Kultum Aparatur 01: “Amanah Jabatan, Amanah Kehidupan”

lintaspriangan.com, KULTUR. Malam itu, Makkah sunyi namun tegang. Rasulullah ﷺ bersiap meninggalkan kota yang dicintainya. Ancaman pembunuhan telah direncanakan. Para pemuka Quraisy telah sepakat untuk menghabisi beliau.
Namun di tengah situasi genting itu, ada satu hal yang tidak beliau abaikan: titipan harta kaum Quraisy yang selama ini disimpan di rumahnya.

Ironis, harta yang ia jaga selama ini, adalah harta milik orang-orang yang memusuhi bahkan ingin membunuhnya.
Rasulullah ﷺ tidak membawa titipan itu saat hijrah. Dan, tidak pula membiarkannya begitu saja. Beliau justru meminta Ali bin Abi Thalib r.a. untuk tetap tinggal sementara, dengan salah satu misinya: mengembalikan seluruh amanah itu kepada pemiliknya, satu per satu.
Musuh boleh membenci.
Dan kebencian boleh menyala.
Tetapi amanah tetap harus dijaga.
Itulah standar integritas dalam Islam.
Amanah Bukan Sekadar Jabatan
Ramadhan datang mengajarkan satu hal yang sering terlupa: hidup ini adalah amanah. Dan jabatan hanyalah salah satu bentuknya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Innallāha ya’murukum an tu’addul-amānāti ilā ahlihā
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini mencakup seluruh amanah: kepemimpinan, hukum, harta, hingga tanggung jawab terhadap manusia. Amanah bukan hanya soal tidak mengambil yang bukan hak kita, tetapi juga tidak menyalahgunakan kewenangan, tidak mengkhianati kepercayaan, dan tidak mengabaikan tanggung jawab.
Puasa sendiri adalah latihan amanah paling sunyi. Tidak ada yang melihat ketika kita sendirian. Tidak ada yang tahu jika kita membatalkan puasa secara diam-diam. Namun kita tetap menahan diri, karena sadar Allah melihat.
Jika dalam urusan makan dan minum saja kita mampu jujur tanpa pengawasan, seharusnya dalam urusan jabatan tak ada alasan untuk jadi lengah.
Antara Tugas dan Ibadah
Dalam konteks Aparatur Sipil Negara, jabatan bukan sekadar struktur organisasi. Ia adalah kepercayaan publik.
Setiap berkas yang ditandatangani.
Setiap keputusan yang diambil.
Setiap pelayanan yang diberikan.
Semuanya adalah amanah.
Integritas bukan sekadar kepatuhan administratif, melainkan kesadaran batin bahwa tugas negara adalah bagian dari ibadah. Ramadhan menjadi momentum untuk menata ulang niat bekerja: bukan hanya demi target, bukan sekadar demi atasan, bukan melulu urusan karier, tetapi demi menjaga amanah Allah dan kepercayaan rakyat.
ASN yang berintegritas tidak pernah menunggu pengawasan. Karena sejatinya, ia diawasi oleh nuraninya sendiri.
Tanggung Jawab terhadap Negara dan Kepercayaan Publik
Negara berdiri di atas kepercayaan. Ketika amanah ditegakkan, kepercayaan tumbuh. Ketika amanah dilanggar, yang runtuh bukan hanya individu, tetapi wibawa institusi dan bahkan rasa percaya masyarakat terhadap negara.
Menjaga amanah berarti menjaga stabilitas sosial.
Menjaga integritas berarti menjaga martabat bangsa.
Ramadhan bukan hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Aparatur negara memiliki peran strategis dalam menjembatani nilai spiritual dan kepentingan publik.
Refleksi 01 Ramadhan
Ramadhan hari pertama adalah saat terbaik untuk memperbarui komitmen:
Apakah jabatan yang kita emban telah menjadi jalan ibadah?
Apakah keputusan yang kita ambil telah mencerminkan amanah?
Apakah rakyat merasa dilayani dengan jujur dan adil?
Karena kelak, bukan hanya laporan kinerja yang diminta.
Ada pertanggungjawaban yang lebih besar di hadapan Allah.
Dan mungkin, integritas terbesar justru terlihat ketika kita tetap amanah, bahkan kepada mereka yang tidak menyukai kita.
Ramadhan mengajarkan: amanah jabatan adalah bagian dari amanah kehidupan. Menjaganya bukan hanya kewajiban profesional, tetapi panggilan iman.
Rubrik Kultum Aparatur Ramadhan atau Kultur merupakan rubrik asuhan Abu Qinan.




