Kultum Aparatur 08: “Bahasa Aparatur, Menyejukkan dan Mencerahkan”

lintaspriangan.com, KULTUR. Suatu hari, seorang Arab Badui datang ke masjid dan berbicara dengan cara yang keras dan kurang sopan kepada Rasulullah ﷺ. Para sahabat tersinggung. Sebagian ingin menegurnya dengan tegas.
Namun Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kemarahan. Beliau mendekatinya dengan tenang, mendengarkan, lalu menjelaskan dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami. Tidak mempermalukan. Tidak merendahkan. Tidak meninggikan suara.
Orang Badui itu pun luluh.

Inilah kekuatan komunikasi yang beradab: bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menyentuh hati.
Berkata yang Benar dan Tepat
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha wa qūlū qawlan sadīdā
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Kata qawlan sadīdan dalam tafsir para ulama dimaknai sebagai ucapan yang benar, lurus, tepat, dan membawa perbaikan. Bukan hanya benar secara fakta, tetapi juga tepat cara penyampaiannya.
Islam tidak hanya mengatur apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.
Ramadhan melatih lisan. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga kata-kata. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa jika tidak mampu berkata baik, lebih baik diam.
Di sinilah komunikasi menjadi bagian dari integritas.
Komunikasi Aparatur: Menyejukkan dan Membangun Kepercayaan
Dalam kehidupan bernegara, komunikasi publik memiliki dampak luas. Satu kalimat dapat meredakan kegelisahan masyarakat. Satu pernyataan yang keliru dapat memicu kesalahpahaman.
Aparatur bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga wajah negara di mata rakyat.
Bahasa yang digunakan harus:
- Jelas dan transparan
- Tidak menyinggung
- Tidak defensif
- Tidak meremehkan
Komunikasi yang efektif bukan hanya soal retorika, tetapi tentang empati dan tanggung jawab.
Ketika aparatur berbicara dengan santun dan terbuka, masyarakat merasa dihargai. Dari situ lahir kepercayaan.
Etika Komunikasi Publik sebagai Nilai Kebangsaan
Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang komunikasinya beradab.
Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun cara menyampaikan dan meresponsnya menentukan kualitas kehidupan berbangsa.
Etika komunikasi publik menjaga stabilitas sosial. Ia mencegah polarisasi. Ia merawat persatuan.
Ramadhan mengajarkan pengendalian lisan. Jika setiap aparatur mampu menjaga kata-katanya, maka ruang publik akan lebih teduh.
Negara tidak hanya dibangun oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh bahasa yang mencerahkan.
Refleksi 08 Ramadhan
Ramadhan hari kedelapan mengajak kita bertanya:
Apakah kata-kata kita sudah membawa ketenangan atau justru kegaduhan?
Apakah komunikasi kita membangun kepercayaan atau menambah jarak?
Apakah kita sudah berbicara dengan empati dan tanggung jawab?
Lisan yang terjaga adalah cermin hati yang tertata.
Bahasa yang santun adalah wujud kedewasaan.
Ramadhan mengajarkan: komunikasi yang benar dan beradab bukan hanya etika pribadi, tetapi fondasi kepercayaan bangsa.
Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.




