Berita TasikmalayaWawar

Pengamen Anak Sekitar Masjid Agung Tasikmalaya, Pemerintah ke Mana?

lintaspriangan.com, WAWAR. Saya Hery, warga Kota Tasikmalaya. Usia saya 40 tahun. Saya dan istri, Ani, baru sekitar tiga bulan menikah. Seperti banyak warga lainnya, kami menikmati suasana pusat kota di akhir pekan. Salah satu tempat yang kerap kami datangi adalah kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya.

Hampir setiap pekan, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar alun-alun. Kadang hanya untuk shalat berjamaah, kadang juga sambil menikmati kuliner sederhana di rumah makan sekitar masjid. Bagi kami, Masjid Agung Tasikmalaya bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang publik yang seharusnya memberi rasa nyaman, teduh, dan aman—baik bagi warga lokal maupun pendatang dari luar kota.

Namun pengalaman yang kami alami pada Minggu malam, 8 Februari 2026, cukup membuat kami terusik. Sekitar pukul 20.45 WIB, kami duduk di salah satu rumah makan di sekitar Masjid Agung Tasikmalaya untuk menikmati bubur kacang hijau. Baru sekitar 15 menit kami duduk, sudah tiga pengamen datang silih berganti ke meja kami.

Yang membuat kami merasa tidak nyaman, bukan sekadar soal jumlahnya, tetapi kondisi para pengamen tersebut. Satu di antaranya adalah seorang pria yang tampak bisu atau berlagak bisu. Ia mencoba bernyanyi dengan gitar kecil, namun yang terdengar hanya suara “euu… euu… euu” tanpa lirik dan tanpa komunikasi yang jelas. Dua pengamen lainnya adalah anak-anak usia sekolah dasar—satu perempuan dan satu laki-laki.

Yang membuat kami benar-benar bertanya-tanya, saat itu hampir pukul 21.00 WIB. Anak-anak usia SD seharusnya sudah berada di rumah, belajar atau beristirahat, bukan berada di jalanan untuk mengamen atau mengemis. Lebih mengkhawatirkan lagi, kami merasa sering melihat anak-anak pengamen yang sama di sekitar Masjid Agung Tasikmalaya. Artinya, ini bukan kejadian satu atau dua kali, melainkan fenomena yang berulang.

Pertanyaan kami sederhana: apakah Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak mengetahui kondisi ini? Atau mengetahui, tetapi memilih membiarkannya?

Masjid Agung Tasikmalaya adalah salah satu ikon kota. Banyak pelintas dari luar daerah sengaja singgah untuk beribadah, beristirahat, atau sekadar menikmati suasana kota santri. Ketika kawasan masjid dipenuhi pengamen, terutama anak-anak, tentu hal ini akan memengaruhi kenyamanan pengunjung dan pada akhirnya berdampak pada citra Kota Tasikmalaya itu sendiri.

Kami menulis surat ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, apalagi menghakimi. Kami hanya ingin menyampaikan kegelisahan sebagai warga. Anak-anak seharusnya dilindungi, dibina, dan diarahkan, bukan dibiarkan mencari uang di malam hari. Sementara ruang publik di sekitar Masjid Agung Tasikmalaya seharusnya dikelola dengan lebih tertib dan manusiawi.

Harapan kami, pemerintah kota tidak diam. Kehadiran petugas, penanganan sosial yang tepat, serta solusi yang berkelanjutan sangat kami nantikan. Agar Masjid Agung Tasikmalaya benar-benar menjadi tempat yang nyaman, bermartabat, dan membanggakan bagi semua. (HS)

Berita Tasikmalaya lainnya:

Related Articles

Back to top button