Pasukan Ki Lanang “Ngabesuk Kota Tasikmalaya”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Minggu pagi (22/2/2026) di depan Pendopo Alun-Alun Kota Tasikmalaya tak hanya diisi derap langkah warga yang berolahraga. Di antara sapaan dan senyum, sekelompok orang memegang cangkul, sekop, dan karung. Mereka tak datang untuk pentas budaya. Mereka datang untuk membersihkan susukan.
Gerakan itu diberi nama Ngabesuk Kota—Ngabersihan Susukan Kota—diinisiasi Komite Adat Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya. Nama yang sederhana, tapi sarat makna. Ngabesuk, dalam rasa bahasa Sunda, bukan hanya membersihkan. Ia mengandung nuansa merawat, menyentuh, dan mengurus dengan kesadaran.
Tak ada panggung megah. Tak ada sorotan lampu. Yang terdengar hanya bunyi air, gesekan sekop dengan lumpur, dan percakapan ringan di sela kerja. Namun di balik itu, ada pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar aksi bersih-bersih.
Kota sering berbicara tentang pembangunan, pertumbuhan, dan wajah modern. Namun Ngabesuk Kota mengingatkan bahwa ukuran kemajuan bukan hanya gedung dan taman tematik. Ia juga tentang bagaimana saluran air dirawat, bagaimana ruang publik dijaga, dan bagaimana warga merasa memiliki kota ini.
Ketua Komite Adat Budaya Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, DKKT, Ki Lanang, menyampaikan bahwa budaya tidak boleh berhenti pada seremoni. Budaya, katanya, harus hadir dalam tindakan sehari-hari. Dan pagi itu, budaya benar-benar turun ke susukan—bukan dalam bentuk tari atau tabuhan, melainkan kerja tangan yang menyentuh lumpur.
Ngabesuk Kota menjadi simbol kecil yang memantik pertanyaan besar: sejauh mana kebijakan kebersihan dijalankan secara konsisten? Apakah gerakan ini akan menjadi budaya kolektif, atau hanya momentum sesaat? Sebab kota yang sehat tak lahir dari seremoni, melainkan dari kebiasaan.
Halaman selanjutnya: Ngabesuk Kota Tasikmalaya dan Usian Keseriusan



