SWAKKA Gaspol Skill Jurnalistik Digital

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Komunitas Media SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif) kembali tancap gas. Hari ini, Sabtu (4/4/2026), SWAKKA menggelar pelatihan Web Management Optimization—istilah populer di dunia IT untuk menggambarkan peningkatan performa dan pengelolaan website media.
Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan kampus Pesantren Almuniroh, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, dan diikuti oleh perwakilan media online anggota SWAKKA. Suasananya serius tapi santai—ngoding dikit, diskusi banyak, kopi tetap jalan.
Ketua Presidium SWAKKA, Ahmad Muhlis, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi peningkatan kapasitas media lokal agar mampu bersaing di era digital yang makin “kejam” bagi yang lambat beradaptasi.
“Media online itu tidak cukup hanya kuat di jurnalistik. Harus ditopang juga dengan penguasaan IT. Dua bidang ini ibarat dua kaki—kalau satu lemah, ya jalannya pincang,” ujar Ahmad Muhlis.
Ia juga mengungkapkan bahwa meski sebagian besar media anggota SWAKKA tergolong baru, namun di dalamnya ada beberapa wartawan senior yang sudah berpengalaman lebih dari 25 tahun di dunia jurnalistik.
“Secara platform boleh baru, tapi ‘isi dapurnya’ bukan pemain baru. Ini kekuatan yang harus dishare ke anggota lain,” katanya.
Sejak dideklarasikan pada 12 Februari 2026, SWAKKA berkembang cukup pesat. Hingga kini, tercatat 18 media online telah bergabung, tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Sukabumi, Ciamis, Kota Tasikmalaya, hingga Kabupaten Tasikmalaya.
Pelatihan ini merupakan agenda rutin bulanan SWAKKA yang difokuskan pada peningkatan kapasitas, baik kelembagaan media maupun kemampuan individu, khususnya dalam aspek teknis IT.
Menurut Ahmad Muhlis, tantangan media saat ini bukan hanya soal menyajikan berita cepat dan akurat, tetapi juga bagaimana mengelola website secara optimal—mulai dari kecepatan akses, struktur SEO, hingga pengalaman pengguna.
“Kalau beritanya bagus tapi websitenya lemot, ya pembaca kabur. Ini realita digital hari ini,” ujarnya.
Selain pelatihan, kegiatan hari ini juga dirangkaikan dengan halalbihalal serta diskusi program kerja SWAKKA ke depan. Salah satu fokus yang dibahas adalah pengembangan keanggotaan dari kalangan konten kreator.
Selama ini, keanggotaan SWAKKA masih didominasi wartawan. Padahal, sesuai namanya, SWAKKA diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara wartawan dan konten kreator.
“Ke depan, kita dorong konten kreator untuk lebih aktif bergabung. Ekosistem media digital itu tidak bisa berdiri sendiri,” kata Ahmad Muhlis.
Selain itu, SWAKKA juga tengah menyiapkan program besar bertajuk “Penerbitan Buku 81 Cara Mencintai Indonesia, dari Priangan Timur untuk Indonesia” yang akan melibatkan berbagai tokoh dan kontributor daerah.
Dengan kombinasi pelatihan teknis, penguatan jaringan, dan program kreatif, SWAKKA tampaknya tidak ingin sekadar jadi komunitas biasa. Mereka ingin naik kelas—dari sekadar kumpul jadi kekuatan baru di ekosistem media digital.
Dan satu hal yang pasti: di era sekarang, kalau media belum melek IT, siap-siap saja ditinggal pembaca. (AS)





