Membaca Kelemahan Pesan Wali Kota dalam Polemik THR ASN Kota Tasikmalaya

3. Janji Tanpa Kepastian Waktu
“Sisa THR akan segera dituntaskan setelah Hari Raya Idul Fitri”
Inilah bagian paling krusial. Kata “segera” terlihat sederhana, tetapi dalam komunikasi publik, ia sangat problematis. Kata ini tidak memiliki batas waktu yang jelas dan tidak bisa diverifikasi.
Dalam komunikasi krisis, tujuan utama pesan adalah mengurangi ketidakpastian. Namun penggunaan kata “segera” justru mempertahankan ketidakpastian tersebut. Publik tidak tahu kapan pembayaran akan benar-benar dilakukan.
Kalimat ini jelas-jelas tidak memenuhi aspek clarity (kejernihan). Informasi yang disampaikan tidak cukup konkret untuk dijadikan pegangan.
Masalahnya bukan pada niat, tetapi pada ketidakjelasan:
- tidak ada tanggal
- tidak ada batas waktu
- tidak ada ukuran keberhasilan
Dalam komunikasi krisis, pesan harus sederhana sekaligus jelas. Di sini, kesederhanaan justru mengorbankan kejelasan.
Versi yang lebih kuat:
“Sisa THR akan dibayarkan paling lambat tanggal [X], sesuai dengan target penerimaan kas daerah.”
Dari tiga kalimat tersebut, terlihat pola yang sama: pesan sudah disusun hati-hati, tapi tidak mendalam dikaji. Ini produk satu-dua jam birokrasi, dan lemah dari perspektif komunikasi publik, terlebih dalam situasi krisis.
Dalam polemik THR ASN Kota Tasikmalaya, persoalan bukan hanya pada keterlambatan pembayaran, tetapi pada bagaimana pemerintah menjelaskan situasi tersebut. Ketika pesan tidak jelas, publik akan mengisi kekosongan dengan tafsirnya sendiri.
Pada akhirnya, komunikasi publik bukan sekadar soal menyampaikan informasi. Ia adalah soal membangun kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari kalimat yang terbaca dan terdengar baik, tetapi dari kalimat yang jelas, jujur, dan dapat diuji.
Pesan singkat dari redaksi untuk Wali Kota Tasikmalaya:
“Pak Wali Kota, komunikasi itu bukan pelengkap, tapi penentu!”



