Kultum Aparatur 09: “Mendengar untuk Melayani”

lintaspriangan.com, KULTUR. Suatu hari, seorang perempuan tua datang menemui Rasulullah ﷺ. Penampilannya sederhana. Ucapannya mungkin tidak tertata rapi. Ia bukan tokoh penting, bukan pula orang terpandang.
Namun Rasulullah ﷺ tidak memotong pembicaraannya. Tidak tergesa-gesa. Tidak menunjukkan kejenuhan. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan tetap berdiri hingga perempuan itu selesai menyampaikan keluhannya.

Dalam riwayat disebutkan, beliau adalah orang yang paling baik dalam mendengar—tidak memalingkan wajah, tidak menyela, tidak meremehkan.
Karena bagi beliau, setiap manusia berhak didengar.
Mendengar dan Mengikuti yang Terbaik
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Alladzīna yastami‘ūnal-qawla fayattabi‘ūna ahsanah
“(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa mendengar adalah bagian dari kematangan iman. Tidak semua orang mampu mendengar dengan hati terbuka. Banyak yang lebih suka berbicara daripada memahami.
Dalam tafsir disebutkan bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh, lalu memilih yang terbaik.
Ramadhan melatih kepekaan hati. Ketika lapar dan dahaga kita rasakan, empati terhadap sesama menjadi lebih hidup. Kita lebih mudah memahami rasa sulit orang lain.
Dan empati dimulai dari kesediaan untuk mendengar.
Pelayanan yang Menguatkan Ikatan
Dalam kehidupan bernegara, pelayanan publik bukan hanya soal prosedur dan kecepatan, tetapi juga tentang perasaan dihargai.
Sering kali masyarakat datang bukan hanya membawa berkas, tetapi juga membawa harapan, kecemasan, bahkan keluhan.
Aparatur yang empatik tidak hanya fokus pada dokumen, tetapi juga pada manusia di baliknya.
Mendengar aspirasi masyarakat adalah bentuk pelayanan. Dengan mendengar, kita memahami kebutuhan riil. Dengan memahami, kita bisa mengambil kebijakan yang tepat.
Tanpa empati, pelayanan terasa kaku.
Dengan empati, pelayanan terasa manusiawi.
Kepedulian Sosial sebagai Nilai Kebangsaan
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang peduli terhadap warganya.
Kepedulian sosial bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab institusi. Negara hadir bukan sekadar mengatur, tetapi juga mendengar.
Ketika aparatur negara membuka ruang dialog, menerima kritik dengan lapang, dan menanggapi keluhan dengan serius, maka kepercayaan publik tumbuh.
Empati memperkuat ikatan antara negara dan rakyat. Ia menumbuhkan rasa memiliki, rasa dilindungi, dan rasa dihargai.
Ramadhan adalah bulan yang menumbuhkan solidaritas sosial. Dari empati pribadi, lahir kepedulian kolektif.
Refleksi 09 Ramadhan
Ramadhan hari kesembilan mengajak kita bertanya:
Apakah kita sudah benar-benar mendengar sebelum mengambil keputusan?
Apakah kita sabar menghadapi keluhan masyarakat?
Apakah kita melihat rakyat sebagai beban, atau sebagai amanah?
Mendengar bukan tanda kelemahan.
Ia adalah tanda kedewasaan.
Karena dari telinga yang terbuka, lahir kebijakan yang bijaksana.
Dan dari empati yang tulus, lahir bangsa yang saling menguatkan.
Ramadhan mengajarkan: mendengar adalah bentuk pelayanan. Dari empati aparatur, tumbuh kepedulian bangsa.
Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.




