Ade Hendar: SEABlings dan Status WNI Memicu Patriotisme Indonesia

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Gelombang “perang digital” antara SEABlings dan Knetz hingga polemik “Biar Aku Saja yang Jadi WNI” bukan sekadar riuh media sosial. Bagi Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., dua peristiwa itu justru memperlihatkan denyut nasionalisme generasi muda Indonesia yang masih kuat—meski ekspresinya kini berpindah ke ruang digital.
Dalam wawancara khusus dengan Lintas Priangan, Senin (23/02/2026, Ade Hendar menyebut dinamika tersebut sebagai fenomena sosial yang perlu dibaca secara utuh, tidak sepotong-potong.
“Kadang yang terlihat hanya debatnya. Padahal di balik itu ada rasa memiliki terhadap bangsa. Itu yang perlu kita rawat, bukan malah dipadamkan,” ujarnya.
Kronologi SEABlings vs Knetz
Istilah “SEABlings” mencuat sebagai representasi warganet Asia Tenggara—termasuk Indonesia—yang aktif dalam percakapan global budaya pop, terutama K-Pop. Sementara “Knetz” merujuk pada Korean netizens yang kerap vokal di forum daring.
Gesekan bermula dari komentar-komentar bernada meremehkan terhadap penggemar Asia Tenggara di sejumlah platform. Respons cepat muncul. Warganet Indonesia, bersama netizen kawasan lain, membalas dengan kritik, meme, hingga tagar nasionalistik. Algoritma bekerja cepat. Narasi membesar. Timeline memanas.
Bagi Ade Hendar, peristiwa itu memperlihatkan dua sisi.
“Di satu sisi, ini bentuk solidaritas. Ketika merasa direndahkan, anak muda kita bersatu. Itu refleks kebangsaan. Tapi di sisi lain, jangan sampai berubah menjadi sentimen yang kontraproduktif,” katanya.
Ia menilai patriotisme era digital tidak lagi hadir dalam bentuk konvensional. Ia lahir dalam meme, thread, video pendek, bahkan debat panas. Namun esensinya tetap sama: menjaga harga diri kolektif.
“Nasionalisme hari ini memang tidak selalu berdiri di podium. Kadang berdiri di kolom komentar,” ujarnya, setengah tersenyum.
Halaman selanjutnya: “Biar Aku Saja yang Jadi WNI”



