Kultum Aparatur 06: “Kerja Sama, Bukan Sama-Sama Kerja”

lintaspriangan.com, KULTUR. Madinah saat itu masih sederhana. Tanahnya berpasir, bangunannya belum megah. Ketika Rasulullah ﷺ tiba setelah hijrah, hal pertama yang dibangun bukanlah istana, bukan pula pusat kekuasaan, melainkan masjid.
Masjid Nabawi.
Yang menarik, Rasulullah ﷺ tidak hanya memerintah. Beliau turun langsung mengangkat batu, memikul tanah, bekerja bersama para sahabat. Muhajirin dan Anshar berdiri sejajar. Tidak ada sekat. Tidak ada ego sektoral. Tidak ada pembagian kelas.

Mereka bekerja bukan sekadar berdampingan, tetapi saling menguatkan.
Masjid itu bukan hanya bangunan fisik. Ia adalah simbol kerja kolektif yang dilandasi iman.
Perintah untuk Saling Menolong
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta‘āwanū ‘alal-itsmi wal-‘udwān
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini bukan hanya perintah sosial, tetapi fondasi peradaban. Kerja sama dalam kebajikan melahirkan kekuatan kolektif. Sebaliknya, kolaborasi dalam penyimpangan melahirkan kerusakan sistemik.
Ramadhan mengajarkan nilai kebersamaan. Kita berbuka bersama, tarawih berjamaah, berbagi makanan, saling menguatkan dalam ibadah. Semangat kolektif ini adalah energi sosial yang luar biasa.
Kerja Sama Aparatur: Menembus Sekat
Dalam birokrasi modern, sering kali muncul sekat-sekat unit, ego sektoral, dan kepentingan masing-masing bidang. Padahal pelayanan publik tidak pernah berdiri di satu meja saja.
Kerja sama bukan sekadar hadir dalam satu ruangan atau menandatangani dokumen bersama. Kerja sama adalah kesadaran bahwa tujuan kita sama: melayani masyarakat.
Aparatur dalam berbagai fungsi dan sektor, dituntut menembus sekat formalitas dan membangun sinergi. Ketika satu unit bekerja sendiri tanpa koordinasi, pelayanan menjadi lambat dan terfragmentasi. Tetapi ketika kolaborasi terbangun, pelayanan menjadi cepat, utuh, dan berdampak.
Kerja sama yang benar lahir dari kerendahan hati—mau mendengar, mau berbagi peran, dan mau mengakui bahwa keberhasilan adalah hasil tim.
Gotong Royong: Jati Diri Bangsa
Nilai kebangsaan Indonesia sejak lama bertumpu pada gotong royong. Ia bukan sekadar budaya, tetapi karakter kolektif bangsa.
Gotong royong adalah kerja bersama dengan kesadaran bahwa kepentingan umum lebih utama dari kepentingan pribadi. Inilah semangat yang juga tercermin dalam ajaran Islam.
Ketika aparatur negara menghidupkan semangat gotong royong, pelayanan publik menjadi lebih humanis. Persoalan masyarakat tidak dipandang sebagai beban satu instansi, melainkan tanggung jawab bersama.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang aparatur negaranya mampu bekerja sebagai satu tubuh.
Refleksi 06 Ramadhan
Ramadhan hari keenam mengajak kita bertanya:
Apakah kita benar-benar bekerja sama, atau hanya sama-sama bekerja?
Apakah kita membangun sinergi, atau sekadar menjalankan tugas masing-masing?
Apakah ego sektoral masih menghambat pelayanan terbaik bagi rakyat?
Masjid Nabawi dibangun dengan tangan-tangan yang saling menopang.
Peradaban besar lahir dari kerja kolektif yang dilandasi iman.
Ramadhan mengajarkan: kerja sama dalam kebaikan adalah kekuatan. Dari sinergi aparatur, lahir pelayanan yang memuliakan bangsa.
Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.




