Beranda blog Halaman 22

Anomali: Belanja Pegawai Kota Tasikmalaya Bengkak Ratusan Milyar

0
Anomali: Belanja Pegawai Kota Tasikmalaya Bengkak Ratusan Milyar

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA.  Postur APBD Kota Tasikmalaya antara 2025 dan 2026 menunjukkan perubahan yang mencolok. Di saat Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) mengalami penurunan signifikan, total belanja daerah justru melonjak drastis. Yang paling menyita perhatian: anggaran belanja pegawai naik ratusan miliar rupiah dalam satu tahun.

Data dalam laporan ini merujuk pada informasi APBD yang disajikan melalui website resmi Kementerian Keuangan.

Berdasarkan data tersebut, total belanja daerah tahun 2025 tercatat sebesar Rp1,736 triliun. Pada 2026, angka tersebut melonjak menjadi Rp2,522 triliun. Artinya, terjadi kenaikan sekitar Rp785 miliar atau sekitar 45 persen.

Kenaikan terbesar terjadi pada pos belanja pegawai.

Tahun 2025, anggaran belanja pegawai tercatat Rp796,87 miliar atau sekitar 45,9 persen dari total belanja. Pada 2026, angkanya melonjak menjadi Rp1,495 triliun atau sekitar 59,3 persen dari total belanja.

Dalam hitungan sederhana, belanja pegawai naik sekitar Rp698,66 miliar hanya dalam satu tahun.


TKDD Turun, Belanja Naik

Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah penurunan TKDD. Pada 2025, TKDD Kota Tasikmalaya tercatat Rp1,160 triliun. Tahun 2026 turun menjadi Rp933,64 miliar. Selisihnya sekitar Rp226,96 miliar.

Secara logika fiskal, ketika transfer pusat menurun, pemerintah daerah biasanya melakukan penyesuaian belanja agar keseimbangan anggaran tetap terjaga. Namun yang terlihat dalam data justru sebaliknya: pendapatan transfer turun, sementara belanja total dan belanja pegawai meningkat tajam.

Dengan porsi hampir 60 persen, belanja pegawai kini mendominasi struktur APBD 2026.

Halaman selanjutnya: Perlu Penjelasan Struktur


Wartawan Tasikmalaya Diduga Dianiaya, SWAKKA Minta APH Tegas

0
Wartawan Tasikmalaya Diduga Dianiaya, SWAKKA Minta APH Tegas

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang wartawan Tasikmalaya oleh oknum Ketua Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) memasuki babak baru. Setelah laporan resmi diterima Polres Tasikmalaya Kota, gelombang solidaritas dari komunitas pers mulai menguat. Salah satunya dari Ahmad Mukhlis, Ketua SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), yang mengecam keras tindakan kekerasan tersebut dan mendesak penegakan hukum tanpa kompromi.

Peristiwa itu terjadi saat wartawan korban mendatangi terduga pelaku untuk melakukan konfirmasi pemberitaan. Alih-alih mendapatkan klarifikasi, korban justru diduga mengalami tindakan fisik berupa sundulan ke bagian kepala serta penarikan kerah baju. Korban dilaporkan mengalami memar dan pusing. Kasus ini telah dilaporkan secara resmi ke Polres Tasikmalaya Kota dan kini dalam proses penyelidikan.

Ahmad Mukhlis menilai insiden tersebut bukan sekadar persoalan pribadi antara dua individu, melainkan bentuk kekerasan yang menyasar profesi dan fungsi pers itu sendiri.

“Wartawan Tasikmalaya bekerja untuk kepentingan publik. Ketika ada kekerasan terhadap jurnalis saat menjalankan tugas, itu bukan hanya menyerang individu, tetapi juga mengancam hak masyarakat atas informasi,” ujarnya.

Secara regulatif, kerja jurnalistik di Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Secara tegas Undang-Undang tersebut menyatakan, wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya. Perlindungan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyangkut keselamatan fisik dan kebebasan dari intimidasi.

Lebih jauh, masih dalam UU Pers, juga ditekankan bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang menghambat atau menghalangi tugas pers dapat dipidana dengan penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta. Pasal 4 ayat (3) UU tersebut menjamin pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Dari sisi hukum pidana umum, tindakan kekerasan fisik seperti menyundul atau memukul dapat dijerat pasal KUHP tentang penganiayaan, yang mengatur ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan bagi pelaku penganiayaan biasa. Jika mengakibatkan luka berat, ancaman hukuman dapat meningkat hingga lima tahun, dan lebih berat lagi jika menyebabkan kematian.

Ahmad Mukhlis menegaskan bahwa pendekatan hukum harus menggunakan dua perspektif sekaligus: sebagai tindak pidana umum dan sebagai bentuk penghalangan kerja pers.

“Penanganannya tidak boleh setengah hati. Jika unsur penganiayaan terpenuhi, proses pidana harus berjalan. Jika terbukti menghalangi kerja jurnalistik, maka UU Pers juga relevan digunakan,” katanya.

Kekerasan terhadap jurnalis bukan persoalan sepele. Laporan tahunan sejumlah organisasi advokasi pers mencatat puluhan kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi setiap tahun di Indonesia, dengan bentuk mulai dari intimidasi verbal, perampasan alat kerja, hingga kekerasan fisik. Pola yang kerap muncul adalah kekerasan terjadi saat wartawan melakukan peliputan isu sensitif atau melakukan konfirmasi.

Secara akademik, kebebasan pers merupakan salah satu indikator penting dalam pengukuran kualitas demokrasi. Dalam teori demokrasi deliberatif, pers berfungsi sebagai ruang publik yang memungkinkan pertukaran gagasan dan kontrol terhadap kekuasaan. Ketika jurnalis mengalami kekerasan, maka fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan menjadi terancam.

Berita Tasikmalaya lainnya: Pengemis Anak di Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan Publik

Ahmad Mukhlis juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak psikologis yang dapat dialami korban. Menurutnya, intimidasi fisik tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga dapat menciptakan efek jera atau rasa takut bagi wartawan lain.

“Kalau dibiarkan, ini bisa menimbulkan chilling effect. Wartawan tasikmalaya bisa ragu melakukan investigasi atau konfirmasi karena khawatir mendapat perlakuan serupa,” ujarnya.

Istilah chilling effect dalam kajian hukum dan komunikasi merujuk pada situasi di mana individu menahan diri untuk menggunakan haknya karena takut terhadap konsekuensi hukum atau kekerasan. Dalam konteks pers, kondisi ini berpotensi menggerus kualitas informasi publik.

Berita Tasikmalaya: Ada Indikasi Korupsi di SDN Ternama di Kota Tasikmalaya, tapi Menguap!

SWAKKA secara tegas meminta aparat kepolisian untuk bekerja profesional, transparan, dan akuntabel. Mukhlis juga menyatakan pihaknya siap mengawal proses hukum hingga tuntas.

Tak hanya itu, ia mengimbau seluruh media di Tasikmalaya untuk menayangkan dan terus memantau perkembangan kasus ini. Menurutnya, perhatian publik menjadi salah satu faktor penting agar proses hukum berjalan konsisten.

“Kami mengajak seluruh wartawan Tasikmalaya dan sekitarnya untuk bersama-sama. Publik harus tahu bahwa kekerasan terhadap jurnalis tidak bisa dianggap biasa. Kita kawal bersama,” tegasnya.

Berita Tasikmalaya lainnya: Pendaftaran SADESSA Tasikmalaya Diperpanjang hingga 30 Maret 2026

Solidaritas media dinilai sebagai mekanisme kontrol sosial yang efektif. Semakin besar sorotan publik, semakin kecil peluang kasus berjalan tanpa kejelasan. Dalam banyak studi komunikasi politik, eksposur media terbukti mempengaruhi akuntabilitas lembaga penegak hukum.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kerja jurnalistik, yang sering terlihat sederhana seperti melakukan konfirmasi, sesungguhnya memiliki risiko di lapangan. Padahal secara hukum, konfirmasi adalah bagian dari prinsip cover both sides dan verifikasi, dua fondasi utama jurnalisme profesional.

Ahmad Mukhlis menutup pernyataannya dengan pesan yang sederhana namun tegas: kekerasan bukan jawaban atas pemberitaan. Jika ada keberatan terhadap isi berita, tersedia mekanisme hak jawab dan hak koreksi sebagaimana diatur dalam UU Pers.

“Demokrasi itu harus memberi ruang, bukan kekerasan,” ujarnya.

Perkembangan kasus dugaan penganiayaan terhadap wartawan Tasikmalaya ini kini menjadi perhatian luas. Publik menunggu apakah hukum benar-benar berdiri tegak ketika kebebasan pers diuji di tingkat lokal. (AS)

Pengemis Anak di Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan Publik

0
Pengemis Anak di Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan Publik

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Malam turun perlahan di pusat Kota Tasikmalaya. Lampu-lampu rumah makan menyala terang, kendaraan lalu-lalang tanpa jeda. Di antara deru knalpot dan obrolan pengunjung, seorang anak perempuan berhijab berdiri pelan di tepi trotoar. Tangannya tak membawa gitar, tak pula kotak tisu untuk dijual. Ia hanya menengadah, berharap receh berpindah tangan.

Namanya Nisa.

Siang hari, ia adalah siswi kelas IV SD dengan prestasi membanggakan. Ranking dua di kelasnya. Guru-gurunya mengenal ia sebagai anak yang tekun. Namun ketika malam datang, Nisa berjalan kaki dari kawasan Bojong menuju pusat kota, menempuh jarak beberapa kilometer untuk mengemis bersama adiknya.

Kisah pengemis anak di Kota Tasikmalaya ini sebelumnya mungkin hanya sepintas pemandangan bagi banyak orang. Anak kecil di lampu merah atau depan rumah makan bukan hal baru. Tapi ketika cerita Nisa terungkap di media, lengkap dengan fakta bahwa ia siswa berprestasi, reaksi publik pun berdatangan.

Sejak berita itu tayang pada 25 Februari 2026, redaksi Lintas Priangan menerima lebih dari sepuluh panggilan dan pesan dari warga. Mereka menanyakan identitas lebih rinci, lokasi tempat tinggal, bahkan cara untuk membantu. Ada yang mengaku merasa gelisah setelah membaca ceritanya. Ada pula yang merasa tersentak: bagaimana mungkin anak SD, ranking dua, jadi pememinta-minta di jalanan Kota Tasikmalaya?

Baca berita sebelumnya: Ranking 2 di Sekolah, Nisa Mengemis Tiap Malam di Pusat Kota Tasikmalaya

Perhatian tidak hanya datang dari masyarakat. Camat Cipedes, Cecep Ridwan, ikut menghubungi redaksi untuk menggali informasi lebih lanjut. Belum ada kebijakan yang diumumkan, belum ada langkah konkret yang terlihat. Namun komunikasi awal itu menjadi sinyal bahwa kisah ini tidak dibiarkan lewat begitu saja.

Di sisi lain, suara dari tokoh pemuda Kota Tasikmalaya memberi perspektif. Ketua Umum PD Pemuda Persatuan Umat Islam (PUI) Kota Tasikmalaya, Fikri Dikriansyah, S.Hum., menilai peristiwa ini menunjukkan peran penting media dalam membuka mata publik.

“Ini salah satu manfaat nyata dari media massa. Masalah sosial sebenarnya terjadi setiap hari, tapi sering tidak mendapat perhatian. Setelah diungkap media, barulah muncul kepedulian,” ujarnya.

Baginya, berita tentang pengemis anak di pusat Kota Tasikmalaya bukan sekadar cerita haru. Ia adalah cermin. Cermin tentang kemiskinan yang masih ada di sudut-sudut kota, tentang anak-anak yang tumbuh di antara cita-cita dan keterbatasan.

Momentum Ramadhan membuat refleksi itu terasa lebih dalam. “Sekarang bulan suci Ramadhan. Ini waktu yang tepat untuk berlomba dalam kebajikan. Siapapun yang ingin berkontribusi membantu solusi masalah sosial seperti ini, insya Allah menjadi kebaikan,” kata Fikri.

Ia juga mengapresiasi langkah Camat Cipedes yang dinilai responsif. “Meski belum melakukan apapun, saat seorang pejabat membangun komunikasi langsung dengan media massa, itu sudah pertanda baik. Semoga ini jadi contoh bagi pejabat-pejabat lain.”

Kisah Nisa kini bukan lagi hanya tentang satu anak. Ia menjadi simbol wajah lain Kota Tasikmalaya—kota yang tumbuh, yang ramai, yang bergerak maju, namun masih menyimpan cerita tentang anak-anak yang memikul beban terlalu dini.

Di ruang kelas, Nisa mungkin bermimpi menjadi sesuatu yang lebih besar. Tapi di jalanan malam, ia hanya berharap cukup uang untuk membeli beras esok hari.

Dan di antara dua dunia itu, Kota Tasikmalaya sedang diuji: apakah kisah ini akan berhenti sebagai berita yang viral sesaat, atau berubah menjadi langkah nyata agar tak ada lagi anak usia sekolah yang harus berdiri di trotoar saat malam tiba. (AS)

Kultum Aparatur 09: “Mendengar untuk Melayani”

0
Salinan dari Kultum Aparatur Ramadhan (12)

lintaspriangan.com, KULTUR. Suatu hari, seorang perempuan tua datang menemui Rasulullah ﷺ. Penampilannya sederhana. Ucapannya mungkin tidak tertata rapi. Ia bukan tokoh penting, bukan pula orang terpandang.

Namun Rasulullah ﷺ tidak memotong pembicaraannya. Tidak tergesa-gesa. Tidak menunjukkan kejenuhan. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan tetap berdiri hingga perempuan itu selesai menyampaikan keluhannya.

kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Dalam riwayat disebutkan, beliau adalah orang yang paling baik dalam mendengar—tidak memalingkan wajah, tidak menyela, tidak meremehkan.

Karena bagi beliau, setiap manusia berhak didengar.


Mendengar dan Mengikuti yang Terbaik

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Alladzīna yastami‘ūnal-qawla fayattabi‘ūna ahsanah
“(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa mendengar adalah bagian dari kematangan iman. Tidak semua orang mampu mendengar dengan hati terbuka. Banyak yang lebih suka berbicara daripada memahami.

Dalam tafsir disebutkan bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh, lalu memilih yang terbaik.

Ramadhan melatih kepekaan hati. Ketika lapar dan dahaga kita rasakan, empati terhadap sesama menjadi lebih hidup. Kita lebih mudah memahami rasa sulit orang lain.

Dan empati dimulai dari kesediaan untuk mendengar.


Pelayanan yang Menguatkan Ikatan

Dalam kehidupan bernegara, pelayanan publik bukan hanya soal prosedur dan kecepatan, tetapi juga tentang perasaan dihargai.

Sering kali masyarakat datang bukan hanya membawa berkas, tetapi juga membawa harapan, kecemasan, bahkan keluhan.

Aparatur yang empatik tidak hanya fokus pada dokumen, tetapi juga pada manusia di baliknya.

Mendengar aspirasi masyarakat adalah bentuk pelayanan. Dengan mendengar, kita memahami kebutuhan riil. Dengan memahami, kita bisa mengambil kebijakan yang tepat.

Tanpa empati, pelayanan terasa kaku.
Dengan empati, pelayanan terasa manusiawi.


Kepedulian Sosial sebagai Nilai Kebangsaan

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang peduli terhadap warganya.

Kepedulian sosial bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab institusi. Negara hadir bukan sekadar mengatur, tetapi juga mendengar.

Ketika aparatur negara membuka ruang dialog, menerima kritik dengan lapang, dan menanggapi keluhan dengan serius, maka kepercayaan publik tumbuh.

Empati memperkuat ikatan antara negara dan rakyat. Ia menumbuhkan rasa memiliki, rasa dilindungi, dan rasa dihargai.

Ramadhan adalah bulan yang menumbuhkan solidaritas sosial. Dari empati pribadi, lahir kepedulian kolektif.


Refleksi 09 Ramadhan

Ramadhan hari kesembilan mengajak kita bertanya:

Apakah kita sudah benar-benar mendengar sebelum mengambil keputusan?
Apakah kita sabar menghadapi keluhan masyarakat?
Apakah kita melihat rakyat sebagai beban, atau sebagai amanah?

Mendengar bukan tanda kelemahan.
Ia adalah tanda kedewasaan.

Karena dari telinga yang terbuka, lahir kebijakan yang bijaksana.
Dan dari empati yang tulus, lahir bangsa yang saling menguatkan.

Ramadhan mengajarkan: mendengar adalah bentuk pelayanan. Dari empati aparatur, tumbuh kepedulian bangsa.


Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.


kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Pendaftaran SADESSA Tasikmalaya Diperpanjang hingga 30 Maret 2026

0
Pendaftaran SADESSA Tasikmalaya Diperpanjang hingga 30 Maret 2026

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Kabar baik bagi pelajar di Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Resmi, pendaftaran Program SADESSA Tasikmalaya diperpanjang hingga 30 Maret 2026. SADESSA adalah salah satu program inovasi Bupati Tasikmalaya, merupakan kependekan dari Satu Desa Satu Sarjana.

Informasi ini diumumkan melalui akun media sosial resmi Pemkab Tasikmalaya. Perpanjangan ini memberi kesempatan lebih luas bagi siswa kelas akhir SMA/sederajat yang belum sempat mendaftar pada tahap sebelumnya.

Program SADESSA sendiri merupakan salah satu prioritas daerah yang menargetkan satu mahasiswa dari setiap desa untuk mendapatkan bantuan pembiayaan pendidikan tinggi. Skema ini dirancang sebagai investasi sumber daya manusia desa dalam jangka panjang.

Pendaftaran Online dan Offline Tetap Dibuka

Pemkab Tasikmalaya menegaskan bahwa pendaftaran tetap tersedia melalui dua jalur:

Bagi peserta yang sudah mendaftar secara offline, tidak perlu melakukan pendaftaran ulang secara online.

Perpanjangan waktu ini dinilai penting, terutama bagi calon peserta yang masih melengkapi dokumen, menunggu rekomendasi desa, atau baru mendapatkan informasi program.

Kesempatan Lebih Luas bagi Pelajar Desa

SADESSA bukan sekadar program bantuan biaya kuliah. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai strategi memperkuat kapasitas desa melalui peningkatan kualitas pendidikan warganya.

Dengan tambahan waktu pendaftaran hingga akhir Maret, peluang bagi siswa desa untuk mengakses pendidikan tinggi menjadi lebih terbuka.

Secara sederhana, ini seperti memberi “napas tambahan” bagi calon sarjana desa yang sempat tertinggal informasi. Jangan sampai mimpi kuliah gagal hanya karena deadline terlewat.

Halaman selanjutnya: Momentum bagi Generasi Muda


SAPMA PP Soroti Polemik Lapangan Padel Tasikmalaya

0
SAPMA PP Soroti Polemik Lapangan Padel Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Polemik legalitas usaha Padel Tasikmalaya memasuki babak baru. SAPMA PP Kota Tasikmalaya menggelar audiensi bersama DPRD Kota Tasikmalaya yang dihadiri Komisi I, Ketua Komisi II, serta Wakil Ketua DPRD. Dalam forum tersebut, organisasi kepemudaan itu menegaskan satu sikap: pertumbuhan ekonomi dan olahraga tidak boleh mengorbankan kepastian hukum.

Ketua Cabang SAPMA PP Kota Tasikmalaya, Muamar Khadapi, menyampaikan bahwa menjamurnya lapangan padel memang menunjukkan geliat ekonomi baru di kota ini. Namun, menurutnya, pembangunan tetap harus tunduk pada aturan. “Padel adalah olahraga, bukan alat eksploitasi hukum,” tegasnya dalam audiensi.

Sejumlah Lapangan Padel Disorot Soal PBG dan SLF

Dalam pertemuan itu terungkap fakta bahwa masih terdapat bangunan lapangan padel yang telah berdiri bahkan beroperasi tanpa mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) maupun Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Padahal, regulasi nasional secara tegas mengatur kewajiban tersebut.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, serta dipertegas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021, menyatakan setiap bangunan gedung wajib memiliki PBG sebelum konstruksi dilakukan. Selain itu, bangunan hanya dapat dimanfaatkan setelah memperoleh SLF.

Artinya, praktik “bangun dulu, urus izin kemudian” berpotensi bertentangan langsung dengan norma hukum yang berlaku.

Isu ini menjadi krusial karena perkembangan Padel Tasikmalaya dalam beberapa bulan terakhir tergolong pesat. Lapangan baru bermunculan dan langsung beroperasi, mengikuti tren olahraga raket yang sedang naik daun di berbagai kota besar.

Tata Ruang Tak Bisa Ditawar

Selain soal PBG dan SLF, aspek kesesuaian tata ruang juga menjadi perhatian. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 menegaskan bahwa setiap pemanfaatan ruang wajib sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW).

Jika suatu bangunan telah berdiri namun kemudian permohonan PBG ditolak karena tidak sesuai tata ruang, maka risiko hukum sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelaku usaha. Sanksi administratif dalam rezim ini tidak bersifat simbolik, melainkan dapat berupa:

  • Penghentian sementara kegiatan
  • Penutupan operasional
  • Denda administratif
  • Pembekuan atau pencabutan persetujuan
  • Hingga pembongkaran bangunan

Dalam konteks penegakan, apabila suatu usaha telah mencapai tahap SP3 (Surat Peringatan Ketiga) dan tetap tidak patuh, maka tindakan penutupan bukanlah represif, melainkan konsekuensi normatif.

Peran OPD Jadi Sorotan

Audiensi tersebut juga menyoroti peran sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang memiliki kewenangan memastikan kesesuaian teknis dan tata ruang serta menerbitkan rekomendasi penindakan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu bertanggung jawab menjaga integritas proses penerbitan PBG dan SLF secara transparan dan akuntabel. Sementara Satpol PP memegang mandat penegakan Perda serta pelaksanaan sanksi administratif.

SAPMA PP menilai ketiga unsur ini tidak boleh saling menunggu. Jika rekomendasi teknis telah jelas dan tahapan peringatan telah dilalui, maka tindakan tegas merupakan bentuk kepastian hukum, bukan kriminalisasi investasi.

Investasi Sehat Butuh Kepastian Hukum

Argumen bahwa di kota lain masih banyak usaha serupa yang belum berizin dinilai tidak dapat dijadikan pembenaran. Menurut Muamar, hukum tidak mengenal asas “ikut-ikutan pelanggaran”.

Ia menegaskan bahwa jika pelanggaran dinormalisasi atas nama investasi, maka preseden buruk akan terbentuk dan pelaku usaha yang taat sejak awal justru dirugikan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan terhadap tata kelola pemerintahan daerah.

Perkembangan Padel Tasikmalaya memang patut diapresiasi sebagai simbol gaya hidup sehat dan peluang ekonomi baru. Namun, di sisi lain, pemerintah dituntut menjaga keseimbangan antara akselerasi investasi dan ketertiban bangunan.

Tasikmalaya kini berada di persimpangan: mempertahankan wibawa hukum dalam penataan ruang dan bangunan, atau membiarkan praktik yang berpotensi melanggar aturan menjadi kebiasaan.

Audiensi ini menjadi penanda bahwa isu legalitas lapangan padel bukan sekadar persoalan olahraga, melainkan menyangkut tata kelola kota, kepastian hukum, dan arah pembangunan Tasikmalaya ke depan. (AS)

Jadwal Persib Hari Ini, Pesta Gol atau Tersandung di GBLA

0
Jadwal Persib Hari Ini, Pesta Gol atau Tersandung di GBLA

lintaspriangan.com, SPORT.  Jadwal Persib Bandung hari ini menghadirkan ujian serius di pekan ke-23 Super League 2025/2026. Maung Bandung akan menjamu Madura United di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kamis (26/2/2026) pukul 20.30 WIB.

Di atas kertas, ini laga yang “harusnya” milik tuan rumah. Namun sepak bola jarang berjalan sesuai naskah. Di saat publik berharap pesta gol, justru di situlah potensi sandungan mengintai.

Saat ini, Persib Bandung memimpin klasemen dengan 50 poin dari 21 pertandingan, produktivitas 32 gol dan hanya kebobolan 11 kali. Sebaliknya, Madura United masih tertahan di peringkat 14 dengan 20 poin dari 22 laga dan sudah kebobolan 31 gol.

Angka-angka ini memberi satu pesan: Persib unggul hampir di semua lini. Tapi pertandingan tidak dimenangkan oleh statistik—melainkan oleh eksekusi.


Persib di Puncak, Momentum Sedang Panas

Melihat jadwal Persib Bandung hari ini, tekanan justru ada di pihak tuan rumah. Empat kemenangan dari lima laga terakhir menunjukkan konsistensi yang mulai stabil. Kemenangan 1-0 atas Persita di laga sebelumnya menegaskan satu karakter penting musim ini: efisien.

Persib tak selalu mencetak banyak gol, tetapi tahu kapan harus menutup pertandingan. Rata-rata kebobolan hanya 0,5 gol per laga menjadikan lini belakang sebagai fondasi utama.

Namun ada dinamika menarik. Pelatih kepala Bojan Hodak dipastikan tidak mendampingi tim di bench akibat akumulasi kartu. Secara taktik, sistem permainan kemungkinan tak berubah drastis. Tetapi dalam pertandingan ketat, komunikasi langsung dari pelatih sering menjadi pembeda—terutama dalam mengatur tempo dan membaca perubahan lawan.

Tanpa Hodak di pinggir lapangan, pemain Persib dituntut lebih mandiri dalam menjaga fokus. Ini bukan sekadar soal strategi, tapi soal kedewasaan tim.

GBLA: Senjata atau Tekanan?

Stadion Gelora Bandung Lautan Api dengan kapasitas sekitar 38 ribu penonton dikenal sebagai kandang yang intimidatif. Atmosfernya bisa mengangkat performa, sekaligus menghukum kelengahan.

Jika Persib mencetak gol cepat, tekanan publik bisa berubah menjadi energi tambahan. Namun jika skor bertahan 0-0 hingga babak pertama, sorakan dukungan bisa berubah menjadi kegelisahan.

Dan kegelisahan sering kali melahirkan keputusan tergesa.


Prediksi Persib Bandung vs Madura United: Kamis, 26 Feb 2026

0
Prediksi Persib Bandung vs Madura United: Kamis, 26 Feb 2026

lintaspriangan.com, SPORT.  Persib Bandung vs Madura United akan menjadi salah satu laga krusial pekan ke-23 Super League 2025/2026. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kamis (26/2/2026) pukul 20.30 WIB ini bukan sekadar duel papan atas melawan papan bawah. Ini adalah ujian konsistensi, mentalitas, dan kedalaman taktik.

Saat ini, Persib Bandung memimpin klasemen dengan 50 poin dari 21 pertandingan, selisih gol impresif 32:11. Sementara Madura United tertahan di peringkat ke-14 dengan 20 poin dari 22 laga, kebobolan 31 gol.

Di atas kertas, Persib jelas unggul. Tapi sepak bola tak pernah hidup di atas kertas—ia hidup di rumput, di tekanan, dan di momen-momen kecil yang menentukan.


Momentum, Statistik, dan Absennya Bojan Hodak

Dalam lima pertandingan terakhir, Persib mencatat empat kemenangan dan satu kekalahan. Terakhir, mereka menang tipis 1-0 atas Persita. Pola ini menunjukkan satu hal penting: efisiensi.

Persib bukan tim yang selalu menang besar. Namun mereka tahu kapan harus mencetak gol dan bagaimana menjaga keunggulan. Kebobolan hanya 11 gol dalam 21 laga berarti rata-rata hanya 0,52 gol per pertandingan—angka pertahanan yang layak disebut fondasi juara.

Namun ada catatan krusial: pelatih kepala Bojan Hodak absen di bench akibat akumulasi kartu. Secara struktur permainan, sistem tak akan berubah drastis. Tapi kehadiran pelatih di pinggir lapangan sering menjadi pembeda dalam membaca momentum, melakukan penyesuaian cepat, atau meredam kepanikan.

Tanpa Hodak, Persib diuji bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara psikologis.

Madura United: Statistik Tak Berbohong, Tapi Semangat Bisa Melawan

Madura United dalam lima laga terakhir belum meraih kemenangan (3 seri, 2 kalah). Mereka kebobolan 31 gol—angka yang menunjukkan rapuhnya transisi bertahan.

Namun menariknya, beberapa hasil imbang terakhir memperlihatkan satu pola: mereka mulai bermain lebih pragmatis. Blok pertahanan lebih rendah, jarak antar lini lebih rapat, dan tempo pertandingan cenderung diperlambat.

Artinya, Madura United kemungkinan tidak akan bermain terbuka di Bandung. Mereka tahu menyerang habis-habisan di GBLA bisa jadi bunuh diri.


Kultum Aparatur 08: “Bahasa Aparatur, Menyejukkan dan Mencerahkan”

0
Kultum Aparatur 08: “Bahasa Aparatur, Menyejukkan dan Mencerahkan”

lintaspriangan.com, KULTUR. Suatu hari, seorang Arab Badui datang ke masjid dan berbicara dengan cara yang keras dan kurang sopan kepada Rasulullah ﷺ. Para sahabat tersinggung. Sebagian ingin menegurnya dengan tegas.

Namun Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kemarahan. Beliau mendekatinya dengan tenang, mendengarkan, lalu menjelaskan dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami. Tidak mempermalukan. Tidak merendahkan. Tidak meninggikan suara.

Orang Badui itu pun luluh.

kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Inilah kekuatan komunikasi yang beradab: bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menyentuh hati.


Berkata yang Benar dan Tepat

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha wa qūlū qawlan sadīdā
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Kata qawlan sadīdan dalam tafsir para ulama dimaknai sebagai ucapan yang benar, lurus, tepat, dan membawa perbaikan. Bukan hanya benar secara fakta, tetapi juga tepat cara penyampaiannya.

Islam tidak hanya mengatur apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

Ramadhan melatih lisan. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga kata-kata. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa jika tidak mampu berkata baik, lebih baik diam.

Di sinilah komunikasi menjadi bagian dari integritas.


Komunikasi Aparatur: Menyejukkan dan Membangun Kepercayaan

Dalam kehidupan bernegara, komunikasi publik memiliki dampak luas. Satu kalimat dapat meredakan kegelisahan masyarakat. Satu pernyataan yang keliru dapat memicu kesalahpahaman.

Aparatur bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga wajah negara di mata rakyat.

Bahasa yang digunakan harus:

  • Jelas dan transparan
  • Tidak menyinggung
  • Tidak defensif
  • Tidak meremehkan

Komunikasi yang efektif bukan hanya soal retorika, tetapi tentang empati dan tanggung jawab.

Ketika aparatur berbicara dengan santun dan terbuka, masyarakat merasa dihargai. Dari situ lahir kepercayaan.


Etika Komunikasi Publik sebagai Nilai Kebangsaan

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang komunikasinya beradab.

Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun cara menyampaikan dan meresponsnya menentukan kualitas kehidupan berbangsa.

Etika komunikasi publik menjaga stabilitas sosial. Ia mencegah polarisasi. Ia merawat persatuan.

Ramadhan mengajarkan pengendalian lisan. Jika setiap aparatur mampu menjaga kata-katanya, maka ruang publik akan lebih teduh.

Negara tidak hanya dibangun oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh bahasa yang mencerahkan.


Refleksi 08 Ramadhan

Ramadhan hari kedelapan mengajak kita bertanya:

Apakah kata-kata kita sudah membawa ketenangan atau justru kegaduhan?
Apakah komunikasi kita membangun kepercayaan atau menambah jarak?
Apakah kita sudah berbicara dengan empati dan tanggung jawab?

Lisan yang terjaga adalah cermin hati yang tertata.
Bahasa yang santun adalah wujud kedewasaan.

Ramadhan mengajarkan: komunikasi yang benar dan beradab bukan hanya etika pribadi, tetapi fondasi kepercayaan bangsa.


Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.


kultum aparatur ramadhan lintas priangan

H Pepi Tomy Sudrajat, Apresiasi Kegiatan Kodim 0613/Ciamis

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Salah seorang tokoh masyarakat Kabupaten Ciamis, H Pepi Tomy Sudrajat, S.IP sangat mengapresiasi kegiatan buka puasa bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, insan media dan anak yatim yang digelar Kodim 0613/Ciamis dan Gandara Grup.

Kegiatan kolaborasi antara Dandim 0613/Ciamis dan Gandara Grup yang digelar di Halaman Makodim 0613/Ciamis, Rabu (25/02/2026) ini menjadi bukti nyata sinergitas antara TNI, pengusaha, dan masyarakat.

Momentum tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam mempererat silaturahmi sekaligus menjaga stabilitas dan kondusivitas wilayah selama bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 H..

H. Pepi menyampaikan penghargaan atas inisiatif yang dinilainya membawa suasana baru dalam membangun komunikasi antara aparat teritorial dan elemen masyarakat. Sebagai masyarakat Ciamis dan bagian dari tokoh masyarakat Ciamis Ia sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan buka bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, insan media dan anak yatim dalam rangka menyemarakkan Bulan Ramadhan tersebut merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan di lingkungan Kodim 0613/Ciamis.

“Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi memiliki makna substantif dalam memperkuat komunikasi sosial dan kebersamaan lintas elemen,” katanya.

Ia menjelaskan, silaturahmi menjadi fondasi penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terlebih di momen Ramadan yang identik dengan peningkatan aktivitas sosial dan keagamaan.

“Yang paling utama adalah niat silaturahmi. Dengan kebersamaan seperti ini, kita berharap Ciamis tetap aman, kondusif, dan penuh semangat persaudaraan dalam menjalani ramadhan sampai hari raya nanti,” jelasnya.

Menurut H Pepi, kehadiran para tokoh agama, ustaz, kiai, para guru, serta perwakilan media yang hadir dalam kegiatan tersebut menjadi bukti kuat kalau ruang-ruang dialog dan kebersamaan seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Rekan-rekan media menyaksikan langsung bagaimana para tokoh agama dan tokoh masyarakat hadir. Ini membuktikan kalau kegiatan seperti ini relevan dan dinantikan,” ungkapnya.

H Pepi berharap kegiatan buka puasa bersama tersebut tidak berhenti sebagai agenda simbolik tahunan, melainkan dapat terus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Dengan demikian, nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan sinergi antara TNI dan masyarakat semakin menguat.

“Mudah-mudahan ini tidak hanya menjadi pembuka, lalu berhenti di sini. Kita ingin kegiatan ini bisa terus berlanjut dengan membawa nilai kebersamaan dan persaudaraan yang semakin kokoh,” harapnya.

BACA JUGA: Kodim 0613/Ciamis Gelar Buka Puasa Bersama

Sementara itu Dandim 0613/Ciamis, Letkol Inf Antonius Ari Widiono, S.Sos., M.Hum mengatakan, kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi merupakan sarana membangun komunikasi sosial yang harmonis antara TNI, pengusaha dan masyarakat.

“Ramadan adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat kebersamaan. Kami ingin memastikan, Kodim 0613/Ciamis selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam tugas kewilayahan, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan,” jelasnya.

Menurutnya, dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan insan media memiliki peran strategis dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Sinergi yang terjalin dengan baik akan mempermudah pelaksanaan berbagai program teritorial yang bermuara pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan sinergi yang terbangun, diharapkan suasana Ramadhan dapat berlangsung aman, damai, dan penuh keberkahan bagi seluruh masyarakat.

“Dengan komunikasi yang baik, kita bisa bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, serta memperkuat persatuan di Ciamis dan Kota Banjar. Semoga silaturahmi ini dapat terus terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Kegiatan buka puasa bersama ini menjadi bagian dari upaya mempererat kemanunggalan TNI dan rakyat, sekaligus memperkuat harmoni sosial di Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar. (FSL).