Berita Tasikmalaya

Siap Terbit, Buku Berisi Pesan Nasionalisme dari 81 Tokoh Tasikmalaya dan Ciamis

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di berbagai belahan bumi, konflik bersenjata terus berlangsung tanpa jeda. Perang Rusia dan Ukraina yang dimulai sejak 2022 belum menemukan titik akhir. Di Timur Tengah, konflik di Gaza kembali memicu krisis kemanusiaan yang menyita perhatian dunia. perang Iran vs Israel dan AS juga entah kapan akan mereda. Ketegangan geopolitik, rivalitas kekuatan besar, hingga ancaman disintegrasi menjadi kenyataan yang tak bisa lagi dianggap jauh dari kehidupan kita.

Situasi ini seharusnya menjadi pengingat: tidak ada satu negara pun yang benar-benar kebal dari potensi konflik, termasuk Indonesia. Anggapan bahwa negeri ini akan selalu aman, tanpa upaya serius menjaga persatuan, adalah optimisme yang bisa menyesatkan.

Di tengah dinamika global tersebut, Indonesia justru dihadapkan pada tantangan dari dalam. Wawasan kebangsaan generasi muda faktanya menunjukkan gejala penurunan. Masih ada pelajar yang terbata-bata saat diminta mengucapkan Pancasila. Sebuah hal yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: melemahnya keterhubungan emosional dengan identitas kebangsaan.

Padahal, bangsa ini berdiri di atas fondasi yang kokoh: nilai-nilai kearifan lokal, sejarah panjang perjuangan, serta warisan budaya yang membentuk karakter Indonesia. Dari sanalah lahir nasionalisme, yang kemudian tumbuh menjadi patriotisme. Tanpa itu, bangsa hanya akan menjadi sekumpulan orang yang tinggal di wilayah yang sama, tanpa ikatan yang kuat.

Dari kegelisahan itulah sebuah ikhtiar kecil lahir dari ruang redaksi Lintas Priangan. Sebuah buku berjudul “81 Cara Mencintai Indonesia” tengah disiapkan, bukan sekadar sebagai kumpulan tulisan, tetapi sebagai ruang bersama untuk merekam cara-cara sederhana namun bermakna dalam mencintai tanah air.

Buku ini akan menghadirkan suara dari 81 tokoh yang berasal dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis. Mereka datang dari latar belakang yang beragam: tokoh agama, birokrat, akademisi, pengusaha, hingga pegiat masyarakat. Setiap orang membawa cerita, pengalaman, dan cara pandangnya sendiri tentang Indonesia.

“Buku ini ingin menunjukkan bahwa mencintai Indonesia itu tidak harus berarti angkat senjata dalam situasi konflik. Setiap orang punya cara, sesuai dengan peran dan kapasitasnya,” ujar Hasan Soleh, Project Manager penerbitan buku tersebut.

Menurut Hasan, keberagaman latar belakang para tokoh justru menjadi kekuatan utama buku ini. Dari ruang kelas hingga ruang ibadah, dari kantor pemerintahan hingga ladang dan pasar, semuanya memiliki kontribusi dalam merawat Indonesia.

Beberapa nama dari Kota Tasikmalaya yang telah tercatat antara lain KH. Miftah Fauzi, H. Amir Mahpud, H. Syarif Hidayat, H. Dede Sudrajat, H. Budi Budiman, H. Ivan Dicksan, H. Aslim, Kang Diky Candra, Kang Noves Narayana, Kang Nanang Nurjamil, Kang Agustiana, dan H. Sigit Wahyu Nandika. Sementara nama dari Kabupaten Tasikmalaya, ada nama KH Asep Ahmad Maoshul, KH Atam Rustam, serta Erry Purwanto. Untuk Kabupaten Ciamis, ada nama Ang Icep, H. Roni Karno, Heri Dermawan, Didi Sukardi, dan Ajengan Nonop.

“Totalnya 81 tokoh, sedang kita kembangkan terus. Angka 81 ini berkaitan dengan momentum 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia. Insha Alloh, kita sudah buat timeline, buku ini akan launching bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 Agustus,” terang Hasan.

Nama-nama tersebut di atas hanyalah sebagian dari upaya merangkai mosaik pemikiran yang lebih besar. Dalam prosesnya, kepala daerah, sekretaris daerah, hingga sejumlah pejabat ASN juga akan diajak terlibat, dengan harapan memperkaya perspektif yang dihadirkan.

Proses penyusunan buku ini dilakukan melalui wawancara mendalam oleh tim dari Lintas Priangan. Hasil percakapan tersebut kemudian diolah menjadi artikel, sehingga setiap gagasan tidak hanya terdengar, tetapi juga terdokumentasi dengan baik.

“Ini bukan hanya buku. Ini adalah dokumentasi pemikiran tokoh daerah, tentang bagaimana mereka memaknai dan menjalankan cinta kepada Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,” kata Hasan.

Penerbitan buku diinisiasi oleh media online Lintas Priangan, yang dalam pelaksanaannya akan bekolaborasi dengan Komunitas Media SWAKKA, dan Yayasan Albadar. Rencananya, buku akan diproduksi dalam dua format: cetak dan digital. Versi eBook akan disebarluaskan secara gratis, termasuk melalui platform Google Play Books, agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Sementara itu, buku cetak akan didistribusikan ke berbagai lembaga pemerintah dan nonpemerintah di wilayah Priangan Timur, sebagai bagian dari upaya memperluas dampak gagasan yang dihimpun.

“Tentunya, buku ini akan diproses secara profesional, memiliki nomor ISBN dari Perpustakaan Nasional,” tambah Hasan.

Produksi buku dijadwalkan dimulai pada April 2026, dengan target peluncuran pada Agustus 2026. Namun lebih dari sekadar tanggal rilis, buku ini membawa harapan yang lebih besar, bahwa di tengah dunia yang semakin gaduh, setiap kita harus menyisakan ruang untuk merawat Indonesia. (AS)

Related Articles

Back to top button