Fasilitas Itu Melekat pada Amanah

lintaspriangan.com, KULTUR. Dalam keseharian, fasilitas jabatan sering hadir begitu alami. Kendaraan dinas tersedia. Tunjangan komunikasi rutin cair. Bahan bakar, makan-minum, perjalanan, dan berbagai kemudahan lain menyertai tugas. Lama-kelamaan, semua itu terasa wajar. Bahkan terasa seperti bagian dari kehidupan pribadi. Di titik inilah, tanpa disadari, makna amanah mulai memudar.
Islam memandang jabatan dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai hak, bukan sebagai hadiah, dan bukan sebagai bentuk penghormatan. Jabatan—bersama seluruh fasilitas yang melekat padanya—adalah titipan. Dan setiap titipan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ bersabda dengan kalimat yang singkat, tetapi mengguncang nurani:
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
“Hadiah bagi para pejabat adalah pengkhianatan (ghulul).”
(HR. Ahmad)
Para ulama menjelaskan, hadiah dalam hadis ini tidak terbatas pada bingkisan pribadi. Ia mencakup segala sesuatu yang diterima karena jabatan. Termasuk fasilitas, kemudahan, dan keistimewaan yang tidak akan didapatkan jika seseorang tidak memegang amanah tersebut. Artinya, yang menjadikan sesuatu bermasalah bukan bendanya, melainkan sebab ia diperoleh.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ mengingatkan dengan bahasa yang sangat jelas:
وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang berkhianat dalam amanah, ia akan datang pada hari kiamat membawa apa yang ia khianati.”
(QS. Ali ‘Imran: 161)
Ayat ini sering dipahami dalam konteks harta rampasan perang. Namun para mufassir menegaskan: maknanya umum. Setiap amanah publik yang diselewengkan—sekecil apa pun—akan hadir kembali di hadapan pelakunya pada hari perhitungan.
Para sahabat Nabi ﷺ memahami hal ini dengan rasa takut yang nyata. Abu Bakar Ash-Shiddiq raḍiyallāhu ‘anhu, ketika diangkat menjadi khalifah, awalnya tetap berdagang seperti biasa. Ia khawatir mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan umat. Ketika akhirnya ditetapkan gaji dari baitul mal, itu pun sekadar untuk kebutuhan yang sangat sederhana. Menjelang wafatnya, Abu Bakar meminta agar seluruh fasilitas yang ia gunakan dikembalikan. Ia tidak ingin membawa apa pun yang meragukan ke hadapan Allah.
Sikap yang lebih tegas lagi terlihat pada Umar bin Abdul Aziz raḍiyallāhu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa Umar mematikan lampu yang menggunakan minyak negara ketika pembicaraan beralih ke urusan pribadi. Bukan karena lampu itu mahal. Bukan karena minyak itu langka. Tetapi karena ia tahu persis batas amanah. Cahaya yang dibiayai umat tidak pantas digunakan untuk kepentingan diri.
Di mata Umar bin Abdul Aziz, fasilitas negara bukan soal boleh atau tidak secara hukum semata, tetapi soal pantaskah dipertanggungjawabkan di akhirat.
Inilah titik penting yang sering terlewat dalam budaya birokrasi modern. Ketika fasilitas dicatat rapi dalam aturan, seseorang bisa merasa aman secara administratif. Namun Islam mengajarkan lapisan yang lebih dalam: amanah batiniah. Apakah fasilitas itu digunakan sepenuhnya untuk tugas? Apakah ada bagian yang dinikmati di luar keperluan? Apakah keluarga ikut memanfaatkannya tanpa hak? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak muncul dalam audit, tetapi pasti muncul dalam hisab.
Rasulullah ﷺ pernah menegur seorang petugas zakat yang berkata, “Ini untuk kalian, dan ini hadiah untukku.” Nabi ﷺ marah dan bersabda bahwa seandainya ia duduk di rumah orang tuanya, apakah hadiah itu akan datang kepadanya? Teguran ini bukan tentang jumlah. Ia tentang kesadaran sebab: apa yang datang karena jabatan, maka hukumnya mengikuti amanah jabatan itu.
Bagi pejabat hari ini, fasilitas memang disediakan agar tugas berjalan lancar. Islam tidak memusuhi kemudahan. Namun Islam menolak perubahan status: dari titipan menjadi kepemilikan, dari amanah menjadi kebiasaan, dari alat pelayanan menjadi simbol kenikmatan.
Jabatan akan berakhir. Fasilitas akan ditarik. Kendaraan akan berpindah tangan. Tunjangan akan berhenti. Namun satu hal tidak ikut berakhir: pertanggungjawaban. Ia menunggu dengan tenang, sampai semua manusia berdiri di hadapan Allah ﷻ tanpa jabatan dan tanpa fasilitas.
Di sanalah nanti, setiap amanah akan ditanya. Bukan hanya apa yang digunakan, tetapi bagaimana dan untuk apa.
Mengingat hal ini bukan untuk menuduh. Ia adalah undangan untuk kembali sadar. Bahwa fasilitas itu tidak pernah melekat pada diri. Ia melekat pada amanah. Dan amanah, selalu meminta kejujuran sampai ke akhir.
Wallahu a’lam bish-shawab.

