Menjadi Kepala Daerah yang Berdampak, Bukan Sekadar Baik

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Pagi itu ruang rapat di kantor pemerintah daerah tampak sangat tertib. Air mineral tersusun lurus seperti barisan pasukan upacara.
Kue kotak berjajar dengan disiplin militer.
Semua kursi sudah diisi pejabat yang duduk dengan wajah serius, atau setidaknya berusaha terlihat serius.
Di kursi paling depan dan tentu dengan bentuk lebih mewah, duduk sang kepala daerah.
Ia dikenal luas sebagai pemimpin yang sangat baik.
Saking baiknya, hampir tidak ada orang yang pernah melihatnya marah.
Saking baiknya, hampir tidak ada pula orang yang pernah melihatnya menolak sesuatu.
Dan, rapat pun dimulai.
Seorang pejabat memaparkan laporan panjang dengan grafik berwarna-warni.
Semua terlihat indah.
Angka kemiskinan dibahas dengan suara datar.
Masalah pelayanan publik disampaikan dengan bahasa yang sangat halus.
Sampah, angka kemiskinan, dan keluhan warga muncul dalam bentuk slide yang tampak seperti presentasi wisata.
Semua orang mengangguk.
Tidak ada yang menyela.
Tidak ada yang bertanya terlalu tajam.
Rapat berjalan sangat damai.
Di akhir presentasi, kepala daerah tersenyum.
“Baik,” katanya lembut.
“Kita lanjutkan.”
Semua orang lega.
Tidak ada yang ditegur.
Tidak ada yang dipermalukan.
Tidak ada yang pulang dengan perasaan tersinggung.
Rapat selesai tepat waktu.
Masalahnya hanya satu: Nyaris tak ada yang berubah!
Beberapa bulan kemudian, warga masih mengeluh soal jalan rusak.
Darinase tersumbat dan banjir.
Pelayanan masih lambat.
Juga tentang sampah.
Namun satu hal tetap konsisten.
Kepala daerah itu tetap dikenal sebagai orang yang sangat baik.
Ia tidak pernah membentak bawahan.
Ia tidak pernah membuat rapat tegang.
Ia tidak pernah membuat pejabat lain tidak nyaman.
Banyak orang menyukainya.
Suatu hari, seorang pegawai muda memberanikan diri bertanya kepada seniornya di kantin.
“Pak,” katanya pelan,
“kenapa masalah kita tidak pernah benar-benar selesai?”
“Maksudmu?”
“Angka kemiskinan kita selalu tertinggi. Sampah tetap jadi masalah. Banjir jadi pengunjung rutin,” jawab si pegawai muda.
Pejabat senior itu tersenyum tipis sambil mengaduk kopi.
“Karena kita semua terlalu baik.”
Pegawai muda itu bingung.
Pejabat senior melanjutkan:
“Di kantor ini, semua orang ingin terlihat baik.
Tidak ada yang ingin membuat orang lain tidak nyaman.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan:
“Padahal perubahan hampir selalu dimulai dari ketidaknyamanan.”
Menjadi kepala daerah yang baik memang penting.
Pemimpin yang kasar hanya akan menimbulkan ketakutan.
Pemimpin yang arogan hanya akan melahirkan jarak.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan dalam dunia kekuasaan:
kebaikan tanpa keberanian hanya melahirkan kenyamanan.
Dan kenyamanan yang terlalu lama sering berubah menjadi status quo.
Sebuah daerah tidak maju hanya karena pemimpinnya santun dan ramah.
Ia maju karena pemimpinnya berani memperbaiki sistem yang salah.
Berani menertibkan yang tidak tertib.
Berani mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu disukai.
Karena pada akhirnya sejarah daerah tidak mencatat siapa kepala daerah yang paling banyak tersenyum di foto.
Sejarah hanya mencatat satu hal sederhana:
siapa yang membuat daerahnya berubah.
Dan itulah perbedaan paling sunyi dalam kepemimpinan.
Antara menjadi kepala daerah yang baik,
atau menjadi kepala daerah yang berdampak.
Kadang keduanya bisa berjalan bersama.
Namun jika harus memilih, masyarakat biasanya lebih membutuhkan yang kedua.
Karena drainase yang rusak tidak akan jadi mulus hanya dengan santun dan senyum. (AS)



