Kultum Aparatur 02: “Bekerja Benar Meski Tanpa Pengawasan”

lintaspriangan.com, KULTUR. Madinah suatu hari tampak tenang. Negara Islam baru saja berdiri. Wilayahnya meluas. Tanggung jawabnya besar. Di tengah kesibukan itu, ada seorang lelaki yang kini memikul jabatan tertinggi: Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
Namun pagi-pagi sekali, beliau tetap terlihat memanggul barang dagangan di pundaknya, hendak menuju pasar.

Para sahabat terkejut.
“Engkau kini khalifah Rasulullah,” kata mereka.
“Bagaimana mungkin engkau masih berdagang seperti biasa?”
Abu Bakar r.a. menjawab dengan sederhana: keluarganya tetap harus makan, dan ia tidak ingin mengambil dari baitul mal kecuali secukupnya. Bahkan ketika gajinya ditetapkan, jumlahnya sangat minimal. Di akhir hayatnya, beliau masih meminta agar seluruh fasilitas yang pernah dipakai dikembalikan ke kas negara.
Ia adalah kepala negara. Tidak ada sistem audit modern. Tidak ada pengawasan ketat seperti hari ini. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari pengawasan manusia: kesadaran bahwa Allah selalu melihat.
Setiap Amal Tercatat
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Mā yalfizhu min qawlin illā ladaihi raqībun ‘atīd
“Tiada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Dalam penjelasan para mufassir, ayat di atas bukan hanya tentang ucapan, tetapi menjadi simbol bahwa seluruh amal manusia berada dalam pengawasan Ilahi. Tidak ada ruang kosong dari pencatatan. Tidak ada tindakan yang luput dari perhitungan.
Ramadhan melatih kesadaran ini secara intens. Saat berpuasa, kita tidak makan dan minum bukan karena takut manusia, tetapi karena sadar Allah mengawasi. Bahkan ketika sendirian, bahkan ketika tidak ada yang tahu.
Di sinilah integritas pribadi ditempa.
Integritas bukan soal citra. Bukan soal terlihat baik. Ia adalah kesesuaian antara batin dan tindakan—antara yang tampak dan yang tersembunyi.
Integritas ASN: Lurus Tanpa Pengawasan
Dalam kehidupan bernegara, sistem pengawasan memang penting. Regulasi dibuat. Audit dilakukan. Standar operasional ditetapkan.
Namun sistem terbaik sekalipun tidak akan cukup tanpa integritas pribadi.
Bekerja benar ketika atasan melihat adalah kewajaran.
Bekerja benar ketika tidak ada yang mengawasi, itulah integritas.
Puasa mengajarkan pengawasan internal (self control). Seorang aparatur negara yang memiliki kesadaran spiritual tidak akan menunda pekerjaan, memanipulasi laporan, atau menyalahgunakan kewenangan meski celah itu terbuka.
Karena ia sadar:
Laporan mungkin bisa disiasati.
Sistem mungkin bisa dilewati.
Tetapi catatan Allah tidak pernah salah.
Integritas pribadi adalah fondasi martabat institusi. Ketika satu aparatur menjaga kejujuran, ia sedang menjaga kehormatan negara.
Keteladanan dalam Kehidupan Bernegara
Satu hal sederhana tapi tak jarang dilupakan. Negara tidak hanya membutuhkan aturan, tapi keteladanan.
Keteladanan aparatur bukan dibangun dari pidato, melainkan dari konsistensi. Masyarakat mungkin tidak mengetahui detail pekerjaan birokrasi, tetapi mereka merasakan dampaknya: pelayanan yang adil, keputusan yang bersih, dan sikap yang profesional.
Abu Bakar r.a. memberi contoh bahwa jabatan tinggi tidak boleh mengubah kesederhanaan dan kejujuran. Ketika integritas menjadi karakter, kekuasaan tidak akan menggelapkan nurani.
ASN yang berintegritas menjadi cermin nilai bangsa. Ia menunjukkan bahwa negara dijalankan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
Dan kepercayaan adalah modal sosial terbesar sebuah bangsa.
Refleksi 02 Ramadhan
Ramadhan hari kedua mengajak kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Apakah kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak diawasi?
Apakah kita tetap jujur ketika peluang untuk menyimpang terbuka?
Apakah integritas kita bergantung pada kontrol eksternal, atau pada kesadaran iman?
Karena pada akhirnya, integritas sejati lahir dalam kesunyian.
Dalam ruang kerja yang sepi.
Dalam keputusan yang tidak diketahui orang lain.
Dan di situlah kualitas seorang aparatur negara diuji.
Ramadhan mengajarkan: bekerja benar bukan karena diawasi manusia, tetapi karena merasa diawasi Allah. Dari sinilah martabat pribadi dan kehormatan bangsa dijaga.
Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.




