Beranda blog Halaman 15

Prediksi Galatasaray vs Liverpool: Skor Tipis Diprediksi Terjadi

lintaspriangan.com, SPORT.  Pertandingan Galatasaray vs Liverpool pada lanjutan Liga Champions nanti malam, Rabu (11/03/2026) jam 00.45, diprediksi menjadi salah satu laga paling panas pekan ini. Duel yang digelar Rabu dini hari tersebut mempertemukan dua tim dengan karakter yang berbeda: Galatasaray yang terkenal sangat kuat di kandang, melawan Liverpool yang sedang berada dalam performa tajam.

Dari berbagai indikator statistik, pertandingan ini berpotensi berjalan terbuka dengan peluang gol di kedua sisi.

Galatasaray datang dengan modal yang cukup baik. Dalam lima pertandingan terakhir, klub asal Turki tersebut mencatat tiga kemenangan dan dua kekalahan. Mereka baru saja meraih kemenangan penting 1-0 atas Besiktas dan sebelumnya menundukkan Alanyaspor 2-1.

Namun performa tersebut menyimpan satu catatan penting. Dalam lima laga terakhir, Galatasaray kebobolan tujuh gol. Angka ini menunjukkan lini pertahanan mereka masih memiliki celah ketika menghadapi tim dengan serangan cepat.

Hal itu terlihat jelas ketika mereka menghadapi Juventus di kompetisi Eropa. Meski mampu mencetak dua gol, Galatasaray akhirnya harus menyerah 3-2 setelah pertahanan mereka gagal menahan tekanan lawan di menit-menit akhir pertandingan.

Secara rata-rata, Galatasaray mencetak sekitar 1,6 gol per pertandingan dalam lima laga terakhir. Namun mereka juga kebobolan 1,4 gol per laga, yang menunjukkan keseimbangan permainan mereka belum sepenuhnya stabil.

Meski demikian, kekuatan utama Galatasaray terletak pada performa kandang mereka. Bermain di Istanbul selalu menjadi tantangan berat bagi tim tamu. Atmosfer stadion yang sangat intens sering membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.

Galatasaray biasanya tampil agresif sejak awal pertandingan ketika bermain di kandang. Mereka sering mencoba menekan lawan dengan tempo cepat untuk mencetak gol lebih dulu.

Namun strategi seperti itu justru bisa menjadi pedang bermata dua ketika menghadapi tim seperti Liverpool.

Halaman selanjutnya: Liverpool Datang dengan Serangan Tajam


Jadilah Aisyah, Meski Suamimu Bukan Muhammad

lintaspriangan.com, OPINI. Di banyak pengajian, kita cukup sering mendengar penceramah memaparkan topik sebagaimana di bawah ini:

“Bapak-bapak ingin istrinya seperti Aisyah?
Maka bapak-bapaknya juga harus seperti Nabi Muhammad.

Ibu-ibu ingin suaminya seperti Nabi Muhammad?
Maka ibu-ibunya juga harus seperti Aisyah.”

Sepintas, kalimat ini terdengar bijak. Maksudnya tentu baik: agar suami dan istri sama-sama memperbaiki diri. Agar rumah tangga tidak dipenuhi tuntutan sepihak.

Namun dalam kenyataannya, kalimat ini tak jarang juga dipahami secara keliru.

Alih-alih menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, kalimat itu justru kadang berubah menjadi alasan untuk menunda kebaikan.

Seorang istri berkata dalam hatinya, “Wajar saja aku belum seperti Aisyah. Suamiku juga belum seperti Nabi Muhammad.”

Seorang suami pun bisa berkata hal yang sama: “Bagaimana aku bisa seperti Nabi, kalau istriku juga bukan Aisyah?”

Akhirnya rumah tangga berubah menjadi arena saling menunggu. Menunggu pasangan menjadi baik terlebih dahulu.

Padahal kesalehan tidak pernah lahir dari menunggu orang lain berubah. Kesalehan lahir dari hati yang memilih taat kepada Allah, bahkan ketika keadaan tidak sempurna.


Teladan yang Sering Terlupakan

Al-Qur’an justru memberi contoh yang sangat mengejutkan.

Allah berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman: istri Fir’aun.”
(QS. At-Tahrim: 11)

Wanita ini adalah Asiyah, istri Fir’aun.

Suaminya bukan sekadar lelaki yang kurang saleh. Firaun membantai secara sadis ribuan bayi kaumnya. Menindas dan memperdaya rakyatnya. Bahkan menjadi contoh kesombongan terbesar dalam sejarah manusia, ketika dirinya mengaku sebagai Tuhan.

Kurang gila gimana Firaun. Namun Allah tetap menjadikan istrinya sebagai teladan bagi orang-orang beriman.

Asiyah tidak berkata:
“Aku akan saleh jika suamiku saleh.”
Tidak.

Ia memilih tetap beriman meski hidup bersama seorang tiran. Dari sini kita belajar satu hal: kesalehan seseorang tidak bergantung pada kesalehan pasangannya.


Ibadah Bukan Hanya Ritual, Ia Harus Berdampak

Kadang kita mengukur kesalehan hanya dari ibadah ritual.

Berapa banyak shalat sunnah yang dilakukan.
Berapa lama dzikir dilantunkan.
Berapa sering Al-Qur’an dibaca.

Semua itu tentu sangat mulia.

Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah ritual.

Beliau bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Sunan At-Tirmidzi)

Dan akhlak pertama yang diuji justru di dalam rumah sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Sunan At-Tirmidzi)

Artinya, ukuran kesalehan tidak berhenti pada sajadah. Ia terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang yang hidup bersamanya setiap hari.


Kedudukan Suami dalam Rumah Tangga

Islam juga menempatkan suami pada posisi yang sangat penting dalam rumah tangga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ
لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.”
(HR. Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi)

Tentu Islam tidak membolehkan sujud kepada manusia. Namun hadis ini menunjukkan betapa besar hak suami dalam rumah tangga.

Bukan karena semua suami sempurna. Tetapi karena rumah tangga membutuhkan penghormatan terhadap peran masing-masing.


Satu kesalahan yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah menjadikannya sebagai ajang perbandingan.

Siapa yang lebih rajin ibadah.
Siapa yang lebih saleh.
Siapa yang lebih dekat dengan Allah.

Padahal rumah tangga bukan tempat saling mengungguli.
Rumah tangga adalah tempat saling menyempurnakan.

Jika seorang istri lebih kuat dalam amal, ia bisa menguatkan suaminya.
Jika seorang suami lebih kuat dalam pemahaman, ia bisa membimbing keluarganya.
Keduanya tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menopang.


Jadilah Aisyah

Karena itu, pesan sebenarnya sederhana.

Seorang istri tidak perlu menunggu suaminya menjadi seperti Nabi Muhammad untuk menjadi wanita yang mulia.

Ia tetap bisa menjadi seperti Aisyah dalam kesetiaan, kecerdasan, dan kelembutan.

Bahkan ketika suaminya hanyalah lelaki biasa dengan banyak kekurangan.

Sebaliknya, seorang suami juga tidak boleh berhenti berusaha memperbaiki dirinya hanya karena istrinya belum sempurna.

Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang lebih baik.

Rumah tangga adalah tentang dua orang yang sama-sama berjalan menuju Allah, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Maka jadilah Aisyah.
Meski suamimu bukan Muhammad.

Penulis:
Abu Ayyub

Kultum Aparatur 20: “Berubah untuk Tetap Relevan”

lintaspriangan.com, KULTUR. Ketika Rasulullah ﷺ memulai dakwah di Makkah, pendekatan yang beliau gunakan sangat berbeda dengan strategi dakwah yang diterapkan setelah hijrah ke Madinah. Di Makkah, dakwah dilakukan dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. Fokus utamanya adalah menanamkan akidah, membangun karakter, dan memperkuat keteguhan iman para pengikutnya. Tekanan dari kaum Quraisy sangat kuat, sehingga pendekatan dakwah dilakukan secara bertahap dan personal.

Namun ketika hijrah ke Madinah, situasi sosial dan politik berubah. Rasulullah ﷺ tidak lagi hanya membina komunitas kecil, tetapi memimpin masyarakat yang lebih luas dengan latar belakang yang beragam. Di sana terdapat kaum Muhajirin, Anshar, dan juga berbagai kelompok non-Muslim.

Dalam situasi baru itu, Rasulullah ﷺ menyesuaikan strategi. Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah kesepakatan sosial yang mengatur kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk. Beliau juga membangun sistem pemerintahan, mengatur hubungan antar kelompok, serta membentuk tata kehidupan sosial yang adil.

Perubahan pendekatan ini tidak berarti perubahan prinsip. Nilai-nilai Islam tetap kokoh. Namun cara penerapannya menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masyarakat.

Inilah contoh nyata adaptasi yang bijaksana: nilai tetap teguh, tetapi strategi mampu menyesuaikan keadaan.

kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Urusan Dunia dan Inovasi

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُورِ دُنْيَاكُمْ
Antum a‘lamu bi umūri dunyākum
“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”
(HR. Muslim)

Hadis ini muncul ketika Rasulullah ﷺ berdiskusi dengan para sahabat mengenai teknik penyerbukan tanaman kurma. Pada awalnya para sahabat mengikuti saran Nabi, namun hasil panennya tidak optimal. Ketika hal itu disampaikan, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dalam urusan teknis duniawi, manusia dapat menggunakan pengalaman, pengetahuan, dan inovasi yang dimiliki.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini memberikan ruang luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas manusia. Islam tidak menghambat kemajuan. Sebaliknya, Islam mendorong manusia untuk berpikir, belajar, dan menemukan cara-cara terbaik dalam mengelola kehidupan dunia.

Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara nilai spiritual dan kecerdasan dalam menghadapi realitas kehidupan.


Adaptasi dalam Lingkungan Aparatur

Dalam kehidupan aparatur negara, perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Perkembangan teknologi digital, pola komunikasi masyarakat yang semakin cepat, serta tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi menuntut birokrasi untuk terus bertransformasi.

Pelayanan yang dahulu memerlukan waktu berhari-hari kini diharapkan dapat selesai dalam hitungan jam bahkan menit. Sistem administrasi yang dahulu bersifat manual kini harus beralih menuju digitalisasi.

Karena itu, aparatur negara tidak boleh terjebak pada pola kerja lama.

Aparatur yang profesional adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman:
menguasai teknologi baru,
mengembangkan inovasi pelayanan,
serta memperbaiki sistem kerja agar lebih efisien dan transparan.

Namun adaptasi tidak boleh lepas dari nilai dasar integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab publik.

Perubahan tanpa nilai dapat menimbulkan penyimpangan. Tetapi nilai tanpa kemampuan beradaptasi dapat membuat organisasi tertinggal.


Responsif terhadap Perubahan Zaman

Nilai kebangsaan dari adaptasi dan inovasi adalah kemampuan negara untuk tetap responsif terhadap perubahan zaman.

Negara yang responsif mampu menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Kebijakan yang adaptif akan lebih relevan, lebih tepat sasaran, dan lebih efektif dalam menjawab tantangan sosial.

Digitalisasi layanan publik, penguatan sistem transparansi, serta inovasi dalam tata kelola pemerintahan merupakan bagian dari upaya menghadirkan negara yang modern sekaligus berintegritas.

Ketika aparatur negara memiliki semangat adaptasi dan inovasi, negara akan lebih siap menghadapi perubahan global, perkembangan teknologi, serta dinamika kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, inovasi bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan bagi keberlanjutan pelayanan publik.


Refleksi 20 Ramadhan

Ramadhan hari kedua puluh mengajak kita merenung:

Apakah kita masih terbuka terhadap perubahan?
Apakah kita berani memperbaiki cara kerja agar lebih efektif?
Apakah inovasi yang kita lakukan tetap berlandaskan nilai yang benar?

Karena pada akhirnya, organisasi yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat, tetapi yang paling mampu beradaptasi.

Ramadhan mengajarkan: perubahan yang berlandaskan nilai akan menjaga organisasi tetap relevan dan terus melayani bangsa.


Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.


kultum aparatur ramadhan lintas priangan

Berbagi Takjil: Anggota DPRD dari Partai Gerindra Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di depan Kantor DPC Gerindra Kota Tasikmalaya pada Senin (9/3/2026) tampak lebih ramai dari biasanya. Senyum warga, kendaraan yang melambat, serta tangan-tangan yang saling menyapa menjadi pemandangan hangat di tengah aktivitas ngabuburit.

Di titik itu, anggota DPRD dari Gerindra Kota Tasikmalaya Daerah Pemilihan (Dapil) 1 membagikan takjil kepada masyarakat. Sekitar 600 paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan dan warga yang melintas.

Kegiatan tersebut melibatkan H. Aslim, S.H., M.Si., Hj. Evi Silviani, S.I.P., dan H. Kuntara Harjasuparna, SE. Ketiganya merupakan anggota DPRD dari Gerindra Kota Tasikmalaya yang mewakili wilayah Dapil 1.

Bagi sebagian orang, takjil mungkin hanya sebungkus makanan ringan untuk berbuka. Namun dalam suasana Ramadhan, maknanya sering kali jauh lebih dalam. Ia bisa menjadi simbol perhatian, kehadiran, sekaligus pengingat bahwa kebersamaan masih hidup di tengah hiruk-pikuk kota.

H. Aslim, yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, mengatakan bahwa kegiatan berbagi takjil tersebut merupakan bagian dari tradisi sosial yang rutin dilakukan oleh Gerindra Kota Tasikmalaya setiap Ramadhan.

“Kegiatan ini merupakan arahan dari DPD Gerindra Jawa Barat. Di bulan Ramadhan kami didorong untuk lebih banyak hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial seperti ini,” kata Aslim.

Menurutnya, kegiatan berbagi takjil bukan sekadar aktivitas seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara wakil rakyat dengan masyarakat dalam suasana yang sederhana namun hangat.

Momentum Ramadhan sering kali menghadirkan wajah lain dari kehidupan kota. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan rutinitas harian mendadak punya waktu untuk berhenti sejenak, menyapa, dan berbagi.

Hal itu terlihat jelas dalam kegiatan berbagi takjil yang dilakukan Gerindra Kota Tasikmalaya. Warga dari berbagai latar belakang terlihat antusias. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja hingga anak-anak ikut meramaikan suasana.

Tidak sedikit pula keluarga yang sedang ngabuburit menyempatkan diri berhenti untuk mengambil takjil. Beberapa pengendara bahkan menurunkan kaca mobilnya untuk sekadar menyapa para anggota DPRD yang berdiri di tepi jalan.

Suasana yang tercipta terasa hangat dan akrab.

Elsa (33), warga Kecamatan Tawang, mengaku mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Gerindra Kota Tasikmalaya tersebut.

Menurutnya, nilai dari kegiatan seperti ini tidak selalu terletak pada materi yang dibagikan, melainkan pada kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat.

“Masyarakat tidak selalu berorientasi pada nilai materil. Takjil ini secara materil tidak seberapa. Tapi ketika dalam berbagai momentum wakil rakyat hadir di tengah warga, ini yang lebih berharga dan pasti menjadi catatan bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Asep (51), warga Paseh, Kota Tasikmalaya. Ia mengaku bersyukur menerima takjil yang dibagikan.

“Banyak masyarakat kecil seperti saya yang jarang menikmati takjil. Jangankan buat jajan takjil, untuk makan buka dan sahur saja benar-benar harus berusaha keras. Alhamdulillah hari ini ada takjil dari Pa Haji Aslim. Haturnuhun,” katanya.

Di tengah berbagai dinamika kehidupan kota, momen sederhana seperti ini sering kali menjadi pengingat bahwa kepedulian masih ada.

Bagi Gerindra Kota Tasikmalaya, berbagi takjil bukan sekadar agenda Ramadhan, tetapi juga cara untuk menjaga kedekatan dengan masyarakat yang mereka wakili.

Karena pada akhirnya, politik yang paling mudah dirasakan masyarakat bukanlah yang berbicara di ruang rapat—melainkan yang hadir di tepi jalan, menjelang adzan maghrib, sambil menyodorkan sebungkus takjil dengan senyum yang tulus. (AS)

Pemuda PUI Kota Tasikmalaya: “Ini 3 Dosa Toko Sen Sen, Harus Ditutup!”

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Sorotan terhadap Toko Sen Sen di Kota Tasikmalaya terus bergulir. Kali ini, kritik datang dari Ketua Pemuda PUI Kota Tasikmalaya, Fikri Dikriansyah, yang secara terbuka menyatakan bahwa Toko Sen Sen memang sudah seharusnya ditutup karena sejumlah pelanggaran yang dinilai merugikan pedagang kecil dan masyarakat.

Dalam keterangannya, Fikri Dikriansyah menyebut ada tiga pelanggaran serius atau “tiga dosa” Toko Sen Sen yang membuat keberadaan usaha tersebut menjadi sorotan publik di Tasikmalaya.

Menurut Fikri, sebelum berbicara soal pelanggaran usaha, ia terlebih dahulu ingin menyampaikan apresiasi kepada para tokoh masyarakat yang berani berdiri bersama pedagang Pasar Cikurubuk.

Pemuda PUI Kota Tasikmalaya, kata Fikri, merasa bersyukur karena masih ada tokoh-tokoh yang mau membela masyarakat ketika warga merasa diperlakukan tidak adil.

“Kami sebagai pemuda tentu sangat bahagia dan mengapresiasi tokoh-tokoh Tasikmalaya yang mau berdiri bersama warga ketika warga merasa menjadi korban ketidakadilan,” kata Fikri Dikriansyah.

Ia secara khusus menyebut beberapa tokoh yang selama ini aktif mendampingi pedagang Pasar Cikurubuk, di antaranya KH Miftah Fauzi, H. Sigit Wahyu Nandika, dan H. Nanang Nurjamil.

Menurut Fikri, peran para tokoh tersebut sangat penting karena gerakan masyarakat tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan dan arahan.

“Pemuda tidak bisa berjalan sendiri. Kami perlu dorongan, wejangan, dan arahan dari para tokoh yang memiliki pengalaman serta kepedulian terhadap masyarakat. Apalagi faktanya hari ini kita dihadapkan pada kualitas komunikasi publik dari kepala daerah yang buruk,” ujarnya.

Namun dalam pandangan Pemuda PUI Kota Tasikmalaya, persoalan utama tetap berada pada praktik usaha Toko Sen Sen yang dinilai telah melakukan sejumlah pelanggaran serius.

Fikri menyebut pelanggaran tersebut sebagai “tiga dosa Toko Sen Sen”.

Dosa Pertama: Izin Grosir tapi Menjual Eceran

Menurut Fikri, pelanggaran pertama yang paling jelas adalah praktik usaha yang tidak sesuai dengan izin usaha.

Berdasarkan dokumen perizinan, Toko Sen Sen terdaftar sebagai usaha perdagangan besar atau grosir. Namun dalam praktiknya, toko tersebut juga melayani penjualan eceran.

Praktik seperti ini, kata Fikri, jelas merugikan pedagang kecil yang berjualan di pasar tradisional seperti Pasar Cikurubuk.

“Kalau izinnya grosir, ya harusnya grosir. Tidak boleh melayani eceran. Ini bukan sekadar soal persaingan, tetapi soal kepatuhan terhadap aturan,” tegas Fikri Dikriansyah.

Menurutnya, aturan tersebut dibuat untuk menjaga keseimbangan antara usaha besar dan pedagang kecil agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat.

Dosa Kedua: Bangunan Bermasalah

Pelanggaran kedua yang disoroti Pemuda PUI Kota Tasikmalaya berkaitan dengan bangunan Toko Sen Sen.

Fikri menyoroti temuan pemerintah daerah bahwa bangunan toko tersebut tidak sesuai dengan gambar perencanaan yang diajukan saat mengurus izin IMB atau PBG.

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Fikri, terdapat bagian bangunan yang melebar hingga menutup saluran air.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya soal administrasi bangunan, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat luas.

“Kalau sampai mengganggu saluran air, itu sudah menyangkut hajat hidup warga. Ini bukan lagi sekadar masalah izin bangunan,” ujarnya.

Dosa Ketiga: Bandel

Namun menurut Fikri Dikriansyah, pelanggaran paling fatal dari Toko Sen Sen adalah sikap yang dinilai tidak mengindahkan peringatan.

Ia menilai persoalan Toko Sen Sen sebenarnya sudah lama disuarakan. Namun hingga akhirnya muncul aksi demonstrasi pedagang Pasar Cikurubuk, usaha tersebut dinilai tetap berjalan seperti biasa.

“Ini yang paling fatal. Sudah diperingati, sudah disorot, tapi seperti merasa anteng-anteng saja,” kata Fikri.

Ia bahkan mempertanyakan apakah sikap tersebut muncul karena adanya pihak-pihak yang memberikan perlindungan.

“Apa karena merasa punya beking?” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Fikri Dikriansyah menegaskan bahwa Pemuda PUI Kota Tasikmalaya akan terus mengawal persoalan Toko Sen Sen bersama masyarakat.

Ia memastikan Pemuda PUI akan tetap berdiri bersama Forum Masyarakat Peduli Pasar Cikurubuk untuk memastikan aturan benar-benar ditegakkan.

“Kami dari Pemuda PUI Kota Tasikmalaya akan terus bersama Forum Masyarakat Peduli Pasar Cikurubuk untuk mengawal isu ini sampai tuntas,” tegasnya.

Bagi Fikri, penegakan aturan terhadap Toko Sen Sen di Tasikmalaya bukan sekadar persoalan satu usaha, tetapi menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam menjaga keadilan bagi pedagang kecil dan masyarakat Kota Tasikmalaya. (AS)

Kisah Asmara yang Membuat Pemuda Tasikmalaya Minum Racun

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Minggu sore, 8 Maret 2026. Matahari mulai condong ke barat ketika suasana di Pertigaan Mangin, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya perlahan berubah.

Sore di kawasan itu biasanya berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas tanpa banyak perhatian. Orang-orang pulang dari aktivitas harian, sebagian bersiap menyambut waktu berbuka puasa.

Namun di pinggir jalan itu, sebuah peristiwa kecil nyaris berubah menjadi tragedi.

Seorang pemuda Tasikmalaya minum racun, lalu ambruk di tepi jalan.

Pemuda itu berinisial MSH (22), warga Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Usianya baru 22 tahun—usia yang biasanya identik dengan tenaga yang kuat, rencana masa depan yang panjang, dan langkah hidup yang masih penuh harapan.

Namun sore itu, yang paling kuat dari seorang pemuda bukanlah tenaganya. Yang paling terasa justru luka dalam dada.

Di usia seperti itu, cinta sering datang dengan cara yang sangat serius. Bukan sekadar perasaan singkat, melainkan sesuatu yang terasa seperti janji masa depan. Dan ketika janji itu tiba-tiba berakhir, rasa kehilangan bisa terasa jauh lebih dalam dari yang orang bayangkan.

Begitulah yang diduga terjadi pada pemuda ini.

Kabar yang beredar menyebutkan, ia baru saja mengalami putus cinta. Entah bagaimana perpisahan itu terjadi. Mungkin dalam percakapan yang singkat. Mungkin dalam pesan yang dingin. Atau mungkin dalam kalimat sederhana yang memutuskan harapan yang selama ini ia simpan.

Yang jelas, sesuatu dalam dirinya runtuh.

Dalam keadaan batin yang rapuh itulah keputusan nekat itu diduga muncul. Pemuda itu membeli racun tikus, benda kecil yang biasanya hanya digunakan untuk membasmi hama di sudut rumah.

Namun di tangan seseorang yang sedang patah hati, benda kecil itu berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.

Racun itu kemudian dicampurkan ke dalam segelas kopi.

Barangkali kopi itu awalnya hanya minuman biasa, seperti pengusir lelah di sore hari. Namun sore itu, kopi tersebut berubah menjadi medium bagi keputusan yang lahir dari perasaan yang tidak lagi menemukan jalan keluar.

Beberapa teguk pertama mungkin terasa biasa saja. Namun racun tidak pernah benar-benar menunggu lama.

Perlahan tubuhnya mulai bereaksi. Rasa mual datang, tenaga melemah, dan keseimbangan tubuh mulai goyah. Ia masih berada di atas motornya ketika efek racun mulai terasa semakin kuat.

Perjalanan yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan menahan tubuh sendiri.

Motor yang ia kendarai akhirnya berhenti di pinggir jalan kawasan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Tidak jauh dari Pertigaan Mangin, tubuh pemuda itu tak lagi mampu melawan racun yang sudah bekerja di dalam tubuhnya.

Entah ia turun, atau langsung ambruk. Yang pastinya, warga menemukan tubuhnay sudah tergeletak di tepi jalan.

Sepeda motor matik hitam yang ia kendarai ikut tergeletak tidak jauh dari tempat ia rebah. Aspal sore itu menjadi saksi bisu dari keputusan yang lahir dari hati yang sedang hancur.

Orang-orang yang melintas mulai memperlambat kendaraan. Ada yang berhenti, ada yang hanya menoleh dengan wajah bingung.

Dalam beberapa menit saja, puluhan warga berkumpul di sekitar lokasi. Kerumunan kecil menyemut di pinggir jalan, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Seorang pemuda terbaring di aspal. Matanya terbuka, tetapi tubuhnya tak lagi kuat bergerak.

Sebagian orang mengira ia hanya pingsan karena kelelahan saat berpuasa. Dugaan itu terdengar masuk akal di tengah panasnya sore Ramadan.

Namun situasi itu segera berubah ketika kabar sebenarnya mulai beredar: pemuda Tasikmalaya minum racun setelah mengalami putus cinta.

Peristiwa itu kemudian berlanjut dengan datangnya petugas yang mengevakuasi pemuda tersebut menuju fasilitas kesehatan. Racun yang diminum ternyata belum lama masuk ke tubuhnya, sehingga tindakan medis masih dapat dilakukan untuk mengeluarkannya dari lambung sebelum menyebar lebih jauh.

Pertolongan datang tepat waktu. Nyawa pemuda itu akhirnya berhasil diselamatkan.

Namun sore di Mangkubumi hari itu menyisakan sebuah gambaran yang tidak mudah dilupakan: seorang pemuda berusia 22 tahun, usia ketika seseorang biasanya sedang membangun mimpi, justru terkapar di pinggir jalan gara-gara asmara.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Tasikmalaya, kisah nyata ini layak jadi renungan bersama. Bahwa kadang yang paling rapuh bukanlah tubuh manusia, melainkan hati yang sedang hancur karena asmara.

Dan di suatu sore yang biasa di Mangkubumi, luka itu hampir saja merenggut sebuah kehidupan yang masih sangat muda. (AS)

BNI Setujui Dividen Rp13,03 Triliun dalam RUPST 2025

0

lintaspriangan.com. BERITA JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) resmi menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun, hal itu terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Senin (09/03/2026).

​Angka tersebut setara dengan 65% dari total laba bersih konsolidasian tahun 2025 yang mencapai Rp20,04 triliun. Langkah ini menegaskan komitmen BNI dalam memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham tanpa mengabaikan penguatan fundamental perusahaan.

​Alokasi Laba dan Strategi Ekspansi

​Selain pembagian dividen, RUPST menyepakati alokasi 35% dari laba bersih atau sekitar Rp7,01 triliun sebagai saldo laba ditahan.

​Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa saldo laba tersebut akan diprioritaskan untuk mendukung ekspansi bisnis dan memperkuat permodalan di tengah kompetisi industri perbankan yang dinamis.

​”Keputusan strategis ini merupakan keseimbangan antara pemberian nilai tambah bagi investor dan upaya memperkuat fondasi permodalan perseroan demi pertumbuhan yang berkelanjutan ke depan,” katanya.

​Rencana Buyback Saham Rp905,48 Miliar
​Dalam rapat yang sama, pemegang saham juga memberikan lampu hijau untuk aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp905,48 miliar.

​Menurutnya, buyback ini merupakan instrumen strategis untuk menjaga stabilitas harga saham BNI di pasar serta memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan struktur permodalan. Eksekusinya akan tetap mematuhi regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mekanisme Bursa Efek Indonesia (BEI).

​Kepatuhan Regulasi dan Penyesuaian Anggaran Dasar

​Salah satu poin penting dalam RUPST kali ini adalah perubahan Anggaran Dasar terkait reklasifikasi 223.783.877 lembar saham Seri B milik pemerintah menjadi saham Seri A Dwiwarna. ​Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap UU No. 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas UU BUMN.

BACA JUGA: Baznas Ciamis Apresiasi Gagasan PMII Soal Potensi Zakat MBG

“Penyesuaian ini memastikan tata kelola perusahaan (GCG) tetap berjalan optimal dan selaras dengan regulasi terbaru,” tegas Okki.

​Agenda Strategis Lainnya

​Selain agenda utama di atas, RUPST BNI 2025 juga mengesahkan beberapa poin krusial:
​Pengesahan Laporan Keuangan: Menyetujui laporan tahunan dan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025.

​Perencanaan Jangka Panjang: Pendelegasian kewenangan untuk Rencana Kerja Jangka Panjang (RJPP) 2026–2030 dan RKAP 2027.
​Sustainability Bond: Pelaporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum Sustainability Bond Tahap I Tahun 2025.
​Tata Kelola SDM: Penegasan pelimpahan wewenang terkait perubahan peraturan Dana Pensiun Perseroan.

​Melalui rangkaian keputusan strategis ini, BNI optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan positif dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pilar utama industri keuangan nasional di tahun 2026. (FSL)

BAZNAS Ciamis Apresiasi Gagasan PMII Soal Potensi Zakat MBG

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis menyambut positif gagasan optimalisasi potensi zakat dari aktivitas ekonomi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu terungkap dalam audiensi yang dihadiri perwakilan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, tim pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciamis di Ruang Rapat Asisten Daerah (Asda) 1 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis, Senin (09/03/2026).

Ketua BAZNAS Kabupaten Ciamis, Drs. H. Lili Miftah, MBA, mengatakan, inisiatif yang disampaikan kader PMII Ciamis tersebut dinilai dapat memperkuat penghimpunan zakat untuk kepentingan sosial masyarakat.

Menurutnya, program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka aktivitas ekonomi melalui keterlibatan mitra dapur. Dari aktivitas tersebut, terdapat peluang zakat apabila keuntungan usaha yang diperoleh telah memenuhi ketentuan wajib zakat.

“Kami sangat mengapresiasi gagasan dari mahasiswa PMII. Ini menunjukkan generasi muda tidak hanya kritis terhadap kebijakan, tetapi juga mampu menawarkan solusi sosial,” katanya, Senin (09/03/2026).

Dijelaskannya, jika potensi tersebut dikelola dengan baik, zakat yang dihimpun dapat dimanfaatkan untuk berbagai program sosial seperti bantuan pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia juga menilai gagasan tersebut dapat meluruskan persepsi masyarakat terkait isu penggunaan dana zakat dalam program MBG.

“Selama ini ada kekhawatiran dana zakat digunakan untuk membiayai program MBG. Padahal jika gagasan ini berjalan, justru aktivitas ekonomi dari program MBG dapat menjadi sumber zakat untuk kepentingan sosial masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA: Bupati Ciamis Ajak Masyarakat Jadikan Alquran Pedoman Hidup

Pihaknya juga menyatakan kesiapan untuk mengelola potensi zakat tersebut apabila para mitra program MBG bersedia menunaikan zakat dari keuntungan usaha mereka.

Dalam audiensi tersebut juga muncul usulan agar Pemkab Ciamis mengeluarkan imbauan kepada yayasan atau mitra yang terlibat dalam program MBG untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS, terutama menjelang bulan Ramadan.

Sementara itu, kader PMII Ciamis, Muhammad Sidik mengatakan gagasan tersebut lahir dari kajian terhadap potensi ekonomi yang muncul dari pelaksanaan program MBG di daerah.

“Kami melihat ada potensi ekonomi yang cukup besar dari aktivitas program MBG. Karena itu kami mendorong agar potensi zakatnya dapat dihimpun secara sistematis melalui BAZNAS agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ungkapnya. (FSL)

Toko Sen Sen Didemo Forum Masyarakat Peduli Pasar Cikurubuk

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYA. Aksi demonstrasi mewarnai kawasan Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Senin (9/3/2026). Sekitar 300 orang pedagang dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Pasar Cikurubuk menggelar aksi di depan Toko Sen Sen.

Aksi ini digelar sebagai bentuk protes terhadap dugaan pelanggaran izin usaha yang dilakukan Toko Sen Sen, yang menurut pedagang selama ini memiliki izin perdagangan besar atau grosir, namun dalam praktiknya juga melayani penjualan eceran.

Sejak sekitar pukul 09.45 WIB, massa mulai berdatangan ke lokasi aksi di depan Toko Sen Sen yang berada di kawasan perdagangan Pasar Cikurubuk.

Mayoritas peserta aksi merupakan pedagang pasar tradisional, banyak di antaranya perempuan yang sehari-hari berjualan kebutuhan pokok di pasar tersebut.

Selain pedagang, aksi juga diikuti pengurus Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (HIPPATAS) serta elemen masyarakat dari LSM Sajalur.

Toko Sen Sen Didemo 02

Sekitar pukul 10.15 WIB, aksi Toko Sen Sen didemo secara resmi dimulai dengan orasi pembukaan dari Cep Hilmi, mantan Ketua HMI Tasikmalaya yang bertindak sebagai koordinator lapangan.

Aksi berlangsung di bawah pengamanan sekitar 100 personel Polres Tasikmalaya Kota.

Bagi para pedagang Pasar Cikurubuk, demonstrasi terhadap Toko Sen Sen bukan sekadar aksi spontan. Mereka menilai persoalan ini sudah lama terjadi dan belum mendapatkan penanganan yang jelas dari pemerintah daerah.


Berawal dari Surat Aspirasi Pedagang

Sebelum Toko Sen Sen didemo, para pedagang sebenarnya telah lebih dahulu menempuh jalur administratif.

Pada 13 Februari 2026, Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (HIPPATAS) mengirimkan surat resmi kepada sembilan instansi di Kota Tasikmalaya.

Surat tersebut ditujukan kepada:

  • Wali Kota Tasikmalaya
  • DPRD Kota Tasikmalaya
  • Polres Tasikmalaya Kota
  • Kejaksaan Negeri Tasikmalaya
  • Kodim 0612 Tasikmalaya
  • Satpol PP
  • Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Perdagangan
  • Dinas Lingkungan Hidup
  • Dinas Perhubungan

Dalam surat itu, para pedagang meminta pemerintah melakukan penertiban usaha yang diduga melanggar aturan, termasuk praktik grosir yang melayani penjualan eceran.

Namun hingga hampir tiga pekan berlalu, para pedagang mengaku belum mendapatkan respons konkret dari pemerintah kota.

Kondisi tersebut kemudian memicu rencana aksi yang akhirnya diwujudkan pada Senin pagi ketika Toko Sen Sen didemo oleh ratusan pedagang Pasar Cikurubuk.

Halaman selanjutnya: Orasi Tokoh: Persoalan Keadilan Usaha


Angka Kemiskinan Kota Tasikmalaya Tertinggi ke-2 di Jawa Barat

lintaspriangan.comBERITA TASIKMALAYAKemiskinan Kota Tasikmalaya masih menjadi sorotan dalam peta kesejahteraan daerah di Jawa Barat. Berdasarkan kompilasi data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Tasikmalaya tercatat sebagai daerah dengan persentase kemiskinan tertinggi kedua di Jawa Barat.

Perhitungan tersebut didasarkan pada persentase penduduk miskin dibandingkan dengan jumlah penduduk di setiap daerah. Metode ini digunakan untuk melihat seberapa besar proporsi warga yang hidup di bawah garis kemiskinan di suatu wilayah.

Data BPS menunjukkan, persentase penduduk miskin di Kota Tasikmalaya mencapai sekitar 10,84 persen. Dengan jumlah penduduk sekitar 768 ribu jiwa, angka tersebut setara dengan sekitar 75 ribu warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat, angka ini menempatkan Kota Tasikmalaya di peringkat kedua tertinggi tingkat kemiskinan.

Berikut beberapa daerah dengan persentase kemiskinan tertinggi di Jawa Barat:

  1. Kabupaten Indramayu
  2. Kota Tasikmalaya
  3. Kabupaten Kuningan
  4. Kabupaten Tasikmalaya
  5. Kabupaten Cirebon
  6. Kabupaten Majalengka
  7. Kabupaten Garut
  8. Kabupaten Subang
  9. Kabupaten Cianjur
  10. Kabupaten Sumedang

Peringkat tersebut dihitung berdasarkan persentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk di masing-masing daerah.

Rumus yang digunakan dalam perhitungan ini adalah:

Persentase kemiskinan = (jumlah penduduk miskin ÷ jumlah penduduk) × 100 persen

Dengan pendekatan ini, perbandingan antar daerah menjadi lebih proporsional. Sebab wilayah dengan jumlah penduduk besar tidak otomatis memiliki tingkat kemiskinan tinggi jika persentasenya kecil.