Pasukan Ki Lanang “Ngabesuk Kota Tasikmalaya”

Ngabesuk Kota dan Ujian Keseriusan Tata Kelola
Di sela kegiatan, sejumlah warga berhenti menonton. Ada yang ikut membantu, ada pula yang sekadar mengamati. Reaksi beragam itu justru memperlihatkan satu hal: Ngabesuk Kota sedang mengetuk kesadaran bersama.
Masalah kebersihan kota bukan lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari kebiasaan membuang sembarangan, dari pengawasan yang kadang longgar, dan dari sistem yang belum sepenuhnya terintegrasi. Ketika susukan tersumbat, yang meluap bukan hanya air—tetapi juga kritik.
Ngabesuk Kota seolah menjadi kritik yang dibungkus budaya. Ia tidak menyalahkan. Ia mengajak. Namun ajakan itu sekaligus menjadi cermin bagi tata kelola. Sebab partisipasi publik akan tumbuh jika kebijakan berjalan tegas dan berkelanjutan.
Pembangunan fisik sering kali tampak lebih mudah dipamerkan. Foto sebelum dan sesudah bisa langsung diunggah. Namun perawatan jangka panjang jarang mendapat panggung. Padahal, di situlah keseriusan diuji. Infrastruktur tanpa budaya rawat hanya akan menjadi beban anggaran berikutnya.
Ngabesuk Kota mengajarkan bahwa kota bukan hanya milik pemerintah, bukan pula milik komunitas budaya semata. Ia milik bersama. Dan milik bersama selalu menuntut tanggung jawab bersama.
Barangkali gerakan ini tidak langsung mengubah wajah kota dalam sehari. Tapi ia menanamkan sesuatu yang lebih penting: kesadaran. Bahwa budaya tidak berhenti di panggung. Ia hidup di selokan, di susukan, di ruang-ruang yang sering luput dari perhatian.
Dan ketika budaya sudah berani menyentuh lumpur, mungkin di situlah kota mulai benar-benar belajar bersih—bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam komitmen tata kelolanya. (AS)



