sebagian tanpa keluarga. Mereka meninggalkan segalanya demi iman.

Di Madinah, kaum Anshar menyambut mereka.

kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Bukan sekadar menerima sebagai tamu, tetapi sebagai saudara. Mereka berbagi rumah. Berbagi kebun. Berbagi kehidupan. Bahkan ada yang menawarkan separuh hartanya.

Tidak ada kecemburuan. Tidak ada perasaan terancam. Tidak ada ego kelompok.

Yang ada hanyalah ukhuwah.

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar bukan hanya peristiwa sosial. Ia adalah fondasi peradaban. Dari persatuan itulah negara Madinah berdiri kokoh.


Sesama Mukmin Bersaudara

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Innamal-mu’minūna ikhwatun
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini singkat, tetapi maknanya mendalam. Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar hubungan emosional, tetapi komitmen untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan saling menahan diri dari merugikan satu sama lain.

Ramadhan menghidupkan kembali semangat ukhuwah. Kita berdiri sejajar dalam shaf, tanpa melihat jabatan. Kita berbuka bersama, tanpa melihat status. Kita sama-sama lapar, sama-sama berharap rahmat Allah.

Ego mencair ketika kesadaran iman menguat.


Ego Sektoral dan Tantangan Organisasi

Dalam kehidupan birokrasi, salah satu tantangan terbesar bukan kurangnya kompetensi, tetapi ego sektoral.

Setiap unit merasa paling penting.
Setiap bagian merasa paling berjasa.
Setiap individu ingin diakui perannya.

Padahal organisasi tidak dibangun oleh satu tangan.

Ego yang tidak terkelola akan melahirkan sekat. Sekat melahirkan miskomunikasi. Miskomunikasi melahirkan pelayanan yang terhambat.

Sinergi tidak mungkin lahir tanpa kerendahan hati.

Aparatur di semua sektor dituntut bukan hanya profesional, tetapi juga mampu mengelola ego demi kepentingan yang lebih besar: organisasi dan masyarakat.


Persatuan di Tengah Perbedaan

Indonesia berdiri di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahkan latar belakang pendidikan dan birokrasi adalah realitas yang tidak bisa dihindari.

Namun justru di situlah kekuatan bangsa.

Persatuan bukan berarti menyeragamkan. Persatuan berarti menyatukan arah meski berbeda cara.

Muhajirin dan Anshar berbeda latar belakang. Tetapi mereka satu tujuan. Demikian pula aparatur negara dari berbagai sektor dan unit—perbedaan harus dikelola menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari perbedaan, tetapi bangsa yang mampu mengelolanya dengan dewasa.


Refleksi 07 Ramadhan

Ramadhan hari ketujuh mengajak kita bertanya:

Apakah ego kita masih lebih besar daripada kepentingan organisasi?
Apakah kita mudah tersinggung ketika pendapat tidak diterima?
Apakah kita sudah benar-benar melihat rekan kerja sebagai saudara seperjuangan?

Mengelola ego bukan berarti kehilangan harga diri.
Ia berarti mendewasakan diri.

Karena pada akhirnya, organisasi yang kuat dibangun oleh pribadi-pribadi yang mampu menahan ego dan menguatkan ukhuwah.

Ramadhan mengajarkan: persaudaraan adalah kekuatan. Dari hati yang bersatu, lahir organisasi yang kokoh dan bangsa yang utuh.


Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.


kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Gerakan Pangan Murah Pemkot Tasikmalaya Dimulai Besok, Catat Lokasinya!

0
Gerakan Pangan Murah Pemkot Tasikmalaya Dimulai Besok, Catat Lokasinya!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Program pangan murah pemkot tasikmalaya kembali digelar. Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan Gerakan Pangan Murah (GPM) dimulai besok sebagai bagian dari langkah konkret menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Tahun Baru 2026.

Kegiatan ini merupakan sinergi antara Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia, dan Bulog. Fokus utamanya adalah membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dibanding harga pasar.

Gerakan ini tidak sekadar seremoni tahunan. Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok yang kerap terjadi menjelang momentum hari besar, intervensi pasar seperti GPM menjadi instrumen penting untuk meredam gejolak harga. Pemerintah daerah berupaya memastikan ketersediaan stok sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Sejumlah komoditas pokok akan disediakan dalam kegiatan tersebut, mulai dari beras SPHP, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, hingga kebutuhan pangan strategis lainnya. Seluruhnya dijual dengan harga yang diklaim berada di bawah harga pasar.

Dengan pola pelaksanaan yang menyasar beberapa kecamatan, program ini juga diharapkan merata dan menjangkau lebih banyak warga. Bukan hanya soal murah, tapi juga soal akses yang dekat dan mudah dijangkau masyarakat.

Halaman selanjutnya: Jadwal dan Lokasi Gerakan Pangan Murah Kota Tasikmalaya


Ada Indikasi Korupsi di SDN Ternama di Kota Tasikmalaya, tapi Menguap!

0
Ini Contoh Indikasi Korupsi di Tasikmalaya yang Dibiarkan Menguap

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Tasikmalaya kembali dihadapkan pada fakta yang tidak nyaman. Dalam laporan audit keuangan pemerintah daerah, di salah satu sekolah dasar negeri ternama di Kota Tasikmalaya, tercatat memiliki temuan pertanggungjawaban dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp67.326.850 yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Angka rinci yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sebagai berikut:

  • Obat UKS Rp11.865.000
  • Peralatan kebersihan Rp5.979.000
  • ATK Rp9.356.600
  • Fotokopi Rp40.126.250

Totalnya, indikasi penyelewengan anggaran di salah satu sekolah dasar di Pusat Kota Tasikmalaya tersebut lebih dari Rp67 juta.

Namun persoalan utamanya bukan pada jenis belanja. Masalahnya terletak pada dokumen yang menjadi dasar pembayaran uang negara tersebut.

Hasil audit menemukan tanda tangan pada bukti pertanggungjawaban bukan milik pemilik toko. Faktur tidak memiliki nomor. Lebih jauh lagi, ditemukan softcopy kop surat faktur dalam file Excel di perangkat bendahara yang digunakan untuk mencetak laporan pertanggungjawaban.

Sementara itu, konfirmasi kepada pemilik toko menyebutkan bahwa setiap faktur resmi selalu memiliki nomor dan dicetak oleh penjual, bukan oleh pembeli. Artinya, terdapat perbedaan antara praktik administrasi yang dijelaskan penyedia dengan dokumen yang dipakai dalam laporan sekolah.

Ini bukan sekadar salah ketik atau kekeliruan kecil. Ini sudah bukan sekadar pemalsuan dokumen yang terencana, ini indikasi penggelapan duit yang masif dan tersetruktur!

Dalam sistem pengelolaan keuangan negara, faktur bernomor adalah elemen kontrol dasar. Ia menjadi bukti bahwa transaksi benar-benar terjadi dan dapat ditelusuri. Ketika nomor faktur tidak ada, tanda tangan tidak sesuai, dan template dokumen ditemukan di perangkat internal, pertanyaan yang muncul menjadi serius: atas dasar apa pembayaran dilakukan?

Dana BOS adalah uang negara. Ia bersumber dari APBN dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan. Ketika pertanggungjawabannya mengandung kejanggalan, publik berhak bertanya: apakah ini hanya satu kasus, atau hanya satu yang terungkap?

Jika fakta-fakta seperti ini berhenti sebagai catatan audit dan tidak berkembang menjadi pemeriksaan yang lebih mendalam, publik bisa menangkap pesan yang keliru: bahwa penyimpangan yang merugikan negara cukup diselesaikan dengan rekomendasi administratif.

Halaman selanjutnya: Unsur Korupsi Terpenuhi


Lebaran Bersayap: dari Ruang Redaksi SWAKKA untuk Senyum Yatim Piatu

0
Lebaran Bersayap: dari Ruang Redaksi SWAKKA untuk Senyum Yatim Piatu

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ramadan selalu datang dengan banyak rasa, diantaranya: haru dan harapan. Haru karena kita diingatkan pada mereka yang berjalan tanpa pelukan ayah atau ibu. Harapan karena selalu ada tangan-tangan yang memilih untuk peduli. Tahun ini, kepedulian itu dirajut dalam satu gerakan bernama Lebaran Bersayap SWAKKA.

Lebaran Bersayap merupakan singkatan dari Lebaran Bersama Yatim Piatu. Program ini digagas dan diselenggarakan oleh SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), sebuah komunitas yang tak hanya rajin merangkai kata, tetapi juga ingin merangkai asa.

Pada dasarnya, kegiatan ini berupa pemberian hadiah lebaran kepada anak yatim piatu yang terkategori tidak mampu secara finansial. Bukan sekadar bingkisan seragam, melainkan paket hadiah lebaran yang disesuaikan dengan kebutuhan personal masing-masing anak. Ada yang membutuhkan perlengkapan sekolah, sepatu baru, tas, buku, bahkan kebutuhan kuliah. Karena bagi SWAKKA, setiap anak punya cerita yang berbeda—dan hadiah terbaik adalah yang benar-benar dibutuhkan.

Targetnya tidak kecil: semoga saja bisa mencapai minimal 100 anak yatim piatu tidak mampu. Mereka akan dicari langsung oleh redaksi SWAKKA maupun berdasarkan informasi dari masyarakat. Anak yatim piatu yang masih sekolah, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, berhak menjadi penerima manfaat.

Mulai hari ini, Selasa (24/02/2026), proses penjaringan donatur dan pendataan anak yatim sasaran sudah dimulai. Pembagian hadiah direncanakan berlangsung H-3 Lebaran, agar mereka bisa menyambut hari raya dengan senyum yang lebih lebar, tanpa merasa berbeda dari teman-temannya.

Untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas, SWAKKA menghadirkan sistem Kupon Digital SWAKKA Bersayap. Siapapun bisa ikut berdonasi dengan membeli kupon ini. Setiap Kupon Digital memuat nama dermawan, kode unik, serta nilai donasi yang diberikan. Seluruh data tersebut akan ditayangkan secara terus-menerus di semua media-media anggota SWAKKA.

Dengan sistem ini, para donatur dapat mengecek apakah donasinya sudah tercatat atau belum. Jika belum masuk dalam daftar publikasi, donatur dapat langsung melapor ke nomor resmi SWAKKA di 0815 7373 1158. Mekanisme ini menjadi komitmen nyata bahwa setiap rupiah yang dititipkan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Program ini juga berada dalam pengawasan langsung dua sesepuh SWAKKA, yakni KH. Miftah Fauzi dan H. Otong Koswara. Kehadiran mereka menjadi penopang moral sekaligus penjaga integritas gerakan sosial ini.

Lebaran sejatinya bukan hanya soal baju baru atau meja penuh hidangan. Ia tentang menghadirkan rasa cukup di hati yang pernah kehilangan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,”
seraya beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya (HR. Bukhari).

Tentunya, kita tak bisa mengganti kehilangan mereka. Tapi kita bisa memastikan, setidaknya di hari raya nanti, mereka tidak merasa sendirian. Dan kadang, satu kupon kecil bisa menjadi sayap besar bagi masa depan seorang anak. (AS)

Ade Hendar: SEABlings dan Status WNI Memicu Patriotisme Indonesia

0
Ade Hendar: SEABlings dan Status WNI Memicu Patriotisme Indonesia

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Gelombang “perang digital” antara SEABlings dan Knetz hingga polemik “Biar Aku Saja yang Jadi WNI” bukan sekadar riuh media sosial. Bagi Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., dua peristiwa itu justru memperlihatkan denyut nasionalisme generasi muda Indonesia yang masih kuat—meski ekspresinya kini berpindah ke ruang digital.

Dalam wawancara khusus dengan Lintas Priangan, Senin (23/02/2026, Ade Hendar menyebut dinamika tersebut sebagai fenomena sosial yang perlu dibaca secara utuh, tidak sepotong-potong.

“Kadang yang terlihat hanya debatnya. Padahal di balik itu ada rasa memiliki terhadap bangsa. Itu yang perlu kita rawat, bukan malah dipadamkan,” ujarnya.


Kronologi SEABlings vs Knetz

Istilah “SEABlings” mencuat sebagai representasi warganet Asia Tenggara—termasuk Indonesia—yang aktif dalam percakapan global budaya pop, terutama K-Pop. Sementara “Knetz” merujuk pada Korean netizens yang kerap vokal di forum daring.

Gesekan bermula dari komentar-komentar bernada meremehkan terhadap penggemar Asia Tenggara di sejumlah platform. Respons cepat muncul. Warganet Indonesia, bersama netizen kawasan lain, membalas dengan kritik, meme, hingga tagar nasionalistik. Algoritma bekerja cepat. Narasi membesar. Timeline memanas.

Bagi Ade Hendar, peristiwa itu memperlihatkan dua sisi.

“Di satu sisi, ini bentuk solidaritas. Ketika merasa direndahkan, anak muda kita bersatu. Itu refleks kebangsaan. Tapi di sisi lain, jangan sampai berubah menjadi sentimen yang kontraproduktif,” katanya.

Ia menilai patriotisme era digital tidak lagi hadir dalam bentuk konvensional. Ia lahir dalam meme, thread, video pendek, bahkan debat panas. Namun esensinya tetap sama: menjaga harga diri kolektif.

“Nasionalisme hari ini memang tidak selalu berdiri di podium. Kadang berdiri di kolom komentar,” ujarnya, setengah tersenyum.

Halaman selanjutnya: “Biar Aku Saja yang Jadi WNI”