Membaca Kelemahan Pesan Wali Kota dalam Polemik THR ASN Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Polemik THR ASN Kota Tasikmalaya tidak hanya berbicara soal keterlambatan pembayaran. Di balik itu, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: bagaimana pemerintah mengomunikasikan situasi krisis kepada publiknya sendiri. Dalam konteks ini, pesan yang disampaikan Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, bukan sekadar informasi, tetapi juga cerminan kualitas komunikasi publik.
Dalam kajian komunikasi krisis, ada prinsip dasar yang tidak bisa diabaikan. Ketika krisis terjadi, organisasi harus terlebih dahulu mengakui masalah, menunjukkan empati, lalu memberikan penjelasan yang jelas. Urutan ini penting untuk membangun kepercayaan sejak awal. Karena jika bagian awal saja tidak kuat, maka pesan berikutnya akan sulit dipercaya.
Kasus THR ASN Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya pada kebijakan, tetapi juga pada cara menyampaikannya. Setidaknya, ada tiga kalimat kunci yang justru menjadi titik lemah dalam pesan tersebut.
1. Kalimat Pembuka yang Tidak Menyebut Masalah
“Sebuah Penjelasan dan Komitmen Kami bagi Kesejahteraan ASN”
Kalimat ini terlihat formal, tetapi tidak langsung menyentuh inti persoalan. Tidak ada penyebutan tentang keterlambatan THR, tidak ada pengakuan bahwa ada masalah yang sedang terjadi.
Dalam perspektif framing theory (Entman, 1993), pembuka seharusnya mendefinisikan masalah secara jelas. Namun di sini, isu konkret justru digantikan dengan istilah yang luas seperti “kesejahteraan ASN”. Akibatnya, pesan menjadi tidak fokus.
Kelemahan utama kalimat di atas ada pada urutan. Pesan langsung masuk ke “penjelasan”, tanpa diawali pengakuan masalah. Padahal, pengakuan adalah pintu masuk kepercayaan. Ingat, komunikasi krisis itu harus seperti ini urutannya: mengakui masalah, menunjukkan empati, lalu memberikan penjelasan yang jelas, sebagaimana diulas di awal editorial ini.
Dampaknya sederhana:
- publik tidak langsung memahami konteks
- pesan terasa defensif (sekadar bela diri)
- kepercayaan tidak terbentuk sejak awal
Versi yang lebih kuat seharusnya langsung menyebut inti persoalan, misalnya:
“Permohonan maaf atas belum terpenuhinya pembayaran penuh THR ASN Kota Tasikmalaya, berikut penjelasan serta langkah penyelesaiannya.”
Halaman selanjutnya: Kalimat Kedua



